Riauterkini - PEKANBARU - PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) terus melanjutkan pembangunan Proyek Tol Lingkar Pekanbaru. Pembangunan proyek ini didukung dengan penerapan sejumlah teknologi konstruksi yang mengintegrasikan seluruh tahapan pelaksanaan proyek, sehingga setiap proses dapat berjalan secara akurat dan efisien.
Sekretaris Perusahaan HKI, Resnu Aditya Wuladarman, menyampaikan bahwa implementasi teknologi tersebut dimulai sejak tahap perencanaan melalui penggunaan Building Information Modeling (BIM).
“BIM tidak hanya digunakan sebagai media visualisasi 3D, tetapi diterapkan secara terintegrasi mulai dari 2D, 3D, 4D, 5D, hingga 7D. Melalui satu model digital yang saling terhubung, informasi proyek seperti gambar teknik, tahapan konstruksi, biaya, hingga data aset dapat dikelola lebih efektif, sehingga koordinasi, deteksi konflik desain, dan pengambilan keputusan menjadi lebih cepat serta akurat,” ujar Resnu.
Selain itu, penerapan teknologi di Proyek Tol Lingkar Pekanbaru juga dilakukan melalui penggunaan Common Data Environment (CDE) dan Digital Survey, yang mendorong kolaborasi serta pengendalian pekerjaan menjadi lebih efektif, transparan, dan akuntabel. Melalui CDE, seluruh dokumen, gambar kerja, revisi, dan hasil koordinasi dikelola dalam satu platform digital yang dapat diakses secara real-time sesuai kewenangan, sehingga seluruh tim dapat bekerja menggunakan data yang sama dan terbaru.
Sementara itu, Digital Survey melalui fotogrametri drone digunakan untuk pengukuran dan verifikasi progres pekerjaan timbunan secara cepat, akurat, dan terdokumentasi. Teknologi ini juga menjadi dasar perhitungan volume serta penyusunan progress pembayaran yang lebih objektif.
“Sinergi antara BIM, CDE, dan Digital Survey membentuk sebuah ekosistem digital yang saling terhubung. Data hasil survei dan opname lapangan dapat dimanfaatkan untuk memvalidasi kondisi aktual terhadap model BIM, sementara seluruh dokumen dan informasi pendukung dikelola melalui CDE sehingga dapat diakses oleh seluruh stakeholder secara cepat dan terkendali. Integrasi ini menciptakan alur kerja yang lebih efisien, meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, serta memperkuat koordinasi pada setiap tahapan proyek,” imbuh Resnu.
Penerapan teknologi konstruksi di Proyek Tol Lingkar Pekanbaru juga turut mendorong percepatan pekerjaan di lapangan. Per akhir Juni 2026, progres pembangunan tol ini telah mencapai 77% dan direncanakan akan selesai pada Februari 2027.
Melalui berbagai inovasi digital tersebut, Proyek Tol Lingkar Pekanbaru memperkuat budaya kerja yang adaptif, produktif, dan berbasis data. Penerapan teknologi ini menjadi strategi untuk meningkatkan kualitas konstruksi, transparansi, serta efektivitas tata kelola proyek, sekaligus mendukung pembangunan infrastruktur yang modern, efisien, berkelanjutan, dan sejalan dengan penerapan smart construction di lingkungan HKI. ***(mok)