Riauterkini-PEKANBARU-Rintik Sedu, nama pena yang telah melekat pada penulis buku berjudul Musim yang Tak Sempat Kita Miliki untuk pertama kalinya mendatangi Kota Bertuah, Sabtu (14/02/26). Penulis yang memiliki nama asli Nadhifa Allya Tsana tersebut resmi melaunching buku hasil karyanya di Gramedia Pekanbaru sekaligus menyapa para penggemarnya.
Di sela kesempatannya, Rintik Sedu mengisahkan judul buku Musim yang Tak Sempat Kita Miliki itu sendiri terinspirasi saat dirinya sedang berada di negara Jepang. Wanita mungil berjilbab itupun mengaku ketika di Negeri Sakura tersebut, ia ingin sekali merasakan musim gugur, musim yang tak pernah ia rasakan di Indonesia.
Namun sesampainya di Jepang, Rintik Sedu tak dapat merasakan suasana musim gugur yang diinginkannya dan justru mendapati musim dingin bersalju. Seiring berjalannya waktu, tepat ketika sedang bersantai di sebuah cafe, ia pun kepikiran akan suatu hal, yakni keinginan yang hanya bisa dirasakan tapi tak bisa dimiliki.
"Waktu itu lagi duduk-duduk di cafe, aku tuh ngincar musim gugur tapi nggak pernah dapat. Pas di sana (Jepang) selalu musim dingin. Terus tiba-tiba kepikiran, apapun itu musimnya, selamanya aku cuma tahu rasanya, tapi aku nggak bisa memilikinya karena aku nggak tinggal di sana (Jepang). Jadi dari pengalaman itulah lahir judul Musim yang Tak Sempat Kita Miliki," kisahnya di hadapan para penggemar dan pembaca buku setianya.
Rintik Sedu mengatakan, kedatangannya ke Pekanbaru dan Bumi Lancang Kuning juga merupakan yang pertama kalinya. Dia bahkan mengaku senang dan deg-degan bisa bertemu dengan penggemarnya saat melaunching buku ke-11 hasil karyanya tersebut. Sebelum merilis bukunya di Pekanbaru, buku itu lebih dulu dilaunching di tiga kota besar, Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.
"Kenapa milih Pekanbaru, menurut aku Pekanbaru ini ramai banget. Biasanya kan aku selalu menjangkau tempat-tempat yang dekat, nah jadi aku ke sini (Pekanbaru) pengen meraih yang lebih jauh dari biasanya. Buku (Musim yang Tak Sempat Kita Miliki) ini rilis pertama di Blok M Jakarta, kemudian Bandung, Yogyakarta dan Pekanbaru," sebutnya.
Dia menjelaskan, buku ke-11 yang ditulisnya itu sendiri menceritakan karakter bernama Rani, seorang editor yang bekerja di sebuah kantor penerbitan. Melalui karakter Rani itulah, Rintik Sedu membahas isu-isu yang cukup dekat dengan lingkungannya, penggemarnya ataupun pembacanya. Bahkan di buku itu jugalah, Rintik Sedu menggambarkan bagaimana kondisi seseorang yang pernah menjadi second choice (pilihan kedua).
"Satu istilah itu cukup menjadi keresahanku selama ini. Hampir semua orang pasti ada masanya di titik itu. Menjadi opsi ke dua dalam sebuah percintaan. Jadi buku ini aku rilis juga sekaligus untuk merayakan kisah orang-orang yang pernah menjadi second choice. Lewat karakter bernama Rani, ada bagian masa lalu aku yang perlu dituntaskan," tuturnya.
Rintik Sedu juga menyebutkan bukunya berjudul Musim yang Tak Sempat Kita Miliki tersebut dibuat dengan estimasi waktu satu setengah tahun, termasuk proses editing dan lain-lainnya. Selain menceritakan kisah kehidupan menjadi second choice, kata dia lagi, di buku itu dirinya juga banyak membahas tentang parfum.
"Rani juga menceritakan satu buku tentang parfum. Menurut aku, banyak orang yang mempunyai momen dan kenangan dalam sebuah botol parfum. Terkait rilis buku ini, aku nggak punya target signifikan, karena yang terpenting adalah bagaimana buku ini bisa diterima oleh masyarakat luas. Aku senang membaca kritik dan masukan dari pembaca. Aku terbuka untuk itu dan setiap kritikan dan masukan selalu jadi pelajaran penting untuk aku," tutupnya mengakhiri.***(gas)