Riauterkini - PEKANBARU - Aksi unjuk rasa Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Riau (BEM Unri) di Kantor Gubernur Riau, Jalan Cut Nyak Dien, Pekanbaru, Rabu (12/8/26), sempat memanas. Massa mahasiswa berupaya mendorong dan menjebol pagar kantor gubernur, namun aksi tersebut berhasil dicegah aparat gabungan.
Situasi memanas ketika mahasiswa merangsek ke arah pagar sambil melakukan dorongan. Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang dibantu aparat kepolisian kemudian bergerak menghadang massa dan membentuk barisan untuk menutup akses menuju halaman kantor gubernur.
Dorong-dorongan antara mahasiswa dan petugas pun tak terhindarkan. Meski demikian, aparat berupaya mengendalikan situasi agar aksi tidak berkembang menjadi tindakan anarkis.
Dari dalam pagar, aparat kepolisian berulang kali mengimbau mahasiswa melalui pengeras suara agar tetap tertib dan tidak melakukan tindakan anarkis.
“Kami mengimbau rekan-rekan mahasiswa untuk tetap menyampaikan aspirasi dengan tertib dan tidak melakukan tindakan anarkis,” demikian imbauan yang disampaikan aparat.
Di tengah situasi tersebut, pasukan pengendali massa dari unsur Sabhara juga terlihat telah bersiaga dengan perlengkapan lengkap.
Sementara itu, mahasiswa tetap bertahan di luar pagar dan meminta Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto turun menemui mereka untuk mendengarkan langsung aspirasi yang disampaikan.
Soroti Karhutla hingga Abrasi
Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Arya Faturahman, menyampaikan sejumlah persoalan yang menjadi tuntutan mahasiswa. Salah satunya terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menjadi persoalan di Riau.
Mahasiswa meminta pemerintah bertindak tegas terhadap pelaku karhutla tanpa tebang pilih. Mereka juga menilai masyarakat kecil, khususnya petani, jangan sampai menjadi pihak yang dikorbankan dalam penegakan hukum.
“Persoalan karhutla harus segera ditangani. Penegakan hukum jangan tebang pilih. Jangan sampai rakyat kecil seperti petani justru menjadi korban untuk kepentingan tertentu,” kata Arya.
Selain karhutla, mahasiswa menyoroti persoalan abrasi yang terjadi di sejumlah wilayah pesisir Riau. Menurut mereka, abrasi telah berlangsung dalam waktu lama dan semakin mengkhawatirkan karena mengancam lahan, rumah warga hingga perkebunan.
“Abrasi sudah sangat mengkhawatirkan. Sudah banyak lahan, rumah warga dan perkebunan yang hilang akibat abrasi. Persoalan ini sudah lama dikeluhkan masyarakat, tetapi perhatian pemerintah dinilai masih minim,” ujarnya.
Persoalan beasiswa juga menjadi perhatian mahasiswa dalam aksi tersebut. Mereka mendesak pemerintah segera mencairkan beasiswa yang menjadi hak mahasiswa.
Massa aksi berharap tuntutan yang disampaikan tidak sekadar diterima sebagai aspirasi, tetapi segera ditindaklanjuti pemerintah dengan langkah konkret.
Hingga aksi berlangsung, mahasiswa masih bertahan di sekitar pagar Kantor Gubernur Riau dan meminta SF Hariyanto menemui mereka secara langsung. ***(mok)