Riauterkini-PEKANBARU - Sosok Rektor Universitas Riau (Unri) periode 2026-2030 diharapkan tidak hanya menjadi administrator kampus, tetapi juga mampu tampil sebagai agent of change atau agen perubahan yang membawa universitas lebih berdaya saing dan responsif terhadap berbagai persoalan masyarakat.
Pandangan itu disampaikan akademisi Universitas Riau, Asc. Prof. Dr. Haris Gunawan, MSc, saat dimintai tanggapannya terkait sosok ideal yang layak memimpin kampus terbesar di Riau tersebut untuk empat tahun ke depan.
Menurut Haris, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang harus tetap kritis, independen, dan mampu menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
"Kampus harus tetap menjadi agent of change. Kita adalah bagian dari komunitas ilmiah yang memiliki tanggung jawab memberikan contoh, gagasan, dan solusi terintegrasi bagi masyarakat. Karena itu, rektor harus mampu menjaga independensi akademik sekaligus mendorong lahirnya inovasi-inovasi baru," ujarnya.
Namun demikian, Haris menilai mewujudkan perubahan di lingkungan perguruan tinggi bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan konsistensi kebijakan, keberlanjutan program, serta waktu yang memadai agar berbagai agenda strategis kampus dapat diwujudkan secara optimal.
Menurutnya, membangun budaya akademik yang kuat, meningkatkan kualitas riset, memperluas jejaring kerja sama, hingga memperkuat posisi Unri sebagai rujukan dalam penyelesaian persoalan daerah merupakan pekerjaan besar yang memerlukan proses panjang.
Karena itu, dalam konteks pembangunan institusi, kepemimpinan yang memiliki ruang waktu lebih panjang dinilai akan lebih leluasa dalam memastikan program-program perubahan berjalan hingga tuntas dan tidak berhenti di tengah jalan.
"Setiap kesempatan kepemimpinan harus digunakan secara maksimal. Perubahan kampus tidak bisa hanya berpikir jangka pendek. Dibutuhkan kesinambungan agar visi besar yang dirancang benar-benar bisa diwujudkan," katanya.
Selain fokus pada penguatan akademik, Haris juga mendorong agar rektor mendatang memberi perhatian lebih besar terhadap pengembangan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis kepada mahasiswa melalui kegiatan non-akademik. Menurutnya, kampus harus menjadi ruang yang hidup dengan berbagai seminar, diskusi, dialog publik, hingga forum-forum pertukaran gagasan yang melibatkan mahasiswa secara aktif.
"Saya ingin kampus benar-benar laboratorium hidup (Living Laboratory). Banyak agenda seminar, diskusi, ruang perbedaan pendapat untuk mahasiswa mengembangkan diri. Jangan sampai kampus terjebak pada rutinitas dan sibuk dengan urusan akademik semata," tegasnya.
Sebagai akademisi yang selama ini banyak berkecimpung dalam isu pesisir, terutama gambut, dan mangrove, Haris juga berharap Unri semakin aktif mengambil peran dalam menjawab berbagai persoalan strategis daerah. Menurutnya, kampus harus hadir memberikan arah perubahan peradaban melalu riset aksi, inovasi pengabdian dan rekomendasi kritis terhadap solusi komprehensif dari persoalan bencana abrasi dan bencana-bencana ekologis lainnya, termasuk aksi mitigasi perubahan iklim, hingga berbagai isu pembangunan lainnya, termasuk konsep ekonomi hijau dan biru menjadi berwujud nyata sebagai pijakan perubahan penting.
"Kampus tidak boleh menjadi menara gading. Persoalan masyarakat harus menjadi perhatian kampus, dan kampus harus mampu menawarkan solusi melalui penelitian inovatif, aksi berbasis pendekatan lintas keilmuwan," ujarnya.
Terkait pemilihan rektor yang akan berlangsung, Haris berharap seluruh kandidat mengedepankan adu gagasan dan menjaga etika kebebasan akademik. Bahkan ia mendorong agar mahasiswa diberi ruang lebih besar untuk mengenal visi para calon melalui forum debat terbuka.
"Kalau bisa ada debat terbuka dengan mahasiswa. Karena pada akhirnya, mahasiswa adalah pihak yang akan merasakanu langsung kebijakan yang diambil oleh rektor terpilih," legacy masa depan negri ini ada dipundak mereka, mahasiswa," pungkasnya.***(dan)