Riauterkini-PEKANBARU-Pemuda Muhammadiyah Pekanbaru menyoroti beragam hasil kinerja Walikota Pekanbaru dan Wakil Walikota Pekanbaru selama setahun kepemimpinan di Kota Bertuah. Melalui Dialog Publik di SMA Muhammadiyah 1 Pekanbaru, giat yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama tersebut juga menghadirkan tiga narasumber dari pengamat politik, akademisi dan tokoh masyarakat yakni, Dr Mardianto Manan MT, Dr Jupendri dan Dr Afdal, Jumat (27/02/26).
Dalam dialog publik itu, Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Pekanbaru, Untung Surapati mengatakan sangat banyak kebijakan, program kerja dan tentunya hasil kinerja pasangan Walikota Agung Nugroho dan Wakil Walikota Markarius Anwar yang sudah terwujud maupun yang belum berjalan. Salah satunya, kata Untung lagi, infrastruktur jalan raya yang sudah mulus teraspal dan jalanan rusak yang telah diperbaiki.
"Publik senang karena banyak jalan sudah diperbaiki dan diaspal. Namun untuk drainase masih perlu perhatian. Setiap hujan deras, pasti langsung banjir, kondisi ini tentu perlu diperhatikan pemerintah kota Pekanbaru," ujarnya.
Selain itu, Untung juga mengungkapkan pentingnya peran pemerintah dalam mengatasi permasalahan ketertiban umum dan keamanan di Kota Pekanbaru. Misalnya terkait kenakalan remaja, peredaran narkotika hingga fenomena menyimpang LGBT ditempat hiburan malam yang pernah menggegerkan masyarakat Pekanbaru beberapa hari menjelang masuknya Bulan Suci Ramadhan lalu. Kemudian, sambungnya, ada pula aksi begal yang semakin marak terjadi di beberapa tempat di Pekanbaru.
Dalam hal tersebut, Untung menilai peran Walikota dan Wakil Walikota harus selalu bersinergi dengan aparat penegak hukum, sehingga sinergi itupun dapat mencegah terjadinya berbagai perbuatan-perbuatan yang meresahkan, mengganggu ketertiban umum, serta mencegah tindak kejahatan.
Di lokasi yang sama, Ketua Pimpinan Wilayah Pimpinan Muhammadiyah (PWPM) Riau diwakili Sekretaris, Dr Afdal sangat mengapresiasi dialog publik yang diinisiasi oleh PDPM tersebut. Menurutnya, sebagai salah satu masyarakat atau warga Pekanbaru, giat itu merupakan langkah yang bagus untuk mengevaluasi lingkungan tempat tinggal.
"Semakin baik kota (Pekanbaru) ini ke depan tentu semakin berbahagia juga kita sebagai warganya," sebutnya.
Sementara itu, salah satu narasumber, Mardianto Manan menuturkan, jika ingin refleksi dan membahas kepemimpinan Wako dan Wawako Pekanbaru secara komprehensif tentu akan banyak faktor yang juga perlu dikaji dan dievaluasi. Semua harus berawal dari program-program yang ditawarkan di awal kampanye dulu. Kemudian, sambungnya, apa saja janji pasangan Wako dan Wawako tersebut serta sudah berhasil atau tidaknya program ataupun janji-janji kampanye itu selama setahun kepemimpinan mereka berjalan. Minimal berhasil mencapai 25 persen sampai 30 persen.
"Kalau saya menilai, untuk di 100 hari kerja pak Wako (Agung Nugroho) dan pak Wawako (Markarius Anwar) berhasil dalam memimpin Pekanbaru. Keberhasilan itu 70 sampai 80 persen. Contoh kecil, beliau pernah mengatakan kalau saya terpilih, tarif parkir turun. Terbukti," tuturnya.
Mardianto pun menambahkan, dimata warga Pekanbaru, masyarakat bawah biasanya mengukur keberhasilan kinerja Walikota dan Wakil Walikota berdasarkan tercukupi atau tidaknya kebutuhan dasar masyarakat yang harus terpenuhi.
"Dialog publik ini perlu dilakukan secara rutin, dan hasil dialog pun nantinya bisa diberikan kepada Walikota dan Wakil Walikota sebagai bahan masukan. Mudah-mudahan dengan dialog publik seperti ini, bisa menggiatkan beliau-beliau untuk melanjutkan program-program lain yang belum terlaksana. Sebagai masyarakat, kita juga perlu membantu mereka dan mereka perlu kita support," tutupnya.***(gas)