
Riauterkini-PEKANBARU – PT Bumi Siak Pusako (BSP) menyiapkan langkah strategis untuk meningkatkan produksi minyak sekaligus memperkuat kontribusi Riau terhadap pemenuhan kebutuhan energi nasional. Salah satunya melalui pengeboran tujuh sumur baru dalam waktu 12 minggu ke depan.
Direktur PT BSP Robi Junipa mengatakan, peningkatan produksi menjadi salah satu fokus utama manajemen baru di tengah tingginya konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional yang mencapai sekitar 1,7 juta barel per hari.
Hal itu disampaikannya dalam kegiatan coffee morning bersama pimpinan redaksi yang tergabung dalam Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Riau, Kamis (20/8/2026).
Menurut Robi, tingginya konsumsi tersebut belum sebanding dengan kemampuan lifting minyak nasional yang saat ini hanya berada di kisaran 590 ribu hingga 601 ribu barel per hari. Kesenjangan tersebut membuat kebutuhan impor energi nasional masih cukup besar.
"Fokus pada tiga hal, yakni kepatuhan tata kelola, peningkatan produksi, dan tercapainya komitmen kerja pasti," kata Robi.
Untuk mengejar target tersebut, BSP mengusung visi teknis "Fix the Flow, Unlock the Value". Strategi ini menempatkan pembenahan fasilitas, khususnya sistem perpipaan, sebagai salah satu prioritas untuk mengoptimalkan produksi dari wilayah kerja yang dikelola perusahaan.
Selain pembenahan fasilitas, BSP juga segera melakukan pengeboran tujuh sumur baru. Robi menyebut kegiatan pengeboran ditargetkan dapat diselesaikan dalam 12 minggu setelah seluruh proses administrasi dan dinamika sosial di lapangan dapat dituntaskan.
Ia optimistis langkah tersebut dapat memberikan dampak signifikan terhadap kinerja produksi BSP dalam beberapa tahun ke depan.
"Dalam lima tahun produksi BSP bisa naik dua kali lipat," ujarnya.
Dorong Kemandirian Energi
Robi menegaskan, peningkatan produksi BSP tidak hanya berkaitan dengan kepentingan korporasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.
Sebagai BUMD yang bergerak di sektor minyak dan gas bumi, BSP memiliki tanggung jawab untuk memastikan pengelolaan wilayah kerja dilakukan dengan standar keselamatan dan operasional yang tinggi.
Ia menyebut standar pengelolaan yang diterapkan BSP harus mampu menyamai standar perusahaan migas berskala multinasional.
Di sisi lain, Riau memiliki sejarah panjang dalam industri minyak dan gas nasional. Selama puluhan tahun, wilayah ini menjadi salah satu daerah penting dalam menopang penerimaan devisa Indonesia.
"Secara historis, ladang minyak di Riau pernah menyumbang 75 hingga 85 persen pemasukan devisa nasional selama kurang lebih 50 tahun," jelasnya.
Dengan potensi tersebut, penguatan kembali produksi migas dari Riau dinilai memiliki arti strategis di tengah tantangan pemenuhan kebutuhan energi nasional.
Melalui pembenahan fasilitas, pengeboran sumur baru dan penguatan tata kelola, BSP berharap potensi yang masih tersimpan di wilayah kerjanya dapat dioptimalkan sehingga memberikan kontribusi lebih besar bagi Riau maupun Indonesia.***(red)