Riauterkini - PEKANBARU - Pandemi Covid -19 yang terjadi di Indonesia delapan tahun lalu, telah menghantam berbagai sektor ekonomi. Banyak saat itu pelaku usaha gulung tikar. Tapi bagi peternak lebah madu ini,justru menjadi titik balik kehidupan. Dialah Bambang Sugeng.
Mas Sugeng, begitu ia biasa disapa. Di saat banyak orang kehilangan mata pencaharian, ia memilih memulai langkah baru dengan menekuni usaha ternak lebah madu. Berbekal tekad, keberanian belajar, dan kerja keras, usaha yang dirintis sejak 2020 itu kini mampu menghasilkan cuan mulai dari 12 hingga Rp18 juta per bulan dengan kepemilikan 300 kotak sarang lebah.
Ceritanya begini. Mas Sugeng mengaku, pada awal pandemi dirinya belum benar-benar yakin dengan prospek usaha madu. Namun ia terus mencari informasi dan mempelajari berbagai referensi mengenai budidaya lebah.
"Awalnya kami belum tahu seperti apa prospeknya. Tapi saat Covid-19 saya melihat permintaan madu meningkat, terutama madu sialang dari lebah liar. Dari situ saya berpikir budidaya lebah bisa menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan madu masyarakat," katanya dengan nada khas menark mndok Jawa.
Bermodalkan cerita dari kenalanya, ia nekad pergi Danau Lamo, Jambi, pada 2020. Di daerah tersebut, ia melihat langsung bagaimana peternak lebah mampu menghasilkan hingga satu ton madu setiap bulan.
Pengalaman baru itu menjadi titik yang semakin menguatkan keyakinannya untuk membangun usaha serupa di Riau. Apalagi saat diberitahu, usaha tempat ia belajar itu bisa menghasilkan satu ton madu perbulanya.
"Saya pun jadi berpikir, kalau sebanyak itu tentu banyak juga duitnya," ungkapnya dengan tertawa kecil.
Tapi kalimat terkesan bercanda itu benar-benar menjadi peleceut. Mas Sugeng pun yakin usaha itu bisa dilakoninya.
Sekembalinya dari Jambi, Mas Sugeng mulai merintis usaha ternak lebah secara mandiri. Pada tahap awal, budidaya dilakukan di lokasi seadanya. Meski belum meraih apa yang diharapkan, ia tak pernah pantang menyerah.
Seiring waktu, peluang besar datang ketika dari utusan PT Arara Abadi-APP Group memberikan akses bagi kelompok peternak untuk memanfaatkan kawasan tanaman akasia sebagai lokasi budidaya. Tepannya di Kecamatan Pinang Sebatang Barat, Kabupaten Siak. Tawaran itu langsung disambutnya dengan antusias.
Menurutnya, keberadaan tanaman akasia yang telah memasuki usia produktif menjadi sumber pakan yang melimpah bagi lebah sehingga perkembangan koloninya jauh lebih baik.
"Tahun 2021 kami mulai beternak madu lebah di kawasan perusahaan. Setelah mendapat tempat yang sesuai, perkembangan usaha jauh lebih cepat," ujar Mas Sugeng.
Terkait akses yang diberikan perusahaan bukan tanpa tanggung jawab. Ia bersama kelompok peternak menandatangani perjanjian kerja sama yang juga mengamanahkan mereka menjadi bagian dari Masyarakat Peduli Api (MPA).
Setiap hari, para peternak berkewajiban memantau kondisi kawasan, melaporkan apabila ditemukan titik api maupun aktivitas mencurigakan yang berpotensi mengganggu keamanan hutan. Bagi Bambang, menjaga kawasan tetap aman bukan sekadar kewajiban, melainkan cara melindungi sumber penghidupan mereka sendiri.
"Kalau hutan terbakar, lebah kehilangan sumber pakan. Jadi menjaga hutan sama dengan menjaga usaha kami," ungkap Mas Sugeng.
Ada pun soal hambatan, kisah ternak madunya itu bukan tak ada resiko. Beberapa hama yang disebutnya bisa menggagalkan usahanya dalam mendapatkan cuan. Mulai serangan lebah penyengat tabuan, yang dapat membunuh teenakan lebah madunya. Kemudian ada juga hewan beruang yang ingin mencuri madu dengan menghancurkan sarang-sarang lebah. Selain itu ada juga hama sejenis kutu, jamur yang dapat mengganggu proses lebah membuat madu di sarang. Ada juga burung, pemakan pemakan lebah yang terbang ketika mencari makan di hutan akasia. Selain itu, faktor musim seperti hujan juga menjadi penentu dalam perolehan hasil panen madu.
"Yang parah itu beruang mas, biasanya muncul malam hari. Kalau beruang itu sebelum mengambil madu, sarang madu dari kotak-kotak itu ditarik-tariknya, lalu pergi. Nanti muncul lagi ditarik-tariknya lagi sebelum lebah-lebah pergi. Jadi bukan kotak aja yang dirusak, madu di dalam juga ikut mati karena tertimpa, terjepit papan-papan di dalam kotak. Itu kalau dibiarkan satu malam bisa berapa kotak abis mas," papar Mas Sugeng, sambil geleng-geleng kepala.
Sementara Forest Protection Head PT Arara Abadi-APP Group, Aep Mahmudin, mengatakan perusahaan terus mendorong pemberdayaan masyarakat melalui Program Desa Makmur Peduli Alam (DMPA).
Saat ini terdapat 23 kelompok peternak lebah yang difasilitasi untuk mengembangkan usaha di area konsesi perusahaan.
"Kami memberikan ruang kepada para peternak lebah untuk berusaha di kawasan yang telah memenuhi syarat, terutama pada tanaman akasia yang berusia minimal satu tahun karena sudah menyediakan pakan yang cukup bagi lebah," jelasnya.
Menurut Aep Mahmudin, seluruh kelompok peternak terikat dengan aturan yang tegas, salah satunya larangan membuka lahan dengan cara membakar. Sebaliknya, para peternak justru menjadi mitra perusahaan dalam menjaga kawasan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Mereka menjadi mata dan telinga kami di lapangan. Jika menemukan titik api, mereka segera memberikan informasi sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat. Jadi mereka bukan hanya menghasilkan madu, tetapi juga ikut menjaga kelestarian hutan," katanya.
Kisah Bambamg Sugeng menjadi bukti bahwa usaha dapat tumbuh dari kondisi yang paling sulit sekalipun. Berawal dari rasa ingin tahu di masa pandemi, kini ia tidak hanya memperoleh penghasilan yang menjanjikan, tetapi juga ikut menjaga hutan agar tetap lestari. Sebuah inspirasi bahwa usaha yang dikelola dengan ketekunan dapat memberi manfaat, baik bagi keluarga, masyarakat, maupun lingkungan. ***(mok)