Riauterkini - PEKANBARU - Organisasi sayap Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Panji Bangsa PKB Riau, menegaskan kesiapannya dalam membantu penanganan pascabencana Tak hanya melalui penyaluran bantuan logistik, tetapi juga lewat pendekatan pemulihan psikologis korban, khususnya anak-anak.
Komitmen tersebut dibuktikan dengan keberadaan Satuan Tugas (Satgas) Trauma Healing dan Penanganan Pascabencana yang telah dimiliki Panji Bangsa PKB Riau. Satgas ini bahkan telah mengaplikasikan keilmuan dan pelatihannya secara langsung di lapangan. Di antaranya saat terjun ke lokasi bencana banjir di Desa Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, selama tiga hari berturut-turut.
Panji PKB Riau juga telah teruji sebagai SatgasTrauma Healing dan Penanganan Pascabencana di Tamiang Provinsi Aceh, baru-baru ini.
Ketua Panji Bangsa PKB Riau, H. El Yusril, mengatakan bahwa Panji Bangsa Riau hadir bukan sekadar membawa bantuan. Tetapi juga memastikan pemulihan mental masyarakat terdampak berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan fisik.
“Panji Bangsa PKB Riau sudah memiliki satgas khusus untuk trauma healing dan penanganan pascabencana. Ini bukan hanya konsep, tapi sudah kami terapkan langsung di lapangan, salah satunya di Palembayan, Agam, selama tiga hari kami mendampingi korban,” ujar El Yusril di Pekanbaru.
Aksi kemanusiaan tersebut, Panji Bangsa PKB Riau menyalurkan 130 karung beras untuk masyarakat Desa Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sementara di Desa Bandar Khalifah, Kecamatan Hulu Tamiang, Kabupaten Aceh Tamiang, Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Panji Bangsa menyalurkan 408 pasang sepatu boot untuk anak-anak sekolah.
“Tidak hanya bantuan beras dan sepatu, kami juga menyalurkan bahan makanan, pakaian bayi, serta melakukan kegiatan trauma healing untuk anak-anak usia sekolah dasar yang terdampak langsung bencana,” ungkapnya.
Menurut El Yusril, kondisi lingkungan pascabanjir masih menyimpan banyak risiko. Lumpur, reruntuhan bangunan, bebatuan, serta patahan kayu dan ranting menjadi ancaman tersendiri bagi masyarakat yang mulai kembali beraktivitas.
“Anak-anak adalah kelompok paling rentan. Pascabanjir, lingkungan belum sepenuhnya aman. Karena itu, penanganan pascabencana tidak cukup hanya dengan membersihkan jalan dan menyalurkan bahan pangan,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga luka psikologis, terutama bagi anak-anak yang kehilangan orang tua atau anggota keluarga.
“Ada anak yang orang tuanya menjadi korban, ada juga yang kehilangan saudara. Ini tentu sangat berpengaruh pada kejiwaan mereka. Program trauma healing punya peran penting untuk membantu memulihkan mental mereka agar kembali ceria dan berani menjalani aktivitas sehari-hari,” jelasnya.
Ke depan, Panji Bangsa PKB Riau menyatakan siap berdampingan dan diperbantukan bersama BNPB se-Riau, serta aparat TNI dan Polri, dalam setiap kegiatan penanganan pascabencana, baik di wilayah Riau maupun daerah lain di Indonesia.
“Kami siap bersinergi dengan BNPB, TNI, Polri, dan seluruh elemen terkait. Panji Bangsa Riau juga siap menggalang donasi dan kekuatan sosial untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana,” tegas El Yusril.
Pada kesempatan itu, Panji Bangsa PKB Riau juga menyampaikan apresiasi dan penghormatan setinggi-tingginya kepada pemerintah pusat dan daerah, aparat TNI-Polri, relawan, pramuka, serta berbagai organisasi kemasyarakatan yang telah mendedikasikan tenaga dan waktu dalam aksi kemanusiaan di lokasi bencana.
“Semangat gotong royong dan kemanusiaan inilah yang harus terus kita jaga bersama,” pungkasnya.***(rls)