Selasa, 23 Nopember 2021 13:40

Dede Firmansyah Disebut Merujuk Asita yang Salah

Kisruh kepengurusan Asita di Riau bermula dari pusat. Dede Firmansyah disebut telah merujuk Asita yang salah.

Riauterkini - PEKANBARU - Kisruh kepengurusan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) di Riau bermula dari ketidak beresan pimpinan pusat, Nunung Rusmiati yang tak mampu menjalankan amanah secara organisasi sesuai aturan dasar dan rumah tangga.

Kepemimpinan yang tidak bisa mempertanggung jawabkan organisasi, baik dari sisi administrasi terlebih masalah keuangan itu, kemudian menjadi rujukan Dede Firmansyah yang mengklaim sebagai pengurus Asita Riau yang sah.

Nunung sebelumnya, merupakan Sekretaris Jenderal (Sekjend) DPP Asita dengan Ketua Umumnya Asnawi Bahar, yang kemudian dipaksa mundur. Setelah melalui proses di Musdalub 2019, Nunung maju dan menang menjadi Ketua DPP Asita mengalahkan Ketua Asita DKI, Hasiana. Pada prosesnya, Nunung yang merupakan pernah menjadi bagian pengurusan Asnawi Bahar tak bisa membuat laporan pertanggung jawaban keuangan.

Demikian dikatakan Ketua Bidang Organisasi pengurus DPP Asita, Ovan Lamara, Senin (22/11/21) malam di Sultan Resto, Jalan Ronggowarsito Pekanbaru. Disebutkan, Dede merupakan korban kepungurusan DPP yang salah.

"Dede itu hanyalah korban semata. Masalah sesungguhnya adalah ada di DPP kepemimpinan Nunung Rusmiati. Riau ini bukan masalah, Dedi ini hanya pion. Tapi karena tak sadar juga dengan langkahnya, ya sudah," kata Ovan.

Ditegaskannya, kepengurusan DPP yang dipimpin Nunung tak hanya melakukan pelanggaran karena tak bisa mempertanggung jawabkan laporan keuangan. Tetapi juga, tanpa diketahui pengurus DPP lainnya, menerbitkan akta baru 2016. Yakni Asita bidang sosial yang tidak ada kaitannya dengan pariwisata.

Dasar akta sosial 2016 ini, kemudian digunakan untuk memecat kepengurusan baik di DPP mau pun daerah yang mengkritisi soal pelanggaran organisasi dan keuangan yang tidak bisa dipertanggung jawabkannya.

Berbeda dengan akta 1971, yang merupakan sejarah pendirian Asita selama ini, merupakan menjadi acuan kepengurusan DPD Asita Riau pimpinan Julfiyanto yang mengelar Rakerda pada Selasa (23/11/21) di Hotel Premiere Pekanbaru.

"Biarkan saja Asita berjalan dengan dualisme kalau bisa saya sebut. Asita pertama yang Asita dengan akta pendirian sosial (akta siluman) satu lagi Asita pariwisata.Asita akta pariwisata inilah menjadi acuan Julfiyanto, sebagai Ketua Asita Riau. Jadi kami persilahkan untuk memilih mana yang benar," papar Ovan.

Rakerda Asita Riau pimpinan Julfiyanto tersebut dijadwalkan dihadiri Ketua Umum Asita Arta Hanif, Sekjen Hadi Alfan, para pengurus DPD Asita di Indonesia termasuk kabupaten kota di Riau.

Sementara Mantan Ketua DPD Asita Riau Ibnu Masud juga turut mengkritisi klaim Dede Firmansyah sebagai pengurus Asita Riau yang sah. Menurut Ibu, sampai saat ini, Dede tak memiliki kepengurusan yang akan mendukungnya.

Pasalnya, berbagai pengurus Asita Riau sebelumnya diklaim Dede mendukungnya untuk menggelar Musdalub, telah memberikan pernyataan tegas memilih kepemimpinan Julfiyanto.

"Apa yang dimusdalubkan, pengurusnya tak ada. Semuanya mendukung Julfiyanto," tegas Buya, sapaan akrab Ibnu.

Menurut Buya Ibnu lagi, sebagai mantan stafnya, ketika memimpin Asita Riau, ia ingin Dede berada di jalan benar, dengan melihat semua persoalan yang terjadi di tubuh Asita. Bahkan ajakan itu, sudah langsung diungkapkan dengan empat mata.

Namun kenyataanya, meski menerima ajakan itu secara lisan. Kenyataannya, Dede tetap pada pendiriannya dengan berkiblat pada kepengurusan yang salah di pusat. Bahkan, Dede tak sungkan mengklaim akan mengadakan Musdalub kepemimpinan Julfiyanto yang didukung penuh kepengurusan Asita Riau.

"Saya sudah ketemu langsung. Pertemuan itu bahkan upload di media sosial. Kata siap-siap, namun kenyataanya masih ngotot,” ungkap Buya Ibnu.***(mok)

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang