Sabtu, 25 September 2021 17:26

Progres SPALD-T di Pekanbaru Sudah 90 Persen

Pembangunan jaringan SPALD-T atau IPAL di Pekanbaru bertujuan untuk penanganan air limbah domestik. Progres nya sudah 90 persen.

Riauterkini-PEKANBARU-Aktivitas masyarakat di perkotaan menimbulkan air limbah yang perlu diolah terlebih dahulu sebelum disalurkan ke sungai/badan air agar tidak mencemari lingkungan dengan memenuhi baku mutu air limbah domestik yang diatur melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 68 Tahun 2016. Terkait hal itu dilakukanlah pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Kota Pekanbaru bertujuan untuk penanganan air limbah domestik akibat dari padatnya penduduk dan aktivitas perekonomian sehingga kualitas lingkungan dapat terjaga sebagai warisan untuk.generasi masa depan anak cucu kita.

Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Permukiman Provinsi Riau, Yenni Mulyadi didampingi PPK Sanitasi, Taufik Hidayat dan Ketua Tim Direksi Teknis, Rifky Ichsan, Sabtu (25/9/21) mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan program dari Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya dan Direktorat Pengembangan Sistem PLP Provinsi Riau Direktorat Jendral Cipta Karya melalui Program Metropolitan Sanitation Management Investment Project (MSMIP) Kota Pekanbaru, atau dengan kata lain Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik Terpadu (SPALD-T). 

Pekerjaan ini merupakan sistem pengolahan air limbah domestik, dari rumah-rumah warga secara kolektif (jaringan perpipaan), ke sub sistem pengolahan terpusat (IPAL), untuk diolah sebelum dibuang ke badan air permukaan (sungai). 

Fokus utama program pembangunan ini, mendukung program pemerintah Kota Pekanbaru, dalam rangka mengurangi pencemaran air tanah dari limbah domestik, yang semakin mengkhawatirkan. Ini seiring dengan bertambahnya pemukiman penduduk di Kota Pekanbaru.

"Manfaat jangka panjangnya penggalian ini, akan terpenuhinya ketersedian sanitasi yang bersih, dan tersedianya sumber air tanah yang layak konsumsi, yang pada akhirnya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat," terangnya.  

Progres Pekerjaan Sudah Lebih 90 Persen

Menurut Yenni, pembangunan jaringan IPAL di Pekanbaru terbagi 4 bagian. Pertama adalah SC-1, pengerjaan sudah 90,54 persen. Target selesai pekerjaan akhir 2021. Kedua adalah SC-2. Progres pekerjaan sudah 83,46 persen.

"Untuk paket ketiga pembangunan jaringan IPAL adalah NC. Progres pengerjaan baru 18,83 persen. Dan keempat adalah B1 yang progres pengerjaan nya baru 13,37 persen," terangnya.

Masih menurut Yenni, pembangunan perpipaan Air Limbah Kota Pekanbaru Area Selatan (SC-1) meliputi pengadaan dan pemasangan pipa air limbah PVC Diameter 150 mm, 200 mm, 250 mm, 300 mm, dan 400 mm, total sepanjang ±18.222 m, berikut aksesorisnya. Kemudian pengadaan dan pemasangan pipa air limbah RCP Diameter 450 mm dan 600 mm, total sepanjang ±1.465 m, berikut aksesorisnya. Pengadaan dan Pemasangan Manhole Pemeliharaan, pengadaan dan Pemasangan 1.000 unit Sambungan Rumah dan pembongkaran dan Perbaikan kembali jalan aspal.

"Pembangunan Perpipaan Air Limbah Kota Pekanbaru Area Selatan (SC-2), meliputi pengadaan dan pemasangan pipa air limbah PVC Diameter 150 mm, 200 mm, 250 mm, dan 400 mm, total sepanjang ±16.584 m, berikut aksesorisnya. Pengadaan dan Pemasangan pipa air limbah RCP Diameter 600 mm dan 800 mm, total sepanjang ±753 m, berikut aksesorisnya. Pengadaan dan Pemasangan Manhole Pemeliharaan. Pembongkaran dan Perbaikan kembali jalan aspal," terangnya.

Selanjutnya, tambah Yenni, pembangunan Pekanbaru Sewerage and Transfer System Package NC (AIF) meliputi pengadaan dan pemasangan pipa air limbah PVC Diameter 150 mm, 200 mm, 250 mm, 300 mm,  dan 400 mm, total sepanjang ±9.516 m, berikut aksesorisnya. Pengadaan dan Pemasangan pipa air limbah RCP Diameter 450 mm, 600 mm, 800 mm, dan 1.000 mm total sepanjang ±5.633 m, berikut aksesorisnya. Pengadaan dan Pemasangan Manhole Pemeliharaan. Pembangunan Stasiun Pompa, termasuk pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal 5. Pembongkaran dan Perbaikan kembali jalan aspal.

"Terakhir, untuk Pekanbaru Waste Water Treatment Plant (WWTP) Package B1 (OCR) meliputi, Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Bangunan Pendukung. Teknologi Pengolahan Fixed Bed Biofilm Activated Sludge (FBAS) dan beberapa alternatifnya. Kapasitas Pengolahan 8,1 MLD ≈ 8.100 m3/hari. Format Konstruksi : Design and Build, total rencana panjang pipa yang akan dibangun : ±52 km," terangnya.

Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik Terpadu (SPALD-T)

Menurut Yenni, pembangunan jaringan IPAL atau Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik Terpadu (SPALD-T) ini merupakan program dari Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya dan Direktorat Pengembangan Sistem PLP Provinsi Riau Direktorat Jendral Cipta Karya melalui Program Metropolitan Sanitation Management Investment Project (MSMIP) Kota Pekanbaru.

Pekerjaan ini, menurut Yenni merupakan sistem pengolahan air limbah domestik, dari rumah-rumah warga secara kolektif (jaringan perpipaan), ke sub sistem pengolahan terpusat (IPAL), untuk diolah sebelum dibuang ke badan air permukaan (sungai). 

Fokus utama program pembangunan ini, mendukung program pemerintah Kota Pekanbaru, dalam rangka mengurangi pencemaran air tanah dari limbah domestik, yang semakin mengkhawatirkan. Ini seiring dengan bertambahnya pemukiman penduduk di Kota Pekanbaru. Manfaat jangka panjangnya penggalian ini, akan terpenuhinya ketersedian sanitasi yang bersih, dan tersedianya sumber air tanah yang layak konsumsi, yang pada akhirnya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. 

"Proses Pembangunan Jaringan Perpipaan Air Limbah di Kota Pekanbaru, kini sudah dikerjakan di beberapa ruas jalan, khususnya di Kecamatan Sukajadi. Pekerjaan dilakukan dengan pemasangan pipa di bawah tanah pada kedalaman 3–9 meter, sehingga diperlukan penggalian tanah pada ruas jalan. Di lokasi pekerjaan pada pagar pengaman dipasang lampu penerangan, untuk memberikan tanda kepada pengendara lalu lintas di malam hari lokasi pekerjaan IPAL Pekanbaru. 

Akhir akhir ini curah hujan tinggi.  Hal ini merupakan tantangan tersendiri pihak kontraktor. Di samping tetap bekerja, harus tetap berupaya akses masyarakat tidak terganggu, dengan adanya longsor tanah hasil galian yang belum diaspal ataupun jika ada genangan air. Begitu juga pada saat cuaca terik, potensi debu yang banyak, dilakukan penyiraman secara periodik . 

"Ini merupakan bentuk upaya tanggung jawab kontraktor, untuk meminimalkan terganggunya kenyamanan masyarakat sekitar lokasi pekerjaan," tuturnya. 

Pandemi, Rileksasi Anggaran dan Penambahan Waktu Pengerjaan

Ada beberapa kendala dalam pelaksanaan pekerjaan. Pengaruh yang paling nyata, dampak dari pandemi covid -19 yang hingga kini masih mewabah di Indonesia. Hal itu membuat beberapa pekerjaan harus mengalami keterlambatan dari target yang direncanakan.

"Pelaksanaan kegiatan yang bersumber dari dana APBN ini, harus mengalami rileksasi, rekomposisi/perubahan anggaran. Awalnya pekerjaan ini dianggarkan hingga Desember Tahun 2020, namun kini dialihkan juga hingga anggaran tahun 2021. Kebijakan tersebut tentunya membuat waktu pelaksanaan proyek IPAL Pekanbaru pun, mengalami perpanjangan waktu, hingga Desember 2021. Ini menyesuaikan dengan ketersediaan anggaran yang diterima oleh kegiatan," terangnya. 

Ia berharap masyarakat mendukung pekerjaan ini. Karena manfaatnya ke depan untuk masyarakat. Diharapkan juga masyarakat, dapat bersabar hingga penyelesaian proyek ini agar dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan yang diharapkan. *(H-we)

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang