Sabtu, 11 September 2021 16:59

Kegigihan Petani Binaan Pertamina, Budidaya Lebah Madu Jadi Ladang Rupiah

Kegigihan petani binaan Pertamina dalam membudidaya lebah madu membuahkan hasil manis. Kini budidaya lebah madu jadi ladang rupiah bagi mereka.

Riauterkini-BENGKALIS - Sebagian masyarakat berada di Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Riau, sekarang menggeluti budidaya lebah madu jenis Apis Cerana, Apis Dorsata, dan Trigona.

Petani yang tergabung dalam Kelompok Madu Biene, telah sukses budidaya lebah madu ramah lingkungan dan menjadi ladang rupiah baru untuk mencukupi kebutuhan ekonomi di masa Pandemi COVID-19.

Kesuksesan Kelompok Madu Biene, Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, Bengkalis yang berdiri sejak tahun 2019 itu tidak lepas dari pendampingan PT. Pertamina Kilang Internasional RU II Sungai Pakning, terhadap lingkungan sekitar.

Lebah Trigona, berwarna hitam, berukuran kecil sekitar 4 milimeter dan tidak menyengat. Biasanya bersarang pada lubang pepohonan, membentuk sarang berbentuk bulat-bulat kecil menyerupai gentong berdiameter 1 cm.

Madu lebah Trigona, Apis Cerana, Apis Dorsata, juga di kenal sebagai pendukung imunitas tubuh dan kini banyak di cari masyarakat selama pandemi Covid-19. Baik untuk kebutuhan Bengkalis dan Pekanbaru, maupun permintaan dari luar daerah.

Rahmadi, Ketua Kelompok Madu Biene, Desa Tanjung Leban, menjelaskan bahwa lebah Madu Trigona merupakan produk unggulan dari kelompoknya. Harga jual sebotol kecap kaca berukuran 650 mililiter di bandrol Rp250 ribu rupiah.

"Pada awal pandemi Covid-19, permintaan madu tidak hanya dari Bengkalis dan Pekanbaru saja, bahkan dari luar daerah. Kalau di hitung selama tahuan 2020 lalu, kelompok mendapatkan penghasilan hingga Rp244 juta," jelas Rahmadi, Sabtu (11/9/2021).

Perekonimian warga yang masuk Program Budidaya Madu Hutan Gambut Pertamina meningkat setelah menjadikan budidaya lebah madu ramah lingkungan sebagai sumber pendapatan mereka.

Hilangkan Image Penyebab Karlahut

Rahmadi bersama kelompoknya membudidayakan lebah madu ramah lingkungan di perkarangan rumah. Kotak tempat sarang lebah diletakkan di atas bangku kecil. Sehingga mereka tidak perlu repot- repot berburu madu ke hutan.

Dulunya, mereka biasa mencari madu di hutan dengan sistem pengasapan. Pengasapan menggunakan sabut kelapa atau daun kelapa kering yang di bakar untuk mengusir para lebah dan memanen madunya.

Rupanya kebiasaan tersebut acap kali menjadi kambing hitam penyebab kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di Riau. "Dulu kita mencari madu di hutan dengan cara pengasapan. Terus kita selalu disalahkan ketika karlahut terjadi," kata Rahmadi.

Seiring waktu berjalan, Rahmadi bersama kelompoknya mendapat kesempatan emas berupa pendampingan dari Kilang Pertamina Unit Produksi Sei Pakning, melalui Program Budidaya Madu Hutan Gambut.

Melalui program tersebut, Rahmadi dan teman-temannya yang tergabung dalam Kelompok Madu Biene, mendapat pengajaran berupa mengembangkan budidaya madu hutan ramah lingkungan dari hulu ke hilir.

Keberhasilan Rahmadi dan anggota kelompoknya, mendorong minat warga lain untuk belajar budidaya lebah madu ramah lingkungan. Sekarang sudah ada 50 orang dari Desa Tanjung Leban dan 60 dari luar desa yang berbagi ilmu budidaya lebah madu.

"Sekarang kami menjadi contoh dalam kegiatan budidaya madu hutan gambut di kawasan Kecamatan Bandar Laksamana, melalui penerapan budidaya dan pemanenan yang berorientasi ramah lingkungan," kata Rahmadi.

Selain dengan memilih budidaya lebah madu sebagai "Energizing You" ekonomi berkelanjutan, kelompok binaan PT. Pertamina Kilang Internasional RU II Sungai Pakning ini juga sudah berpartisipasi dalam mencegah kebakaran lahan dan hutan.

Produk Madu Biene Kantongi Izin dan Sertifikasi Halal

Rahmadi bersama kelompoknya memberi nama pada produk jualannya bernama Madu Biene dan sudah mengantongi izin Pangan,Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikasi halal dari lembaga terkait.

Produk Madu Biene di jual dalam bentuk curah maupun kemasan. Madu curah biasanya di kirim ke Pekanbaru. Sementara produk kemasan 225 ml di jual di kisaran Rp 65 ribu - Rp 75 ribu, secara online dengan pembeli beragam dari seluruh Indonesia.

"Alhamdulilah, setelah setahun berjalan, saat ini perekonomian kami semakin membaik. Bahkan jika di hitung-hitung hasilnya lebih besar dari pada kami mencari lebah madu di hutan," kata Rahmadi berbicang santai di depan rumahnya.

Sekarang mereka menjadikan budidaya lebah madu ramah lingkungan sebagai sumber daya ekonomi yang berkelanjutan sekaligus menjadi semangat "Energizing You" dari mencari madu di dalam hutan menuju petani lebah madu ramah lingkungan.

"Kedepanya kami akan terus melakukan pengembangan dan inovasi dalam membudidayakan lebah madu ini. Kami juga berhap dapat membantu lebih banyak lagi masyarakat di kampung kami ini," pungkas Rahmadi.

Kesuksesan dan keberhasilan Kelompok Madu Biene di awali dengan edukasi dan penyuluhan terkait wawasan lingkungan dan panen madu tanpa bakar yang dilaksanakan PT. Pertamina Kilang Internasional RU II Sungai Pakning.

Pendampingan dan penyuluhan ini sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung tercapainya SDGs ke-8 yakni mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, produktif dan pekerjaan yang layak.

Terpenting dari budidaya lebah madu ramah lingkungan ini adalah berhasil membangun kepedulian masyarakat untuk merawat dan melestarikan lingkungan melalui pencegahan kebakaran hutan dan lahan gambut.*(Suhadi)

Teks Foto: Arya Dwi Paramita, VP CSR & SMEPP PT Pertamina (Persero) bersama jajaran Perwira Pertamina saat mengunjungi Kelompok Budidaya Madu Biene di Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis.

#satgascovid19
#ingatpesanibu
#ingatpesanibupakaimasker
#ingatpesanibujagajarak
#ingatpesanibucucitangan
#pakaimasker
#jagajarak
#jagajarakhindarikerumunan
#cucitangan
#cucitangandengansabun

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang