Jum’at, 27 Agustus 2021 16:37

Pendidikan dan Transformasi Pendidikan Indonesia

Pendidikan Indonesia sudah kehilangan arah. Pendidikan di Indonesia sudah tidak lagi bertumpu pada nilai-nilai dasar pendidikan yang me-merdeka-kan.

Riauterkini-PEKANBARU-Pendidikan Indonesia sudah kehilangan arah. Pendidikan di Indonesia dalam bentuk sekolah telah tercabut dari akar kesejarahan sistem pendidikan nasional. Pendidikan di Indonesia sudah tidak lagi bertumpu pada nilai-nilai dasar pendidikan yang me-merdeka-kan, pendidikan yang menyadarkan, pendidikan yang memanusiakan manusia muda, dan pengangkatan manusia muda ke taraf insani.

Esensi pendidikan nasional, selain berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, pendidikan harus berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Agar pendidikan mampu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Di Indonesia, peran pendidikan dalam membangun martabat dan peradaban manusia sepertinya masih sebatas wacana, karena dilihat dari sisi capaian dalam pendidikan masih jauh dari harapan semestinya. Fakta dan realitas yang terbentang, pendidikan bisa jadi baru sebatas seremonial, baru sebatas memenuhi rangkaian perbuatan yang terikat pada aturan tertentu. Terlalu tergantung pada kurikulum dan sarana prasarana, belum banyak melibatkan kreativitas dan pikiran yang merdeka, belum menyentuh kepada inti dan hakikat pendidikan itu sendiri.

Pendidikan esensinya haruslah menyentuh inti dan bertumpu pada hakikat, bukan sekadar seremoni dan rutinitas belajar-mengajar yang apa adanya.

Pada hakikatnya pendidikan tak hanya soal pengetahuan dan kecerdasan, pendidikan adalah soal mentalitas dan keteladanan. Belajar tak hanya pengetahuan dan pandai, namun soal pengalaman dan pengamalan. UU Nomor. 20 Tahun 2003 S P N o y “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara ” Hakikat pendidikan adalah proses kehidupan yang merupakan upaya untuk memanusiakan manusia agar memiliki peradaban (nilai dan pengetahuan religius, nilai dan pengetahuan budaya). Jika menilik lebih dalam lagi, terdapat 3 inti dari hakikat pendidikan. Pertama : memanusiakan orang yakni menjadikan seorang agar memiliki harkat dan martabat sebagai manusia. Kedua : penciptaan jati diri dan membangun karakter, yakni proses aktif mengembangkan diri sebagai pribadi, anggota masyarakat dan sebagai makhluk Tuhan. Ketiga : proses transformasi budaya, yakni kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi lain.

Perubahan yang cepat pada semua dimensi kehidupan, membuat tantangan baru yang harus disikapi dengan beradaptasi dan bertransformasi. Perubahan hampir selalu membawa kebaruan. Menghadapi kebaruan diperlukan belajar cepat dan mental tangguh sebagai pembelajar lincah. Kecepatan dan kelincahan juga diperlukan menghadapi volatilitas.

Hidup di Era Vuca dan Era Disrupsi memang penuh guncangan perubahan yang disertai ketidakpastian, karena situasi semakin kompleks. Vuca disebut-sebut akan membuat manusia fragile atau rapuh. Namun demikian, fragility akibat Vuca dapat dikonversi menjadi agility bila disiapkan dengan skill baru. Antara lain, menciptakan kekuatan visi baru tentang masa depan, kreativitas, risk literasi, complex problem solving, fleksibilitas, dan kolaborasi.

Satu diantara upaya adaptasi yang menjadi keniscayaan dan mutlak untuk dilakukan dalam menghadapi perkembangan dunia yang dinamis tersebut adalah program peningkatan kapasitas (capacity building) SDM, membenahi dan meningkatkan mutu pendidikan.

Pembenahan pendidikan sebagai upaya bagi peningkatan dan pengembangan kapasitas serta kompetensi SDM, memiliki peran penting dan strategis dalam menyiapkan SDM untuk dapat bekerja dan berusaha dengan baik dan profesional mengikuti perubahan yang terjadi. Optimisme dalam membangun bangsa adalah keharusan dan suatu keniscayaan, karena akan memberi energi positif dalam berpikir dan bertindak.

Disinilah pentingnya pembenahan dan peningkatan mutu pendidikan untuk mempersiapkan SDM yang unggul (profesional, kompeten dan berdaya saing). SDM unggul adalah yang responsif dan adaptif terhadap perubahan. Resposif terhadap perubahan mensyaratkan sejumlah softskill seperti kemampuan belajar cepat, kelincahan, fleksibilitas, dan future mindset.

Future mindset menarik garis ke depan dengan penuh keyakinan bahwa perubahan adalah keniscayaan. Future mindset selalu siap dan sigap menghadapi perubahan dan ketidakpastian. Ketidakpastian harus dihadapi dengan kolaborasi karena masa depan yang dahsyat pada umumnya berbasis kolaborasi.

Manusia tidak mungkin sendiri-sendiri menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Sebab, kolaborasi memungkinkan terjadinya akumulasi potensi untuk menjadi kekuatan baru. Namun kolaborasi yang kuat akan tercipta bila disadari oleh rasa saling percaya tinggi.

Transformasi pendidikan di Indonesia adalah sebuah sistem untuk membangun kembali ruh pendidikan di Indonesia agar sesuai dengan tujuan pendidikan nasional di Indonesia.

Tujuan pendidikan nasional Indonesia diharapkan mampu melahirkan manusia Indonesia yang religius dan bermoral, menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, dan berkepribadian dan bertanggung jawab.

Komponen transformasi pendidikan mencakup beberapa hal pokok seperti Pertama Kebijakan Pendidikan, kebijakan pendidikan harus menunjukkan arahan yang jelas mengenai tujuan dan target yang ingin dicapai serta cara untuk mencapainya. Kedua, Pengembangan Kompetensi Guru. Guru sebagai motor terdepan dalam perubahan harus menjadi pihak pertama yang siap dalam proses perubahan ini. Ketiga, Teknologi. Integrasi teknologi dalam proses belajar merupakan sebuah keniscayaan. Keempat, Riset dan Evaluasi. Proses pendidikan membutuhkan umpan balik dan riset untuk menyempurnakan sistem pendidikan. Kelima Kurikulum. Kurikulum sebagai rancangan pembelajaran harus seiring dengan tuntutan jaman.

Satu diantara komponen transformasi pendidikan dalam upaya peningkatan mutu dan untuk perubahan dunia pendidikan adalah membenahi kualitas guru.

Sudah tidak zamannya lagi guru-guru yang mengajar dengan pola "top-down", guru sentris sudah harus ditinggalkan. Hingga siswa kian sulit belajar untuk mengeksplorasi potensi dirinya. Saat nya guru sebagai fasilitator dan pendamping proses belajar mengajar, sekaligus berperan menjadi teman dan orang tua siswa.

Guru sebagai teman, menjadi tempat cerita dan mengungkapkan keluh kesah (curhat). Guru sebagai orang tua selalu siap mendampingi siswa disegala kondisi, harus dapat memahami karakter (minat dan bakat) bahkan menyelami psikis siswa, mampu membantu setiap permasalahan yang dihadapi siswa baik terkait persoalan di sekolah maupun masalah dikehidupan luar sekolah.

Namun demikian kewibawaan guru harus tetap diutamakan, tersebab guru adalah teladan bagi siswa dan juga masyarakat. Guru mesti dan harus berubah, senantiasa meningkatkan profesionalisme dan meng-up-grade (serta up-date) kompetensi, selalu melakukan inovasi dan mengembangkan kreativitas.

Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik. Idealisme pada pendidikan mengedepankan nilai-nilai humanisme yang mendasar, sehingga dengan nilai-nilai tersebut mampu membentuk manusia-manusia yang berkualitas.

Hal ini dapat dilihat dari filosofi pendidikan yang intinya adalah untuk mengaktualisasikan tiga dimensi kemanusiaan yang paling mendasar, yakni:(1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan dan ketakwaan, etika dan estetika, serta akhlak mulia dan budi pekerti luhur; (2) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali ilmu pengetahuan dan mengembangkan serta menguasai teknologi; dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan ketrampilan teknis dan kecakapan praktis.

Menggesa transformasi pendidikan Indonesia merupakan suatu keniscayaan untuk mengentas masalah SDM di Indonesia. Dengan terlaksananya pendidikan manusia seutuhnya, pendidikan akan mampu mencetak anak-anak bangsa yang potensial dan siap berperan aktif dalam masyarakat dunia.

Sebagai generasi yang potensial, empat pilar pendidikan (UNESCO : learning to know, learning to do, learning, tobe, dan learning to live together) akan dapat terintegrasi dalam diri mereka yang nantinya memberikan kesejahteraan bagi kehidupan mereka di masa depan. Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia. *(Catatan Muhammad Herwan, Wakil Sekretaris Dewan Pendidikan Riau)

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang