Kamis, 10 Juni 2021 18:10

Berita dan Video,
Fakta di Balik Video Viral Bocah SD Bergelantungan Seberangi Sungai di Kuntu

Warganet dihebohkan dengan aksi menegangkan tiga bocah SD bergelantungan seberangi sungai Kampar Kiri. Berikut sejumlah fakta sebenarnya.

Riauterkini-PEKANBARU- Video pendek berdurasi 29 detik sejak pagi, Kamis (10/6/2021) menghebohkan jagad maya. Visual tiga bocah berseragam Sekolah Dasar (SD), dua wanita dan seorang pria bikin warganet tercengang. Mereka bertiga menyeberangi sungai dengan cara yang tak pernah terlintas dipikiran, yaitu bergelantungan di sisi keranjang rotan yang diikat sedemikian rupa di tali seling yang melintasi sungai. Menegangkan, karena para bocah bergelantungan dengan hanya berpegang sisi keranjang rotan. Tanpa pengaman di ketinggian sekitar 4 meter lalu meluncur deras ke seberang sungai.

Meskipun durasinya pendek, tapi.siapapun yang melihat aksi tiga bocah itu pasti menahan nafas, tegang dan mungkin sulit percaya, di Riau, provinsi konon kaya ada anak-anak harus menantang maut untuk pergi ke sekolah. Sebab, dengan ketinggian seperti itu, kalau terjadi ada yang jatuh, bisa fatal akibatnya.

Namun Kepala Desa Kuntu Turoba, Kecamatan Kampar Kiri, Kampar Asril Bakar membantah kalau keranjang di atas sungai yang digunakan ketiga bocah bergelantungan sebagai alat penyeberangan manusia.

"Itu keranjang pengangkut buah sawit dari kebun ke truk saat panen. Digunakan anak-anak main-main, yang kebetukan mereka pakai seragam sekolah" tuturnya menjawab riauterkini dalam perbincangan lewat telepon Kamis sore.

Dijelaskan Asril, lokasi anak-anak bermain itu memang masih masuk wilayah desanya, namun tempatnya jauh dari desa. Di kawasan pengembangan desa yang berjarak sekitar 5 kilometer. Kawasan itu merupakan perkebunan kelapa sawit mandiri mayarakat. Tidak banyak warga yang tinggal atau bermukim di sana.

Lebih lanjut Asril menjelaskan, bahwa Sungai Geringging yang dilintasi keranjang pengangkut sawit itu bukan sungai besar. Airnya tak dalam dan juga tak deras. Dalam kondisi normal, biasa diseberangi dengan sepeda motor atau jalan kaki. Karena itu ia menegaskan bahwa anak-anak itu sedang bermain, bukan karena keadaan terpaksa membahayakan diri untuk menyeberangi sungai demi berangkat sekolah.

"Sekarang banyak warga yang sengaja datang ke sana, termasuk ibu-ibu bermain. Ikut bergelantungan untuk selfi-selfi," paparnya.

Disampaikan Asril, ia justru menyayangkan pihak yang menyebarkan video itu, karena terbukti menimbulkan kesalah-pahaman yang besar. Ia berharap dengan penjelasan ini, tidak ada lagi pihak yang menganggap video itu gambaran terisolirnya Desa Kuntu dan sulitnya akses pendidikan anak-anak.

"Di desa kami fasilitas dan akses pendidikan sangat memadai. Ada SD sanpai SMA Negeri. Ada juga madrasah dan pondok pesantren. Jadi, video itu bukan seperti yang dipikirkan masyarakat luas yang melihat tanpa memahami kondisi yang sebenarnya," demikian penjelasannya.***(mad)

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang