Kamis, 4 Maret 2021 14:51

Pencabulan dan Kekerasan Anak Marak, Kadinsos Rohul Sarankan Belajar Tatap Muka Diaktifkan

Selama pandemi, Dinsos P3A Rohul mencatat angka kasus pencabulan dan kekerasan anak meningkat. Untuk itu dinas sarankan belajar tatap muka diaktifkan dengan tetap mengikuti Prokes.

Riauterkini-PASIRPENGARAIAN- Belakangan ini kasus pencabulan dan kekerasan terhadap anak di bawah umur marak terjadi di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau.

Sebagian besar pelaku pencabulan dan kekerasan terhadap anak perempuan berusia di bawah umur dilakukan orang terdekat korban, seperti ayah kandung korban.

Kasus pencabulan dan kekerasan terhadap anak di bawah umur membuat Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Rokan Hulu, Sri Mulyati, merasa prihatin.

Sri mengaku kasus pencabulan dan kekerasan anak di bawah umur di Kabupaten Rokan Hulu mengalami peningkatan saat penerapan pandemi Covid-19.

Terhitung mulai 2019 hingga Maret 2021, jelas Sri Mulyati, kasus pencabulan dan kekerasan anak di Kabupaten Rokan Hulu mengalami peningkatan signifikan.

"Kita prihatin kasus ini semakin meningkat di masa pandemi," jelas Sri Mulyati, Rabu 03 Maret 2021.

Sri Mulyati mengungkapkan sesuai catatan Dinsos P3A Kabupaten Rokan Hulu, pada 2019, kasus pencabulan dan kekerasan terhadap anak di bawah umur tercatat sekira 13 kasus.

Kemudian, pada 2020 ada sekira 28 kasus, dan selanjutnya mulai Januari sampai Maret 2021, tercatat ada sekira 7 kasus.

"Angka tersebut menunjukkan kasus pencabulan dan penganiayaan di Kabupaten Rokan Hulu mengalami peningkatan," ujarnya.

Upaya mengurangi kasus pencabulan dan kekerasan anak di Kabupaten Rokan Hulu, menurut Sri Mulyati, solusinya adalah mengaktifkan belajar tatap muka, dan tetap mengikuti protokol kesehatan atau Prokes.

"Karena yang saya lihat di tempat lain sekolah tatap muka sudah dilakukan, di Rokan Hulu saja yang belum," kata Sri.

Dengan diaktifkan belajar secara tatap muka, Sri Mulyati berharap hal tersebut dapat mengurangi kasus pencabulan dan kekerasan terhadap anak usia di bawah umur.

Setelah dicermati bersama, tambah Sri Mulyati, rata-rata kasus pencabulan dan kekerasan dialami anak di bawah umur sebagian besar dilakukan orang-orang terdekat korban, seperti ayah kandung, ayah tiri, tetangga korban, dan lainnya.

"Atau orang-orang yang di sekitar korban," ungkap Sri Mulyati lagi, dan berharap orang tua mengawasi kegiatan anaknya.

Untuk membantu para korban pencabulan dan kekerasan, Dinsos P3A Kabupaten Rokan Hulu sendiri kerap memberikan pelayanan psikologis ke korban, dengan bekerjasama dengan Dinsos Provinsi Riau.

"Pelayanan psikologis kita berikan kepada korban pencabulan dan penganiayaan untuk menghilangkan trauma dan ketakutan yang dialami korban," tuturnya.

Untuk memberikan pelayanan ke masyarakat, diakui Sri, Dinsos P3A Rokan Hulu akan bekerjasama dengan Polres Rokan Hulu, seperti melakukan sosialisasi ke masyarakat.

Masyarakat yang mengalami atau mengetahui kasus pencabulan dan kekerasan anak, kata Sri Mulyati, bisa melaporkan kejadian ke Kantor Dinsos P3A Rokan Hulu di Komplek Perumahan Pemkab Rokan Hulu di Desa Pematang Berangan, Kecamatan Rambah.***(zal)

Keterangan Foto: Kepala Dinas Sosial P3A Kabupaten Rokan Hulu, Hj. Sri Mulyati, S.Sos, M.Si.

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang