Selasa, 19 Januari 2021 17:41

Selain H Permata, Dikabarkan 2 orang Anak Buahnya Juga Turut Ditembak Petugas BC

Polda Riau terus dalami kasus penembakan H Permata oleh petugas BC Tembilahan. Dua anak buah korban disebut ikut tertembak.

Riauterkini - PEKANBARU - Setelah resmi dilimpahkan ke Polda Riau pada Senin (18/01/21) kemarin oleh Polda Kepri, kini kasus peyelundupan rokok ilegal yang menewaskan H Permata salah seorang pengusaha asal Batam resmi di ambil alih Polda Riau. Sementara selain H Permata, terdapat dua orang anak buahnya yang turut tertembak oleh petugas Bea Cukai Tembilahan.

Dikatakan Dirkrimsus Polda Riau, Kombes Pol Teddy Ristiawan menjelaskan dua orang itu adalah Daeng dan Bahar yang satu kapal dengan H Permata saat kejadian.

"Sejauh ini ada tiga orang, salah satunya adalah Haji Permata yang tertembak. Ini sedang kami dalami," terang Selasa (19/01/21).

Pihaknya juga telah melakukan olah TKP. Bahkan sudah ada 13 orang saksi yang dimintai keterangan.

"Masih terus kita gali keterangan-keterangan lain," jelasnya.

Meski sudah ada 13 orang yang diperiksa, namun belum ada saksi dari pihak Bea Cukai yang datang memenuhi panggilan untuk diperiksa dalam kasus penembakan terhadap di pengusaha asal Batam itu. Terang perwira menengah jebolan Akpol 1999 itu, seluruh saksi yang diperiksa berasal dari masyarakat.

Teddy tak ingin berspekulasi terkait kematian Haji Permata. Karena, Teddy mengaku belum mengetahui secara pasti bagaimana kronologi tewasnya korban di atas kapal dengan 3 luka tembak di dadanya.

Untuk diketahui, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kepulauan Riau (Kepri) sebelumnya mengaku telah menggagalkan penyelundupan 7,2 juta batang rokok ilegal pada Jumat (15/01/21). Haji Permata tewas tertembak dalam kejadian itu. Sedangkan rombongannya yang lain selamat.

Keluarga H Pertama justru tidak terima dengan tewasnya korban hingga melaporkan itu ke pihak Polda Kepri.

Menanggapi insiden itu, pengamat hukum Pidana Universitas Muhammadiyah Riau, Raja Desril SH MH menilai, penembakan terhadap seseorang yang diduga melakukan kejahatan merupakan upaya terakhir. Meski demikian, penembakan tidak boleh pada titik yang mematikan seperti di dada.

"Penembakan mestinya di titik-titik bagian tubuh yang tidak mematikan. Ketika yang diduga melakukan kejahatan tidak melakukan perlawanan yang dapat mengancam nyawa penegak hukum, maka penggunaan senjata api bagi penegak hukum tersebut patut diproses secara hukum," kata Desril.

Ia mengingatkan, aparat penegak hukum agar tidak melupakan hukum dalam menjalankan tugasnya. Artinya, jika hal itu dilakukan, maka aparat tersebut bisa dikatakan melanggar hukum.

Apalagi kejahatan yang dilakukan terduga pelaku bukanlah extraordinary crime (kejahatan luar biasa). "Jangan menegakan hukum dengan mengenyampingkan hukum itu sendiri. apalagi kasus yang diduga dilakukan seseorang tersebut bukanlah kasus extraordinary crime," bebernya.*(arl)

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang