Selasa, 19 Januari 2021 13:09

Tewas Tertembak Petugas BC, Polda Riau Periksa 13 Saksi Kematian H Permata

H. Permata tewas tertembak petugas Bea Cukai di Inhil. Polda Riau memeriksa 13 saksi untuk mengungkap kasus tersebut.

Riauterkini - PEKANBARU - Kasus kematian H Jumhan atau Haji Permata yang dikabarkan tewas tertembak petugas Bea Cukai Tembilahan dilimpahkan Polda Kepri ke Polda Riau kemarin, Senin (18/01/21). Lantaran peristiwa itu terjadi di perairan Kabupaten Indragiri Hilir yang terletak di Riau.

Sementara setelah dilimpahkan, Polda Riau langsung melakukan pemeriksaan terhadap 13 orang saksi. "Kita juga sudah melakukan olah TKP bersama Polres Indragiri Hilir di perairan," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau, Kombes Teddy Ristiawan, Selasa (19/01/21).

Meski sudah ada 13 orang yang diperiksa, namun belum ada saksi dari pihak Bea Cukai yang datang memenuhi panggilan untuk diperiksa dalam kasus penembakan terhadap di pengusaha asal Batam itu. Terang perwira menengah jebolan Akpol 1999 itu, seluruh saksi yang diperiksa berasal dari masyarakat.

Teddy tak ingin berspekulasi terkait kematian Haji Permata. Karena, Teddy mengaku belum mengetahui secara pasti bagaimana kronologi tewasnya korban di atas kapal dengan 3 luka tembak di dadanya.

Untuk diketahui, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kepulauan Riau (Kepri) sebelumnya mengaku telah menggagalkan penyelundupan 7,2 juta batang rokok ilegal pada Jumat (15/01/21). Haji Permata tewas tertembak dalam kejadian itu. Sedangkan rombongannya yang lain selamat.

Keluarga H Pertama justru tidak terima dengan tewasnya korban hingga melaporkan itu ke pihak Polda Kepri.

Menanggapi insiden itu, pengamat hukum Pidana Universitas Muhammadiyah Riau, Raja Desril SH MH menilai, penembakan terhadap seseorang yang diduga melakukan kejahatan merupakan upaya terakhir. Meski demikian, penembakan tidak boleh pada titik yang mematikan seperti di dada.

"Penembakan mestinya di titik-titik bagian tubuh yang tidak mematikan. Ketika yang diduga melakukan kejahatan tidak melakukan perlawanan yang dapat mengancam nyawa penegak hukum, maka penggunaan senjata api bagi penegak hukum tersebut patut diproses secara hukum," kata Desril.

Ia mengingatkan, aparat penegak hukum agar tidak melupakan hukum dalam menjalankan tugasnya. Artinya, jika hal itu dilakukan, maka aparat tersebut bisa dikatakan melanggar hukum.

Apalagi kejahatan yang dilakukan terduga pelaku bukanlah extraordinary crime (kejahatan luar biasa). "Jangan menegakan hukum dengan mengenyampingkan hukum itu sendiri. apalagi kasus yang diduga dilakukan seseorang tersebut bukanlah kasus extraordinary crime," bebernya.***(arl)

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang