Rabu, 18 Nopember 2020 19:49

Berita dan Video,
Catatan Isolasi Mandiri Keluarga Kontak Erat Pasien Covid-19 Meninggal

Saya dan beberapa keluarga harus menjalani isolasi mandiri. Kami adalah kontak erat abang, pasien Corona yang meninggal dunia.

RIAUTERKINI- Ditinggal pergi abang kandung satu-satunya, Ahmad Chudori bin Khusainu, dengan status pasien positif Corona adalah pukulan terberat dalam hidupku. Saat bapak meninggal 6 tahun lalu, saya bisa berlapang dada karena bisa memandikan, mengkafani, mensholatkan sekaligus memakamkan.

Tapi kini saya dan keluarga teramat terbelenggu. Protokol Covid-19 menghalangi kami melakukan seluruh fardhu kifayah secara sempurna untuk Kang Dori, begitu saya menyapanya. Kami hanya diizinkan mensholatkan jenazah Kang Dori di halaman UGD RS Aulia. Itupun jenazahnya berada dalam Mobil Ambulance. Prosesi pemakaman juga menempatkan kami sebagai penonton. Boleh datang ke TPU Tengku Mahmud Palas, Rumbai Pesisir, tapi kami tak boleh membantu. Seluruh tugas dikerjakan dua petugas pemakaman berpakaian khusus. Bersyukur sekitar Pukul 1.00 WIB dini hari, Sabtu (14/11/20) kami diizinkan berdoa di atas pusara Kang Dori.

Ini sungguh momen menyesakkan yang tak mudah dilerai. Ibarat "Sudah jatuh, tertimpa tangga." Itulah yang kini saya rasakan dan seluruh keluarga. Sejak Ahad (15/11/20) malam saya mulai tidur terpisah dengan istri. Membatasi kontak untuk melakukan isolasi mandiri. Saya merasa bergejala. Demam, agak pilek dan sedikit batuk. Tidur sendiri tanpa berani hidupkan AC. Badan panas-dingin.

Saya patut waswas, karena 8 jam sebelum meninggal, atau 3 jam sebelum Kang Dori dipindah ke ruang isolasi, kami sempat kontak fisik. Begitu saya datang, Kang Dori langsung mengulurkan tangan. Menyalami saya tanpa kata. Hanya pandangan matanya yang mengisyaratkan permintaan maaf. Itulah momen terakhir yang mustahil saya bisa lupa sampai akhir hanyat.

Kabar nestapa bertambah lagi. Banyak keluarga yang kontak erat dengan Kang Dori mengalami gejala serupa dengan saya. Ada Risa, keponakan yang selama 5 hari bapaknya dirawat, setia menemani. Kemudian kakakku dan dua adikku. Mereka juga sempat menjenguk Kang Dori. Kami semua harus melakukan isolasi mandiri.

Pihak Puskesmas Simpang Tiga lantas melakukan tracking. Kami berlima diminta menjalani tes swab. Hari ini, Rabu (18/11/20). Sebenarnya banyak keluarga yang mestinya diswab, namun menurut pihak Puskesmas kuotanya hanya lima orang.

Kami dijadwalkan diswab pukul 8.30 WIB, namun sampai pukul 9 lewat belum ada panggilan. Beruntung ibu yang sudah uzur, batal ikut. Kasihan jika harus menunggu terlalu lama. Fisiknya tak mendukung.

Tak sampai satu jam menunggu, kami dipanggil petugas untuk jalani tes swab. Bergiliran diambil sampel lendir dari rongga mulut dan hidung. Seumur hidup, ini sejarah bagi saya dan keluarga. Jalani tes untuk memastikan terpapar atau tidak. Kami berdoa, semoga hasil sweb yang harus ditunggu dalam hitungan hari, negatif.

"Nanti dihubungi untuk memberi tahu hasil swabnya, Pak. Sekarang silahkan pulang," tutur petugas.

Kami pulang begitu saja. Tanpa diberi saran untuk melakukan isolasi mandiri. Kami juga tidak diberi obat atau pun vitamin.***(ahmad s.udi)

Foto: Menunggu dites swab petugas di Puskesmas Simpang Tiga, Pekanbaru.

#satgascovid19
#ingatpesanibu
#ingatpesanibupakaimasker
#ingatpesanibujagajarak
#ingatpesanibucucitangan
#pakaimasker
#jagajarak
#jagajarakhindarikerumunan
#cucitangan
#cucitangandengansabun

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang