Ahad, 25 Oktober 2020 14:18

Petani Aren di Kaiti Rohul Kesulitan Pemasaran dan Perlu Pembinaan

Petani aren di Kaiti Desa Rambah Tengah Barat, Rohul, kesulitan memasarkan gula aren, dan masih perlu pembinaan.

Riauterkini-PASIRPENGARAIAN- Kelompok petani aren atau enau di Kaiti Desa Rambah Tengah Barat, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), mengaku kesulitan memasarkan produk. Petani mengharapkan pembinaan dari pemerintah.

Jamaluddin Nasution gelar Sutan Tuah, Ketua Kelompok Tani Aren di Kaiti Desa Rambah Tengah Barat, mengaku petani aren di daerahnya cukup banyak.

Dalam sehari, ungkap Jamaluddin, para petani bisa menghasilkan air aren atau nira sekira 500 liter. Bila diolah menjadi gula aren bisa menjadi 250 kilogram (Kg).

Pria berusia 50 tahun ini mengungkapkan untuk membuat 1 Kg gula aren memerlukan 5 liter air nira.

Gula aren yang diproduksi secara tradisional dibuat dalam bentuk batangan tersebut dijual Rp 25 ribu per Kg di pasaran.

Namun, diakui Jamaluddin, karena kesulitan memasarkan gula aren dan kurangnya pembinaan dari pemerintah, tidak sedikit petani aren menjual air nira ke warung tuak. Apalagi membuat gula aren membutuhkan beberapa jam.

Menurut pria yang pernah menjabat Kepala Desa Rambah Tengah Barat ini, bila air nira sebelum diolah dijual kepada pemilik warung tuak bisa dihargai Rp 5.000 per liter. Namun sebagian petani lebih memilih mengolah air nira menjadi gula aren.

Salah satu alasan petani menjual air nira ke warung tuak, kata Jamaluddin, karena sulitnya memasarkan gula aren. Apalagi selama ini kurangnya pembinaan dari pemerintah.

"Ini yang terus upayakan, bagaimana air nira ini bisa diproduksi sebagai oleh-oleh khas dari Rokan Hulu, selain gula aren," kata Jamaluddin saat berbincang dengan riauterkinicom, Ahad (25/10/2020).

Jamaluddin juga Pimpinan Kerapatan Adat Huta Haiti, mengakui untuk membantu ekonomi petani, ia sengaja membuka warung, tepat di sebelah Kantor Desa Rambah Tengah Barat, atau di Tempat Wisata Budaya Boru Namora Suri Andung Jati.

Di warungnya yang sederhana tersebut, Jamaluddin mengolah air nira menjadi minuman kopi yang biasa disebut masyarakat Rohul kopi nira atau kopi enau.

Selain kopi nira, sambung Jamaluddin lagi, di warungnya tersebut juga menyediakan kopi dengan pemanis gula aren.

"Sebenarnya air nira ini bisa diolah berbagai macam produk, seperti permen. Namun kami perlu semacam pembinaan dari instansi terkait. Ini juga untuk menyelamatkan generasi muda kita," pungkas Jamaluddin.***(zal)



Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang