Senin, 12 Oktober 2020 09:37

Paling Komplit Pantau Karlahut, Dashboard Lancang Kuning Kian Menasional

Inovasi Kapolda Riau berupa peringatan dini karlahut dinasionalisasi. Kini, dashboard Lancang Kuning digunakan provinsi rawan karlahut.

Riauterkini-PEKANBARU-Sebagai Bapak Pemantau Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) modern, Kapolda Riau, Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi, menginovasi sebuah sistem pemantau dini karhutla berbasis android yang diberi nama Dashboard Lancang Kuning. Maret lalu, Kapolri Jenderal Idham Aziz dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto memboyong inovasi ini menjadi Dashboard Lancang Kuning Nasional disaksikan Kepala BNPB Letjen Doni Monardo.

Demikian diungkapkan mantan Wakil Koordinator Jikalahari, Ahmad Zazali, Senin (12/10/20). Itu artinya, semua provinsi yang rawan karhutla, akhirnya memakai inovasi Kapolda Riau, Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi dalam melakukan antisipasi munculnya Karhutla di daerahnya masing masing.

"Keduanya sama-sama inovator dan inspirator. Hanya beda di momen dan peruntukannya. Tapi yang jelas, Agung telah menunjukkan bahwa dia adalah polisi yang sangat care dengan lingkungan di Riau," terang Jali.

Munculnya terobosan berbeda tadi kata Ahmad Zazali, menjadi bukti kalau Polda Riau telah mengupdate diri dengan situasi yang ada. Paham apa sebenarnya yang diperlukan Riau saat ini meski masalah illegal loging juga tetap menjadi perhatian serius.

Senada dengan itu, aktivitas Jaringan Masyarakat Gambut Riau, Fadil Nandila mengatakan bahwa tak hanya membuat inovasi, Kapolda Riau, Agung juga serius memberangus oknum-oknum yang terindikasi membikin Riau berasap.

"Dalam catatan yang ada, perkara karhutla itu ada sekitar 56. Yang sudah dikirim ke jaksa 50 Kasus. Terus, 2 korporasi yang disidik tersangkanya ada 65 orang. Yang sudah dilimpahkan ke kejaksaan 56 orang. Lagi-lagi saya bilang ini bentuk keseriusan," ujarnya.

LSM Usir Kapolda Riau

Kendati inovasi Kapolda Riau menasional dan digunakan oleh provinsi lain yang rawan karhutla, tetapi terkait accident saat penanganan aksi demo UU Ciptaker di DPRD, oknum aktivis lingkungan meminta Kapolda Riau diusir dari Riau.

Terkait pengusiran itu,Ketua Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Riau, Amir Arifin Harahap tidak sepaham dengan pengusiran tersebut. Menurut mahasiswa Hukum Tata Negara Universitas Lancang Kuning ini, mestinya aksi pada Jumat itu kondusif. Sebab berdasarkan konsolidasi, aksi itu aksi damai. Tapi ternyata di lapangan beda.

"Lantaran yang ikut aksi beribu orang, agak sulit dikontrol, sudahlah begitu, ada pula pihak yang sengaja datang memprovokasi. Terjadilah aksi dan kondisi yang tidak sepatutnya terjadi," katanya.

Atas keadaan itu kata Amir, mahasiswa minta maaf kepada masyarakat, khususnya masyarakat Kota Pekanbaru, jika oleh aksi tadi, aktifitas masyarakat terganggu dan fasilitas umum ada yang rusak. Kejadian itu kata dia akan jadi pelajaran bagi pihaknya untuk lebih menghindari kericuhan.

"Sebab tujuan kami memang mau menyampaikan aspirasi, bukan mau rusuh,. Kami sudah berkomitmen bahwa kedepannya akan menggelar aksi secara damai dan kondusif. Tolong polisi mengawal kami. Kami berharap intel mau membantu memantau, kalau ada yang mencurigakan, langsung diamankan," pintanya.

Lantas soal kejadian Jumat lalu, menurut Amir mahasiswa sangat terbuka dan ingin untuk duduk satu meja. Ia berharap semua pihak dapat menyikapi semuanya dengan pikiran yang jernih dengan mencari solusinya.

Abdul Wahid sangat mendukung harapan Amir itu. Kalau ada masalah, buka dialog. Dialog itu lebih baik. Tokoh muda yang juga anggota DPR RI, Abdul Wahid juga tak setuju tentang adanya pengusiran tersebut. Karena mengusir orang, tak tepat dan tak budaya orang Melayu.

"Mahasiswa adalah bagian dari perubahan untuk generasi yang akan datang. Ciri khas mahasiswa itu adalah mengedepankan intelektual. Sebab mahasiswa itu adalah mereka yang sudah bisa diajak diskusi. Kalau enggak bisa diajak diskusi, enggak mahasiswa namanya. Tempatkanlah posisi mahasiswa itu di tempat yang mulai," pintanya.*(H-we)

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang