Kamis, 6 Agustus 2020 18:56

Covid 19, Transaksi Digital Meningkat

Kendati masa covid-19 masih berlangsung, namun transaksi non tunai (digital) meningkat. Kemudahan bertransaksi menjadi daya tariknya.

Riauterkini-PEKANBARU-Secara nasional, transaksi non tunai menggunakan mobile banking meningkat mencapai 70% sepanjang bulan Februari sampai Juni 2020. Demikian diungkapkan Deputy Bank Indonesia Kantor Perwakilan Riau, Asral Masruri Kamis (6/8/20).

Di awal tahun 2020 Bank Indonesia telah gencar melakukan kampanye penggunaan QRIS (QR Code Indonesian Standard) sebagai alternatif pembayaran non tunai bagi merchant dan UMKM. Bank Indonesia telah meluncurkan blueprint Sistem Pembayaran Indonesia Tahun 2025 atau yang dikenal dengan SPI 2025.

"Blueprint ini di latar belakangi bahwa saat ini kita sudah berada di era digital, sehingga perlu ada transformasi sistem pembayaran yang menyesuaian dengan perubahan zaman saat ini. Sistem pembayaran dalam perekonomian suatu negara diilustrasikan sebagai peredaran darah di tubuh manusia, jika peredaran darah tidak lancar maka tubuh manusia tidak dapat berfungsi dengan baik. Sama halnya dengan sistem pembayaran, jika tidak berjalan dengan lancar maka dapat menghambat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Ilustrasi ini sesuai dengan tagline Sistem Pembayaran dalam SPI 2025, yaitu harus aman, lancar, dan efisien," Terang Asral. Pandemi COVID-19 saat ini menurutnya dianggap sebagai blessing in disguise bagi percepatan implementasi transaksi non tunai, karena pembayaran tunai tidak lagi menjadi pilihan utama dan masyarakat beralih menggunakan non tunai. Hal ini ditenggarai oleh isu bahwa uang tunai berpotensi menjadi salah satu media penularan virus COVID-19, sehingga masyarakat akan cenderung berhati-hati dalam menggunakan uang tunai dan berdampak pada preferensi untuk mencari alternatif pembayaran dengan non tunai, salah satunya dengan menggunakan QRIS.

Proses perjalanan uang tunai hingga sampai ke tangan masyarakat, tambah Asral, tidak taken for granted, karena membutuhkan resources yang besar, baik SDM dan SDA. Oleh karena itu untuk efisiensi sumber daya tersebut, perlu ada transformasi sistem pembayaran ke arah digital (non tunai).

"Sudah saatnya masyarakat Indonesia beradaptasi mengikuti perkembangan ekonomi digital, terutama dalam hal transaksi pembayaran. Penggunaan transaksi digital yang tidak memerlukan adanya kontak fisik antara pembeli dan penjual, sangat dibutuhkan di era pandemi COVID-19 saat ini. QRIS sebagai salah satu instrumen sistem pembayaran digemari oleh kaum millennial, karena penggunaannya yang sangat mudah dan efisien," terangnya.

Untuk menggunakan QRIS, menurut Asral pengguna hanya cukup memindai barcode melalui salah satu aplikasi uang elektronik berbasis server yang telah dimiliki dan melakukan pembayaran. Di samping itu selain penggunaan QRIS, transaksi pembayaran non tunai lainnya untuk transaksi retail yang meningkat secara signifikan di era COVID-19 saat ini adalah transaksi melalui mobile banking.

Hal ini dikarenakan penggunaan mobile banking tidak dibatasi oleh dimensi waktu maupun tempat, sehingga selama pengguna terhubung dengan koneksi internet kapan saja dan dimana saja, transaksi pembayaran tetap dapat dilakukan. Penggunaan sistem pembayaran non tunai saat ini belum menjadi suatu keharusan namun masih menjadi pilihan, hanya sektor-sektor tertentu yang diwajibkan untuk melakukan transaksi dengan non tunai. Sebagai contoh pada transaksi pembayaran di gerbang tol dan gerbang keluar bandara, pembayaran non tunai diwajibkan karena terkait dengan sistem antrian, dimana hal tersebut membutuhkan proses pembayaran yang cepat agar tidak menimbulkan kemacetan.

Berbeda halnya dengan transaksi pembayaran di retail/merchant yang tidak membutuhkan waktu singkat untuk menyelesaikan transaksi pembayaran, sehingga sistem pembayaran non tunai dapat menjadi sebuah pilihan saja bagi konsumen. Jika penerapan kewajiban sistem pembayaran secara non tunai tidak dilakukan secara tepat, misalnya hanya menggunakan salah satu pilihan saja (tunai atau non tunai), maka dapat berpotensi menghilangkan preferensi calon pelanggannya. Untuk bergerak ke arah sistem pembayaran non tunai, hal pertama yang dibutuhkan adalah infrastruktur jaringan yang memadai untuk mendukung konektivitas.

Saat ini masih terdapat daerah-daerah di provinsi Riau yang menjadi blankspot dalam hal infrastruktur jaringan, sehingga kebutuhan akan uang tunai tetap ada. Namun kendala infrastruktur ini masih dapat teratasi dengan menjalin kerjasama melalui perusahaan IT di Indonesia.

Hal selanjutnya yang menjadi tantangan adalah bagaimana mengubah mindset masyarakat untuk menggunakan non tunai. Meskipun infrastruktur jaringan yang memadai sudah tersedia, jika masyarakat tidak ada keinginan untuk menggunakan non tunai, implementasi sistem pembayaran non tunai akan sangat sulit.

Oleh karena itu, saat ini pembayaran non tunai masih ditawarkan sebagai alternatif pembayaran karena mengubah preferensi masyarakat membutuhkan waktu. Contoh lainnya untuk mengilustrasikan transaksi non tunai sebagai alternatif system pembayaran misalnya, penggunaan QRIS di suatu kedai kopi akan menarik pelanggan dari kelompok milenial untuk menjadi potensial buyer yang baru, karena karakter milenial yang sudah familiar dengan penggunaan transaksi non tunai. Namun pelanggan lama kedai tersebut yang mungkin sudah terbiasa dengan transaksi tunai, tetap harus di jaga, sehingga sistem pembayaran non tunai ini hadir sebagai alternatif pilihan pembayaran bukan kewajiban satu-satunya.

Hal ini mengindikasikan pembayaran non tunai belum dapat menjadi keharusan, karena pilihan untuk pembayaran secara tunai tetap harus dibuka demi menjaga sustainability.*(H-we)

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang