Selasa, 28 Juli 2020 10:22

Sumber Ketahanan Pangan, BRG Bersama Pokmas Panen Raya Ubi Kayu

Badan Restorasi Gambut turut membangun ketahanan pangan. Seperti dengan sukses budidaya ubi kayu di Tapung, Kampar.

Riauterkini - PEKANBARU - Panen raya ubi kayu di desa Karya Indah, Tapung, Kampar, Senin (27/07/20) menjadi salah satu bukti kesungguhan Badan Restorasi Gambut (BRG) dalam menjaga lahan gambut agar dapat memberikan manfaat khususnya dalam meningkatkan perekonomian, serta mensejahterakan masyarakat sesuai konsep ketahanan pangan di samping upayanya mencegah bencana kebakaran hutan dan lahan di wilayah itu. Tentu program ini juga masih sejalan dengan program revitalisasi gambut.

Kepala BRG Republik Indonesia, Nazir Foead hadir langsung dalam gelaran paman raya ubi di desa yang berbatasan langsung dengan kota Pekanbaru itu. Dimana selain ikut panen raya, Ia juga meluncurkan program ketahanan Pangan serta menandatangani kerjasama dalam program revitalisasi ekonomi bersama beberapa kelompok masyarakat (pokmas) daerah itu.

Diterangkan Zamzami selaku Ketua Pokmas Tunas lahan yang kini penuh dengan tanaman ubi dan dilakukan panen raya itu sebelumnya adalah semak belukar. Bahkan lahan itu juga beberapa kali sempat terbakar dan menjadi penyumbang asap di Riau.

"2018 di sini pernah terbakar. Namun semenjak kita dibina oleh BRG melalui Dinas LHK kebakaran hingga saat ini tak pernah terjadi," katanya.

Ia menjelaskan di tangan kelompoknya yang beranggotakan 15 orang, lahan seluas 10 hektar mereka olah dengan menanami lahan tersebut dengan tanaman ubi. "Kita mulai menggarap lahan ini sejak akhir September 2019. Artinya hampir 11 bulan sejak penanaman dan hari ini kita sudah bisa panen," paparnya.

Ujar Zamzami, pemilihan ubi sendiri merupakan permintaan dari kelompoknya. Lantaran wilayah itu memang sangat cocok ditanami tumbuhan berkarbohidrat tinggi itu.

"Ini panen perdana. Nanti panennya kita diskusikan lagi apakah mau dijual langsung atau kita oleh terlebih dahulu," jelasnya.

Untuk dijual langsung, Ia sempat khawatir dengan harga jual ubi yang kini anjlok dipasaran. Yang biasanya mencapai Rp1.300 kini dimasa pendemi covid-19 hanya Rp700-Rp800 saja.

"Kita kembali meminta bantuan kepada pemerintah untuk turut memfasilitasi penjualan hasil budidaya ini,"

Sementara, Bupati Kampar Catur Sugeng Susanto yang hadir dalam gelaran tersebut menuturkan program yang dihadirkan oleh BRG ini sangat baik karena dapat langsung dirasakan oleh masyarakat. "Tentu ini mendukung masyarakat tetap produktif dan perekonomian terus berjalan. Kami menyambut gembira atas hadirnya program ini. Semoga berjalan baik dan berkelanjutan. Kita berharap kepada BRG ke depan terus memberikan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat sehingga perekonomian tetap terjaga di samping menekan perkara karhutla," bebernya.

Diinformasikannya, Kabupaten Kampar memiliki sekitar 191 ribu hektar lahan gambut yang tersebar di lima kecamatan. Seperti Tapung, Siak Hulu, Perhentian Raja, dan Kampar Kiri Hilir.

" Semoga program ketahan pangan dan revitalisasi gambut dapat kembali hadir di wilayah itu, sehingga mendukung perekonomian masyarakat," harapnya.

Sementara itu, dalam kesempatannya Nazir Foead menjelaskan Riau merupakan provinsi yang sangat penting untuk program restorasi gambut. "Kita pernah dipanggil pak presiden khusus membahas Riau dan beliau berpesan banyak khusus Riau pada Februari lalu," terangnya.

Dikatakannya, selama empat tahun hadir bersama masyarakat dalam merestorasi gambut, terdapat banyak catatan yang harus terus diperhatikan untuk kedepannya. Meski begitu, keputusan program restorasi gambut diarahkan kepada masyarakat adalah langkah yang sangat tepat. Karena masyarakat mendapatkan langsung manfaat.

Kemudian, rasa kepemilikan akan lahan tersebut lebih tinggi dengan mengolah, menggarap, membangun serta memelihara lahan itu. Artinya jika rasa memiliki tinggi maka lahan tersebut akan terjaga dari bencana karhutla.

Ia menceritakan untuk panen raya di atas lahan gambut 10 hektar itu, potensi petani dapat menghasilkan Rp30 juta setiap hektarnya. Ini dihitung dengan akumulasi harga Rp1000 perkilonya.

"Kita tengah diskusikan mengenai anjloknya harga ubi, bukan hanya di Kampar namun juga di wilayah lain. Misalnya juga sagu di Meranti. Kita berharap pasar dapat menyerap hasil bumi dari masyarakat ini. Jika tidak nanti kita akan carikan solusi sesuai instruksi dari pak presiden," terangnya.

"Kita berharap, untuk kedepannya kita dapat berbagi anggaran dari Pemerintahan Provinsi dan Pemkab. Misalnya dana desa dipakai sebagian untuk merestorasi gambut," tambahnya.

Diinformasikan ya, saat ini sudah ada puluhan desa yang dana desanya dianggarkan sebagian digunakan untuk restorasi gambut. Jumlah itu hadir dari 500 desa yang telah bekerjasama dengan BRG.

ā€¯Untuk tahun ini, kita apresiasi sekali kepada masyarakat, pemerintah serta pihak terkait. Karena kejadian karhutla sangat kecil dibandingkan tahun lalu. Meski begitu kita harus waspada karena masih ada satu setengah bulan lagi menghadapi musim kemarau," ungkapnya.

Nazir menjelaskan asap memang pernah menjadi hambatan dan keluhan dari negara lain. Namun sejak 2016 dengan sungguh-sungguh menekan angka kasus karhutla, saat ini tidak ada lagi keluhan dilevel kepemimpinan negara maupun di level menteri terkait asap.

"Presiden menginstruksikan gambut harus di jaga, dipantau tetap basah dengan terus melibatkan dan memperhatikan tingkat kesejahteraan masyarakat. Ini strategi yang kita ambil dengan sebutan revitalisasi gambut. Untuk 2020 ini masih ada beberapa program seperti program pembuatan skat kanal, pemeliharaan skat kanal, sumur bor, revitalisasi, dan sebagainya. Untuk 7 provinsi yang ada telah disiapkan anggaran sebanyak Rp16 miliar," tutupnya.***(arl)

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang