Kamis, 9 Juli 2020 15:39

Agustus-September Kemarau, BBTP Sudah Siapkan Pesawat TMC di Riau

Pesawat TMC sudah disiapkan untuk melakukan hujan hujan buatan. Agustus-September diprediksi sudah masuk kemarau.

Riauterkini - PEKANBARU - Badan Pengkajian dan Penerapan Tekhnologi (BPTP) sudah siapkan tiga pesawat guna melakukan Tekhnologi Modifikasi Cuaca (TMC) di lima wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Untuk Sumatera yakni Riau, Jambi dan Sumatera Selatan. Khusus untuk Riau, TMC akan diintensifkan bulan ini. Sebelum memasuki Agustus mendatang, curah hujan di Riau diperkirakan tinggi.

"Untuk pesawat TMC, kita masih bekerja sama dengan TNI-AU. Terakhir koordinasi dengan 26 Juli, sudah disiapkan tiga pesawat untuk mengcover ditiga wilayah (di Sumatera) sekaligus," kata Kepala Bagian Umum Balai Besar Tekhnologi Modifikasi Cuaca (BBTMC BPPT) Jon Arifian, usai Rakor Peningkatan Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Karhutla di Hotel Pangeran, Kamis (9/7/20).

Menurut Jon Arifian, sebelumnya Gubernur Riau H Syamsuar juga sudah berkirim surat yang ditujukan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPBD) pada 7 Juli lalu.

"Pak Gubernur sudah berkirim surat, pesawat TMC juga sudah disiapkan, tinggal BNPB lagi, kapan waktunya, yang jelas Juli ini sudah pas potensi awan hujan juga banyak," papar Jon Arifian.

Ada pun alasan akan memaksimalkan TMC pada Juli ini disaat curah hujan di Riau cukup tinggi. Karena jika menunggu Agustus dan September saat kemarau datang, potensi awan mengandung hujan sudah berkurang.

Dikhawatirkan, kelembaban lahan gambut yang berkurang, akibat kemarau serta tak optimalnya TMC, mengakibatkan potensi Kebabakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mudah terjadi.

"Secara umum begitu, saat Juli-September musim panas baru TMC. Tapikan potensi awan hujan sudah kurang. Makanya, waktu yang pas Juli, saat curah hujan dan potensi awan banyak," ujar Jon Arifian.

Ada tiga hal yang diharapkan TMC yang akan dimaksimalkan pada Juli ini, disaat curah hujan dan potensi awan banyak. pertama, tinggi muka air tanah gambut bisa dipertahankan diatas minus 40 centi. Hal ini dinilai sebagai langkah aman kriteria untuk ancaman Karhutla.

Kemudian kedua, sebagai bentuk upaya meminimalisir munculnya titik api di lahan gambut yang rawan terjadinya Karhutla. Sedangkan ketiga diharapkan, dengan adanya curah hujan yang banyak maka visibility bisa terjamin. Sehingga tak mengganggu aktivitas masyarakat.***(mok)

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang