Senin, 2 Maret 2020 19:05

Abdurrab Foundation Gelar Seminar Internasional Budaya Melayu

Datangkan 3 pembicara dari luar negeri, Abdurrab Foundation menggelar 2 kegiatan Budaya Melayu bertaraf Internasional.

Riauterkini-PEKANBARU- CEO Abdurrab Foundation, Susiana Tabrani, Senin (2/3/20) mengatakan bahwa sebagai upaya mempertahankan dan melestarikan budaya Melayu dan menghadirkan nilai nilai budaya Melayu di perilaku keseharian masyarakat Riau khususnya, Abdurrab Foundation menggelar 2 kegiatan bertaraf internasional.

2 kegiatan tersebut adalah Seminar Internasional bertemakan Alam Melayu : Sejarah, Warisan dan Perjuangan Identitas dan Kuliah Internasional dan Diskusi Budaya Ilmu yang bertemakan Budaya Ilmu, Asas Kebangkitan Peradaban dan Tantangannya.

"Kita hadirkan 5 pembicara, 3 diantaranya dari luar negeri. Yaitu, M Syukri dari Akademi Jawi Malaysia, Dr Phaosan Jahwae Akademisi Fattani University Thailand dan Nik Mansour Nik Halim Budayawan Melayu dari Champa Vietnam. Sedangkan dari Indonesia, Budayawan dan Sastrawan Riau, Rida K Liamsi serta Khairul Ashdiq dari Universitas Abdurrab," terang Susiana Tabrani.

Untuk kegiatan kedua, tambah putri tokoh Riau, Tabrani Rab ini, akan digelar Kuliah Internasional dan Diskusi Budaya Ilmu yang menghadirkan Chairholder Pemikiran Islam Syed Muhammad Naquib Al Attas Raja Zarith Sofiah CASIS Universitas Teknologi Malaysia, Prof Dr Wan Mohd Nor Wan Daud.

"Untuk kegiatan Seminar Internasional, akan di gelar pada 11 Maret 2020. Sedangkan acara Kuliah Internasional dan Diskusi Budaya Ilmu akan digelar pada 12 Maret 2020. Kedua acara tersebut akan dilaksanakan di Ballroom Susiana Tabrani Convention Hall di komplek At Tabrani Islamic Center Jl Bakti-Sukarno Hatta I Riau," terangnya.

Tujuan dihelat nya acara tersebut menurut Susiana adalah untuk mengembangkan pendidikan dengan budaya ilmu berbasis iman, adab, manfaat, dengan mengambil inspirasi dari warisan nilai-nilai Melayu-Islam. Acara ini juga realisasi dari cita cita Yayasan untuk menyelamatkan generasi bangsa melalui pendidikan.

" Kegiatan itu terus kita tajamkan dan buat lebih spesifik dimana mencanangkan nilai-nilai Rabbani Amanah dan Beradab di semua institusi yang berada di bawah yayasan. Kita meyakini bahwa Islam sangat komprehensif termasuk dalam kajian alam Melayu yang semenjak pengaruh sekular dalam dunia pendidikan mengakar di masyarakat telah menjadikannya sebatas bidang budaya tanpa dirasakan bahwa tanggung jawab dan perhatian kita terhadap bangsa, budaya dan bahasa adalah memperjuangkan agama kita itu sendiri dan kita tahu perkembangan sejarah dan peradaban bangsa-bangsa di Alam Melayu tak dapat dipisahkan dari Islam," tambahnya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga mengingat akan sejarah dan warisan bangsa kita di alam Melayu yang sangat penting dimana saat ini mulai dilupakan. Sejarah dan warisan tersebut adalah modal penting dalam menghadapi dunia yang semakin global sehingga kita tidak mudah hanyut dalam budaya asing yang bercanggah dengan nilai agama dan kearifan lokal kita di Alam Melayu.

"Modal yang sebenarnya menjadikan kita bisa berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan bangsa lain karena memang fakta leluhur kita dahulu demikian adanya. Usaha ini kita sebut sebagai perjuangan identitas dan kita akan belajar kepada saudara kita di Thailand di Vietnam bagaimana perjuangan mereka mempertahankan agama dan budaya Islam melayu di tengah keadaan mereka yang minoritas.


Sementara itu, Khairul Ashdiq mengatakan bahwa Seminar Internasional ini menghadirkan 3 pembicara dari luar negeri yang 2 diantaranya adalah negara dimana kaum Melayu Islam menjadi kaum minoritas.

Untuk itu, tambahnya, pembahasan yang menarik ini perlu diketahui oleh warga Melayu Riau sebagai bentuk pembelajaran. Karena tidak akan lepas dari perilaku yang bercermin dari kearifan budaya Melayu agar bisa di terima semua pihak. Termasuk di tengah keminoritasan.*(H-we)

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang