Senin, 10 Pebruari 2020 19:01

Segel PT BBF di Inhu, Anggota DPR RI Berharap KLHK Tidak Tebang Pilih

Penyegelan wilayah PT Bayas Biofuel diduga lakukan pencemaran lingkungan mendapat tanggapan wakil rakyat. Anggita DPR RI Abdul Wahid berharap tidak ada tebang pilih.

Riauterkini-RENGAT-Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) langsung melakukan penyegelan di area PT Bayas Biofuel (PT BBF) pasca dugaan pencemaran lingkungan yang dilakukan perusahaan pemasok bahan baku biodiesel bagi Pertamina, penyegelan tersebut mendapat perhatian berbagai pihak termasuk anggota DPR-RI Abdul Wahid yang berharap KLHK tidak tebang pilih dalam menegakan aturan.

Harapan tidak adanya tebang pilih dalam menegakan aturan pasca penyegelan PT BBF oleh KLHK yang diduga melakukan pencemaran lingkungan disampaikan, Abdul Wahid anggota Komisi VII DPR-RI bidang Energi dan Sumber Daya Mineral dan Lingkungan Hidup Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Senin (10/2/20) melalui selulernya.

"Dengan penyegelan terhadap PT BBF yang diduga telah mencemari lingkungan dengan membuang limbah B3, kita berharap KLHK dapat menuntaskan dan tidak tebang pilih dalam menegakan aturan. Beri efek jera agar menjadi contoh bagi yang lainya, sebab pencemaran lingkungan tersebut jelas sangat membahayakan tidak hanya terhadap ekosistim tetapi juga terhadap manusia," ujarnya.

Diungkapkamya, dengan proses hukum yang tuntas dan tegas tentunya kedepan pelanggaran lingkungan berupa pencemaran yang dilakukan korporasi dapat dihindarkan. Apalagi saat ini tidak ada lagi istilah orang kuat pemilik korporasi, karena semua sama haknya dimata hukum.

"Pemilik korporasi harus mematuhi semua mekanisme hukum yang berlaku, seperti pengelolaan limbah sesuai ketentuan. Apabila melanggar mekanisme yang ada tentunya mekanisme hukum yang harus diterapkan, sesuai pelanggaran yang dilakukan. Jadi untuk efek jera tidak hanya penyelesaian sengketa di luar persidangan yang dapat diterapkan, namun tindakan tegas secara pidana bagi yang bertanggung jawab dapat juga diberlakukan," ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, dugaan pencemaran lingkungan yang dilakukan PT BBF mencuat pasca dilakukanya Sidak oleh Komisi III DPRD Inhu, dimana dalam Sidak tersebut ditemukan adanya limbah yang diduga B3 yang berserakan di areal PT BBF yang beroperasi di Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Inhu.

Anak perusahaan PT Darmexs Grup tersebut diduga dengan sengaja membuang limbah B3 tanpa terlebih dahulu mengolahnya melalui IPAL yang dimiliki. Ironisnya dengan adanya temuan limbah tersebut, PT BBF justru tidak kooperatif saat diundang dengar pendapat oleh Komisi III DPRD Inhu. Hingga akhirnya lokasi pembuangan limbah yang lagi ditimbun untuk menutupi adanya limbah tersebut di segel oleh pihak KLHK. *** (guh)

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang