Selasa, 24 Desember 2019 06:52

Kritik Perusahaan, Seorang Guru PT Palma Satu di Inhu Dijadikan Buruh Tebas Semak

Seorang guru di SD milik PT Palma Satu, Inhu tak lagi mengajar. Karena mengkritik perusahaan, ia kini dipindah jadi buruh tebas semak.

Riauterkini-RENGAT-Miris, seorang guru yang telah enam tahun mengabdi mencerdaskan anak bangsa di PT.Palma Satu anak perusahaan Duta Palma Grup di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) di jadikan buruh tebas di kebun sawit, setelah mengkritik kebijakan perusahaan melalui media sosial (Medsos).

Dijadikanya seorang guru bernama Zul Ishak menjadi buruh tebas semak di kebun sawit PT.Palma Satu, akibat mengkritik kebijakan perusahaan melalui Medsos tempatnya mengabdi mencerdaskan anak bangsa selama enam tahun. Disampaikan Zul Ishak kepada awak media, Senin (23/12/19) di Pematang Reba.

"Enam tahun sudah saya mengabdi dengan mengajar di SD PT.Palma Satu, namun akibat saya membuat status di Medsos karena hak-hak saya seperti gaji sering terlambat dibayarkan. Perusahaan memindahkan saya menjadi buruh tebas di kebun sawit," ujarnya.

Pemindahan status Zul Ishak dari guru menjadi buruh tebas di kebun sawit memang tidak dituangkan dalam putusan yang dikeluarkan PT. Palma Satu pada tanggal 05 Desember 2019, dimana PT Palma Satu yang berada di Kecamatan Seberida, Inhu mengeluarkan Surat Keputusan nomor: 342/SK-Ket/Palma-A/XII/2019.

Dalam surat tersebut PT. Palma Satu memutuskan dan menetapkan mutasi Zul Israk dari jabatan lama sebagai guru SD, menjadi jabatan yang diatur oleh Asisten Divisi PT Palma Satu, Unit Kebun Palma-A Divisi IV mulai terhitung sejak tanggal 01 Desember 2019. Surat keputusan tersebut ditandatangani Pjs EST Manager PT. Palma Satu Budianto pada 14 Desember 2019.

"Dalam surat keputusan yang dikeluarkan PT. Palma Satu itu memang tidak disebutkan saya dipindahkan kemana, namun sejak 1 Desember 2019 saya dipindahkan ke kebun menjadi buruh tebas. Padahal sebelum surat keputusan itu dikeluarkan, saya sudah dipanggil managemen untuk klarifikasi dan diminta menghapus status saya di Medsos. Permintaan itu sudah saya penuhi dengan menghapus status tersebut," ungkapnya.

Menyikapi keputusan PT. Palma Satu yang memutasi dirinya dari seorang guru menjadi buruh tebas kebun sawit, Zul Ishak menilai dan merasa kebijakan tersebut semena-mena serta melecehkan profesi guru. Sebab walau statusnya hanya seorang guru di sekolah swasta, setidaknya perusahaan dapat menghargai profesi mulia tersebut dengan memindahkanya sesuai dengan profesinya atau memberinya teguran tertulis sebelumnya sesuai kesalahan yang dibuatnya.

"Kalau seperti ini kebijakan perusahaan terhadap karyawan tanpa ada kesepakatan kedua belah pihak, sama saja secara tak langsung menyuruh saya mengundurkan diri, agar pihak manajemen terhindar dari membayar pesangon. Apabila saya tak ditempatkan sebagai guru lagi, saya minta pihak perusahaan agar mengeluarkan hak-hak (pesangon) saya selama enam tahun," jelasnya.

Sementara itu manajemen PT. Palma Satu hingga berita ini dibuat belum dapat dihubungi untuk dikonfirmasi terkait dimutasinya Zul Ishak dari seorang guru menjadi buruh tebas kebun sawit. Begitu juga dengan telpon seluler Budianto selaku Pjs Est Manager PT. Palma Satu belum dapat dihubungi. *** (guh)

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang