Selasa, 10 Desember 2019 21:30

Chevron Geology Fieldtrip (2), Sejarah Terbentuknya Danau Singkarak

Singkarak menjadi danau Sesar Geser Besar Sumatera yang diperkirakan ada sejak 1-2 juta tahun lalu. Terbentuk dari rengkahan bebatuan.

Riauterkini-PEKANBARU-Fieldtrip Geologist Chevron ke Sumbar hari kedua, rombongan bergerak dari Hotel Emersia Batusangkar menuju Sawahlunto. Gerimis mengiringi kepergian rombongan dari kota dengan Istano Basa Pagaruyuangnya itu. Tentu rombongan tak melewatkan kesempatan untuk sejenak menikmati pesona istana itu dan mengabadikannya.

Hari masih pagi, basah dan dingin, saat rombongan meneruskan perjalanan ke Guguak Cino. Di sini, rombongan melihat jenis batuan basemen granite. Singkapan Basemen Granit Guguk Cina adalah salah satu contoh singkapan besemen batuan beku sebagai batuan dasar di cekungan Ombilin berumur Jurassic.

Pada kondisi lapur atau pecah pecah terekahkan granit ini juga bisa berfungsi sebagai reservoar. Batuan ini merupakan intrusi batuan beku dari sebuah dapur magma yang menembus batuan di sebuah lempeng benua atau kontinen. Basemen granit juga terdapat di Cekungan Sumatera Tengah meski dengan sebaran yang tidak begitu luas.

Pada Guguk Chino terlihat ada garis-garis putih memanjang di permukaan batuan granit itu. Dijelaskan, itulah yang disebut dengan urat-urat kuarsa. Kemunculan urat-urat kuarsa ini menandakan bahwa di sana terdapat butiran emas.

Perjalanan diteruskan ke Lubuk Pinang. Di sana peserta rombongan melihat jenis batuan Formasi Sangkarewang. Singkapan Formasi Sangkarewang adalah unit batuan sedimen yang berumur Eocene yang merupakan rekanan dari sedimentasi sebuah danau purba berumur Eocene di Cekungan Ombilin. Batuan ini terdiri dari perselangselingan batu pasir dan batu lempung hitam yang mengandung banyak material organik.

"Formasi Sangkarewang ini memiliki potensi sebagai batuan sumber minyak dan gas bumi. Singkapan Formasi Sangkarewang yang diamati telah mengalami deformasi oleh struktur geologi yang bentuknya disebut sebagai Lipatan Chevron atau Chevron Fold berupa lipatan yang intensif membentuk seperti sebuah akordeon," terang Geolog Chevron, Agus Susianto.

Sempat ada kejadian menarik saat rombongan turun dari mobil untuk mengamati singkapan yang kebetulan berada di tebing tepat di pinggir jalan. Tim Chevron mewajibkan setiap peserta mengenakan rompi oranye yang sangat menyolok, agar dari jauh peserta Fieldtrip bisa terlihat. Harapannya, tentu saja agar seluruh rombongan dapat terhindar dari insiden tabrakan.

Sekilas, rompi oranye ini mirip rompi para tahanan KPK, sampai ada yang minta difoto seperti itu. Namun ada juga yang melihat peserta rombongan seperti tukang parkir. Parahnya, warga sekitar mengira sedang ada razia.

Perjalanan diteruskan ke Museum Lobang Tambang Mbah Soero di Kota Sawahlunto. Di sini rombongan mendapatkan penjelaskan tentang proses terjadinya batu bara.

Sejumlah foto dan benda-benda bersejarah. Juga ada surat kabar tempo doeloe, yang menceritakan perkelahian antara Bangsa Madura dengan Bangsa Bugis.

Destinasi terakhir hari kedua adalah Danau Singkarak. Untuk melihat danau itu dengan jelas dari ujung ke ujung yang panjangnya sekitar 30 kilometer, kami naik ke Puncak Gobah atau Puncak Aripan.

Danau Singkarak, menurut Agus adalah depresi atau cekungan yang terbentuk oleh Sesar Geser Besar Sumatera yang diperkirakan terbentuk pada umur 1 juta hingga 2 juta tahun lalu. Bahasa sederhananya, danau itu terbentuk saat dua lempeng itu bergerak saling menjauh, sehingga muncul jarak berupa cekungan di antara keduanya yang kelak menjadi Danau Singkarak. Hingga hari ini, sesar ini terus bergerak saling menjauh.

"Bila di bawah danau ini punya koneksi ke laut, maka bisa jadi air danau akan tersedot hingga kering. Tapi itu mungkin akan memakan waktu ribuan tahun, wallahualam," jelas Agus Susianto lagi.

Kedalaman air danau ini secara umum sekitar 200 meter dengan dimensi lebar sekitar 10 kilometer dan panjang 30 kilometer. Pengamatan danau ini ditujukan untuk mempelajari analogi modern dari sistem danau purba yang dulu pernah ada di Cekungan Sumatera tengah maupun Ombilin pada umur Eocene hingga Oligocene.

"Pada periode tertentu, di Danau Singkarak terjadi matinya ribuan ekor ikan di danau itu. Bahkan ada yang mengatakannya sebagai siklus tiga tahunan. Menurut para ahli, itu terjadi akibat lepasnya gas metan dari dalam perut bumi lalu menyebar ke dalam air sehingga membuat ikan-ikan stres lalu mati. Proses destratifikasi terjadi dalam Danau Singkarak karena perbedaan suhu secara alamiah karena perbedaan kedalaman air, terutama terjadi pada musim panas.

Hari ketiga atau terakhir, rombongan Fieldtrip berkunjung ke Ngarai Sianok, melihat endapan Maninjau Tephra. Peserta Fieldtrip mengamati singkapan endapan erupsi volkanik muda Gunung Maninjau di ngarai itu. Endapan sedimen piroklastik (sedimen jatuhan) tuf dan lapili dari Gunung Maninjau diperkirakan terjadi sekitar umur Pleistosene hingga Holocene.

Unit sedimen ini sering disebut sebagai Maninjua Tephra. Dari penampakan ketebalannya, lapisan ini mengindikasikan bahwa dahulu terjadi erupsi volkanis yang intensif dan berulang.

Di tempat ini, rombongan Fieldtrip bertemu dengan seorang pengunjung yang ternyata cukup paham dengan ilmu geologi. Sebentar saja, pria itu sudah berbincang akrab dengan peserta rombongan dan tim geologist Chevron.

Saat ditanya apa yang dilakukannya dengan menyusun beberapa batu di dalam sungai kecil di depan cottage-nya, ia mengatakan sedang melakukan proses geologi kecil.

Rupanya ia cukup paham dengan apa yang dilakukannya. Ia mengerti, bila aliran sungai membelok ke arah kiri, maka tebing yang akan digerus adalah di bagian kanan dan sebaliknya. Ia sedang mencoba menahan proses penggerusan itu terjadi di arah cottage dengan cara menahan laju air dengan membuat aral berupa susunan batu-batu kali di tempat-tempat tertentu.

Sungguh tiga hari yang berkesan. Banyak yang menyesal, mengapa sangat terlambat mengetahui tentang ilmu ini. Ternyata ilmu geologi itu bisa sangat menarik untuk dibahas. Melalui perjalanan yang penuh suasana keakraban ini, peserta yang rata-rata sangat awam dengan ilmu batu, kini jadi mengerti, bahwa butuh ribuan bahkan jutaan tahun untuk menjadikan bumi ini layak kita huni seperti hari ini. Bahwa apa yang terlihat di permukaan hari ini, bisa jadi sangat berbeda keadaannya jutaan tahun yang lalu. *(yan/H-we)

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang