Rabu, 20 Nopember 2019 16:19

Melalui FGD, Polres Rohul Mengajak Masyarakat Ikut Mengantisipasi Paham Radikalisme

Melalui FGD sehari dan mengundang dua narasumber, Polres Rohul mengajak elemen masyarakat ikut serta dalam mengantisipasi paham radikalisme di daerahnya.

Riauterkini-PASIRPANGARAIAN- Polres Rokan Hulu (Rohul) mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut mengantisipasi paham radikalisme di daerahnya masing-masing.

Ajakan tersebut disampaikan juga oleh Kapolres Rohul AKBP Dasmin Ginting SIK, di amanatnya pada Forum Group Discussion (FGD), Meningkatkan Kesadaran Hukum Masyarakat Guna Menolak Paham Radikalisme, Anti Pancasila, Terorisme dan Intoleransi, di Convention Hall Masjid Agung Islamic Center Pasirpangaraian, Selasa (20/11/2019).

Kapolres Rohul AKBP Dasmin Ginting, melalui Kasat Binmas Polres Rohul AKP Hermawan mengatakan FGD sehari ini diikuti para Camat, Kepala Desa, Kapolsek, Kanit Binmas, Bhabinkamtibmas, serta para Tokoh Masyarakat‎.

FGD yang dibuka Kapolres Rohul‎, kata AKP Hermawan, menghadirkan dua narasumber yaitu Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Rohul Drs H Syahrudin M.Sy, dan pimpinan Pondok Pesantren Babussalam Kecamatan Tandun H Ahmad Suhada.

‎Pada FGD tersebut, jelas AKP Hermawan, dibahas berbagai hal tentang radikalisme,‎ kebangsaan, empat pilar yang dipaparkan langsung oleh Kapolres Rohul AKBP Dasmin Ginting, dan lainnya.

Diakuinya, Kepolisian belum bisa mengatakan ada tidaknya paham radikal di wilayah hukumnya. Namun jelasnya, Satuan Binmas Polres Rohul‎ terus mengimbau masyarakat melalui berbagai kegiatan untuk mengantisipasi paham dilarang di Indonesia ini, termasuk salah satu contohnya melalui FGD.

AKP Hermawan mengharapkan seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Rohul ikut menjaga keutuhan NKRI, dan tidak terpengaruh dengan pemahaman-pemahaman anti Pancasila.

"Mari kita bersama jaga persatuan dan kesatuan bangsa ini,"‎ imbau AKP Hermawan.

Sementara, Kakan Kemenag Kabupaten Rohul Syahrudin mengatakan secara langsung dan laporan resmi, Kemenag belum menemukan ada gerakan paham radikal di daerah berjuluk Negeri Seribu Suluk.

Mengantisipasi munculnya paham radikalisme, Kemenag‎ dengan program terbarunya yang dirancang oleh Menteri Agama Fachrul Razi, menerapkan ‎lima prioritas aksi, pertama soal deradikalisasi yaitu mengantisipasi paham radikal seperti melakukan pendekatan dengan kelompok-kelompok umat beragama.

"Dengan pendekatan itu nanti bisa mengantisipasi berbagai paham, terutama yang menjurus radikalisme," jelas Syahrudin.

Menurutnya, paham radikalisme biasanya terselubung, atau tidak dilakukan terangan-terangan dalam menyebarkan‎ pahamnya, sehingga dibentuk kelompok-kelompok tertentu untuk menyebarkannya.

"Makanya kita sampaikan ke masyarakat, kalau ada kelompok-kelompok pengajian yang tertutup dengan orang lain, misalnya dia mengadakan pengajian tapi ditutup pintu‎nya semuanya ini perlu dicurigai, karena Islam itu harus disyiarkan, harus dipahami oleh semua orang, tak boleh disembunyi-sembunyikan," terangnya.

Syahrudin mengu‎ngkapkan penyebab munculnya paham radikalisme sebagian besar karena pemahaman agama yang setengah-setengah, dan bukan belajar dari ahlinya, ditambah lagi beban ekonomi dan beban politik, sehingga paham terselubung ini bisa berkembang.

"Dia hanya percaya dengan seseorang yang langsung diserap oleh fikirannya, sehingga terjadi pencucian otak."

"Dimana setelah ada pencucian otak, dia tidak mau lagi menerima yang lain‎, bahkan gurunya itu sudah dianggapnya seperti nabi, apa yang diperintahkan oleh gurunya itu dia sudah tahan mati dia akan menjalankannya," ujarnya.

Syahrudin menerangkan pemahaman radikal‎ juga diindikasi karena seseorang yang tidak banyak membaca kitab‎ (buku), padahal dalam Islam harus dipelajari banyak buku.

"Kata beberapa ulama kalau belum baca seratus kitab jangan coba-coba membuat dokrin. Jadi ini yang belum dilakukan, tiba-tiba dia sudah konsumsi sebuah ajaran, lalu dipelihara ajaran tersebut dalam dirinya lalu apa yang diperintahkan oleh yang mengajarkannya maka dia lakukan," ungkap Syahrudin, dan mengaku paham radikal hanya tidak terfokus pada satu agama saja.

Syahrudin menambahkan mengantisipasi paham radilisme ini, Kemenag Rohul berdayakan sekira 130 penyuluh agama yang ada di setiap desa dan mereka telah diberikan materi dan Diklat bagaimana cara mencegah radikalisme.***(zal)




 

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang