Kamis, 14 Nopember 2019 14:53

Prapid Tersangka Sabu di Rupat, Hakim Menangkan Polres Bengkalis

Hakim PN Bengkalis tolak upaya praperadilan penangkapan seorang tersangka pengedar sabu di Rupat. Penangkapan polisi sudah sesuai SOP.

Riauterkini-BENGKALIS- Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bengkalis gugurkan atau menolak upaya praperadilan (prapid) seorang tersangka AS, jaringan pengedar yang diringkus aparat Kepolisian Sektor (Polsek) Rupat Polres Bengkalis.

Hakim menilai gugatan prapid yang diajukan tersangka ke pengadilan tidak terbukti dan kadaluarsa, bahwa untuk perkara pokok kasus itu atas nama tersangka AS telah disidangkan pada Kamis (14/11/19) di PN Bengkalis.

Sidang agenda putusan hakim, dibacakan Hakim Tunggal, Annisa Sitawati, S.H, di PN Bengkalis, Jalan Karimun, Bengkalis.

"Bahwa perkara praperadilan Polsek Rupat dinyatakan gugur oleh hakim tunggal tadi siang," ungkap Kasat Serse Narkoba Polres Bengkalis, AKP Syahrizal ketika dikonfirmasi, Kamis (14/11/19).

Hadir dalam sidang pembacaan putusan hakim, Tim Advokasi Polres Bengkalis, Iptu Aprinaldi, S.H, M.H, Ipda Hasan Basri, S.H, dan Brigadir Efendi Ali, S.H, serta kuasa hukum pemohon, Sabarudin, S.H.

Sebelumnya diberitakan, warga Kelurahan Terkul Kecamatan Rupat berinisial AS (29) yang ditangkap petugas Polsek Rupat awal Oktober 2019 lalu mengajukan praperadilan terkait prosedur penangkapannya yang diyakini tidak sesuai dengan SOP kepolisian ke PN) Bengkalis.

Praperadilan tersebut telah memasuki sidang perdana di PN Bengkalis, Rabu (6/11/19) yang lalu.

Permohonan praperadilan tersangka AS dibacakan kuasa hukumnya, Sabarudin, S.H bersama tim di hadapan hakim tunggal Annisa Sitawati, S.H di ruang sidang Kartika PN Bengkalis dan kuasa termohon.

Menurut Sabarudin, dalam permohonannya berkeyakinan seluruh prosedur baik proses penangkapan, penahanan danĀ  pengeledahan dan penyitaan dilakukan penyidik tidak sah dimata hukum. Karena dilihat secara formil dan proses penangkapan melanggar hak asasi manusia (HAM).

"Kami tidak persoalkan masalah penegakan hukum, hanya prosesnya yang kami minta harus mengedepankan hak asasi manusia," katanya waktu itu.

Sabarudin juga menyebutkan, dilihat dari proses penangkapan aparat Polsek Rupat tersebut, mengambarkan upaya penangkapan dilakukan seperti kejar-kejaran dengan tersangka layaknya sebuah adegan film aksi. Padahal pada kenyataannya tidak seperti yang mereka gambarkan.

Bahkan dalam penangkapan dilakukan ada delapan kali tembakan terhadap kendaraan kliennya. Padahal dalam melakukan tembakan, personel Polri diatur dalam Peraturan Kapolri.

"Setelah kami lihat sampai delapan kali tembakan ini, tidak sesuai dengan SOP yang ada. Apalagi keterangan klien kami dalam kendaraannya saat penangkapan ada anak kecil yang merupakan anak tersangka," terang dia.

Selain itu Sabarudin mengatakan, dalam penangkapan tersebut ditemukan narkoba. Namun, kenyataannya, kliennya mengatakan barang bukti yang ditemukan itu "tempelan".***(dik)

Foto : Tim Advokasi Polres Bengkalis hadiri sidang pembacaan putusan prapid di PN Bengkalis, Kamis (14/11/19).


 

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang