Selasa, 15 Oktober 2019 13:12

Kredit Macet, Mantan Kacab BRK Dalu-dalu Dituntut 13,5 Tahun Penjara

Mantan Kacab BRK Dalu Dalu, Rohul dituntut jaksa 13,5 tahun penjara. Sementara tiga mantan pegawai dituntut 6 tahun dalam perkara kredit fiktif.

Riauterkini-PEKANBARU- Jaksa penuntut Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, pecahkan rekor dalam memberikan sanksi hukuman kepada para pelaku tindak pidana korupsi.

Tak tanggung tanggung, total 18 tahun lebih tuntutan hukuman berserta subsider denda yang dijatuhkan kepada mantan Kepala Bank Riau Kepri, cabang pembantu (Capem) Dalu Dalu, Rokan Hulu (Rohul) Riau. Sementara tiga mantan anak buahnya yang bertugas dibagian analis kredit masing masing dituntut 6 tahun penjara.

Dalam amar tuntutan hukuman Jaksa Penuntut Umum (JPU) Apriliana SH di pengadilan tipikor Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru pada Selasa (15/10/19) siang tadi. Mantan Kacapem, Ardinol Amir dijatuhi tuntutan hukuman pidana penjara selama 13 tahun 6 bulan, denda Rp 500 juta subsidier 5 bulan. Selain tuntutan hukuman. Ardinol juga diwajibkan mengembalikan kerugian negara sebesar Rp 32,4 Miliar atau dapat diganti dengan hukuman kurungan (subsideir) selama 3 tahun 9 bulan.

Tiga mantan anak buah Ardinol selaku analis kredit yakni, Zaiful Yusri, Syafrizal dan Heri Aulia. Dituntut masing masing selama 6 tahun denda Rp 300 juta, subsidier 3 bulan. Ketiga terdakwa tidak dibebankan membayar kerugian negara.

Penyimpangan dalam penyaluran kredit yang dikakukan keempat terdakwa, terbukti secara sah melanggar Pasal 2 ayat (1)  Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP," tegas JPU dalam persidangan yang dipimpin majelis hakim Tipikor, Saut Maruli Tua Pasaribu SH.

Tuntutan sangat tinggi dari jaksa penuntut tersebut, para terdakwa berencana akan mengajukan pembelaan (pledoi) pada sidang berikutnya pekan depan.

Untuk diketahui, perkara yang menjerat keempat terdakwa ini terjadi dalam rentang waktu 2010 hingga 2014. Dimana penyaluran kredit yang diduga fiktif itu, berupa kredit umum perorangan yang dicairkan sekitar Rp43 miliar kepada 110 orang debitur. Mayoritas para debitur itu hanya dipakai nama dengan meminjam Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). 

Sejumlah debitur ada yang dijanjikan plasma atau pola kerjasama dalam pembentukan kebun kelapa sawit. Hal itu dilakukan karena ada hubungan baik antara debitur dengan Pimpinan BRK Cabang Dalu-dalu saat itu.

Kenyataanya, para debitur tidak menerima pencairan kredit. Mereka hanya menerima sekitar Rp100 ribu hingga Rp500 ribu karena telah meminjamkan KTP dan KK guna pencairan kredit. Kuat dugaan ada oknum BRK yang menggunakan nama para debitur untuk pengajuan kredit.

Belakangan diketahui kredit itu macet. Saat pihak bank melakukan penagihan, baru diketahui bahwa sebagian besar debitur tidak pernah mengajukan dan menerima pencairan kredit. Sehingga negera dirugikan Rp 32 miliar lebih. ***(har) 


 

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang