Senin, 14 Oktober 2019 21:25

Peneliti New Zeland Kuak Keberadan Rel Kereta Api dan Gua Peninggalan Jepang di Kuansing

Peneliti asal New Zeland menguak tabir jejak Jepang di Kuansing. Ditemukan rel kereta api dan gua.

Riauterkini - TELUKKUANTAN - Peneliti asal Kebangsaan New Zealand Jammie Vincent Farrel, kembali menyusuri bekas rel Kereta Api dan terowongan peninggal tentara Jepang pada masa perang dunia ke 2 di Desa Koto Kombu Kuansing.

Sebelumnya, pria asal New Zealand ini sudah melakukan survey lebih dulu sekitar 3 bulan lalu meninjau bekas lokasi Camp di Kota Kombu - Lubuk Ambacang Kecamatan Hulu Kuantan Kuansing.

Survey yang dilakukan Jammie ini, juga dibenarkan Kasi Destinasi Wisata Bidang Pariwisata Nasjuneri Putra, Senin (14/10/2019) di Telukkuantan.

"Kami menyusuri tepian sungai hingga kembali bertemu bekas terowongan kereta api yang dibangun pada masa perang dulu," ujar Nasjuneri.

Menurut Nasjuneri, saat ke lokasi mereka mengunjungi 2 bekas terowongan plus tempat lokasi pertemuan rel kereta dari arah utara di Pekanbaru dengan lanjutan dari arah Sijunjung Sumbar.

Rel ini kata Nasjuneri selesai dikerjakan sekitar tanggal 15 Agustus 1945 tepat saat Jepang menyerah kepada sekutu paska di bom-nya Hiroshima dan Nagasaki.

Berdasarkan keterangan pegiat sejarah Riau, Osvian Putra, kata Nasjuneri, dimasa perang dunia ke dua ketika pembangunan rel kereta api ini setidaknya merenggut nyawa lebih kurang 80.000 orang yang merupakan romusha dan nyaris tidak terexspos pada masa itu.

Pasukan Jepang di lapangan ketika itu, sangat bergembira karena proyek telah selesai dikerjakan. Namun, sekaligus sedih karena tahu negara mereka kalah perang.

Kereta yang sudah direncakan untuk membawa batubara dari tambang Ombilin ke Singapura (Jepang menyebutnya Shonancho) akhirnya hanya digunakan untuk membawa para tawanan perang dari pedalaman sumatra ke Pekanbaru.

Selanjutnya, tawanan di evakuasi ke Singapore, dimana saat itu para tawanan perang ini telah dijemput oleh Lady Mountbatten ke lapangan udara Simpang Tiga.

"Ini benar-benar menakjubkan karena belum ada satu litetatur pun yang menuliskan reportasi tentang keberadaan terowongan dan titik pertemuan ini sebelumnya," kata Nasjuneri.

Dijelaskan Nasjuneri, Jammie ini telah melakukan penelitian selama 22 tahun khusus mengenai peninggalan sisa masa perang, sedangkan kaitannya dengan rel kereta api yang dibangun di Kuansing ini, dari catatan sejarah, diketahui pekerjanya ada yang berasal dari New Zealand.

"Kemungkinan dari sekian pekerja asal New Zealand ini, juga termasuk nenek moyang Jammie. Karena dikabarkan pekerjanya juga berasal dari Negara Jammie ini," kata Nasjuneri.

Dikatakan Nasjuneri, peninggalan sejarah Jepang ini akan dimanfaatkan sebagai objek dan destinasi wisata dan bisa terciptanya travel pattern baru.

"Ini akan menambah pilihan dan segmen wisata di Negeri Lancang Kuning. Insyaallah bulan depan sudah ada permintaan dari wisatawan asing dari Belanda dan New Zealand untuk berkunjung ke objek ini," pungkasnya.* (Jok)


 

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang