Selasa, 26 Pebruari 2019 07:30

Aniaya Satu Keluarga di Rohil, Polda Riau Tetapkan Anggota DPRD Sumut Tersangka

Setelah lebih 5 tahun akhirnya kasus penganiayaan satu kekuarga di Rohil mulai jelas. Polda Riau menetapkan seorang anggota DPRD Sumut sebagai tersangka.

Riauterkini - PEKANBARU - Dugaan tindak pidana yang diterima satu keluarga di Rokan Hilir terus berlanjut. Kini perkara yang terjadi pada 2013 lalu ini memasuki babak baru, dimana oknum DPRD Sumatera Utara ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Riau.

Keluarga Rajiman yang berdomisili di Dusun Sera, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Rokan Hilir, Riau adalah korban dari dugaan tindak pidana penganiayaan ini.

Diceritakan Kuasa Hukum Korban, Suroto kepada riauterkini.com, Senin (25/02/19) petang, perkara ini berawal dari sejak Rajiman membuka lahan yang dulunya hutan yang kemudian dibersihkan dan ditanami kelapa sawit. Dalam prosesnya, Rajiman juga telah meminta izin kepada perangkat desa setempat.

Bertahun berlalu, tanaman kelapa sawit yang dibesarkan Rajiman pun berbuah. Namun, bukan hasil yang dinikmatinya, justru hadir klaim dari AB yang mengaku pemilik tanah yang diolah menjadi kebun kelapa sawit oleh Rajiman seluas 6 hektare tersebut. Diketahui saat ini AB adalah salah satu anggota DPRD di Sumatera Utara.

"AB meminta Rajiman mengosongkan tanah tersebut. Namun, karena awalnya lahan adalah hutan dan juga sudah mendapatkan izin dari perangkat desa, maka korban menolak," jelas Suroto.

Lanjutnya, AB melalui pekerjanya sempat menunjukkan bukti kepemilikan lahan yang digarap Rajiman itu. Tapi surat tanah yang ditunjukkan lokasinya berada di wilayah RT lain.

Suroto membeberkan penolakan yang diutarakan Rajiman diduga membuat AB berang hingga diduga Ia menyuruh pekerjanya untuk mengintimidasi bahkan melakukan penganiayaan kepada Rajiman. Pada 2013 saat sedang berada di lahan tersebut Rajiman didatangi sejumlah pria yang diduga merupakan suruhan AB. Tanpa basa-basi, sejumlah pria tersebut langsung menyerang Rajiman hingga mengalami luka tusukan senjata tajam. Tak tanggung-tanggung terdapat 25 tusukan disekujur tubuh pria berusia 55 tahun itu.

"25 tusukan depan belakang badan Rajiman. Kepalanya di bacok, tulang leher dibor pake pisau," tutur Suroto

Tak sampai situ, Istri Rajiman, Maryatun juga mendapatkan perlakukan yang sama. Ibu yang kini berusia 45 tahun ini juga diserang dan mendapatkan luka bacokan di bagian tangan. Kepala dan badannya saat itu dihujani pukulan dengan kayu. Bahkan ibu jarinya patah dan dibuang ke parit kanal. Belum selesai Arazaqul buah hati mereka yang kini berusia 11 tahun juga tak luput dari penganiayaan sejumlah pria itu. Kepala dan dadanya dihantam yang menyebabkan hingga kini anak laki-laki tersebut tidak bisa makan dan minum melalui mulut.

"Seluruh korban selamat setelah sempat di rawat di Rumah Sakit Indah Bagan Batu. Tapi Rajiman dan Arazaqul tak bisa beraktivitas seperti biasa," katanya.

Sebelumnya, rumah keluarga ini juga habis dibakar orang tak dikenal.

"Ada intimidasi dari orang tak dikenal bunyinya seperti kosongkan lahan ini, lahan ini milik AB, kalau tidak rumah kalian kami bakar. Dan benar rumah mereka habis terkakar," terangnya.

Lanjut, Suroto, sehari setelah kejadian anak Rajiman yang lain Sumardi melaporkan kejadian ini ke Polsek Panipahan. Kemudian tim Polsek Panipahan bersama masyarakat yang lain mengejar pelaku ke barak yang biasa ditinggali mereka. Akan tetapi pelaku keburu kabur, kemudian tim Polsek Panipahan juga melihat kondisi para korban di rumah sakit Indah Bagan Batu. Namun, setelah itu selama bertahun - tahun perkaranya tidak pernah ditangani dan terhadap para korban yang sudah sembuh pun tidak pernah diperiksa. Ditahun 2017 setelah perkara ini ramai di media baru kepolisian memeriksa para korban dan saksi - saksi yang lain.

"Berbekal keterangan saksi - saksi dan visum kepolisian akhirnya polisi menetapkan 3 orang sebagai Tersangka dan DPO. Tapi sampai saat ini kita menilai tidak ada upaya serius yang dilakukan kepolisian untuk mencari pelaku. Terhadap AB oknum dewan itu pun tidak pernah diperiksa untuk ditanyakan dari mana pekerja atau terduga pelaku itu direkrut," paparnya.

Padahal menurutnya, dugaan penganiayaan lain sebelumnya sudah terjadi pada 2011. Hal ini dialami oleh Suherman yang masih kerabat keluarga Rajiman. Penganiayaan ini sendiri dilakukan langsung oleh AB menurut keterangan Suherman. Dimana Suherman saat itu ditendang dan ditusuk menggunakan senjata tajam di bagian dadanya. Bahkan ada 4 orang saksi yang melihat langsung.

"Masih serupa, ini ancaman agar suherman meninggalkan lahan yang dikuasainya. Oleh korban sudah dilaporkan ke polres Rohil berbekal hasil visum dan 4 orang saksi yang sudah diambil keterangan. Tapi anehnya terhadap AB, sampai sekarang sudah 8 tahun sama sekali tidak pernah diperiksa oleh Polres Rohil meski 2 kali pemanggilan di 2011 dan 2 kali di 2018. Malahan upaya jemput paksa terhadap AB pun katanya sudah beberapa kali dilakukan akan tetapi AB tidak berhasil dibawa dengan alasan AB tidak diketahui keberadaanya. ini sangat aneh, logikanya untuk mencari dan menangkap penjahat di tengah hutan saja Polisi mampu, masa untuk mencari AB yang jelas alamat kantor dan rumahnya polisi tidak bisa," tandasnya.

Suroto menambahkan penanganan perkara ini nampak semakin aneh karena sekitar 2 bulan yang lalu Polres Rohil menerima telegram dari Polda Riau yg memerintahkan agar pemeriksaan terhadap orang - orang yang terdaftar sebagai caleg ditunda sampai selesainya pemilu yang kemudian disampaikan kepada Suroto. Diketahui AB mencalonkan diri dalam pemilihan legislatif. Dengan demikian maka pemeriksaan terhadap AB tidak dapat dilanjutkan karena ada telegram dari Polda Riau tersebut.

"Terhadap rencana penundaan pemeriksaan terhadap AB tersebut kita lakukan protes ke Polres Rohil dan Polda Riau, karena tidak ada dasar hukumnya penundaan pemeriksaan terhadap caleg, yang pernah ada itu penundaan pemeriksaan untuk calon kepala daerah. Intinya banyak kejanggalan - kejanggalan yang terjadi dalam penyidikan kasus yang diduga melibatkan AB ini," paparnya.

Saat ini untuk terus maju dalam penuntasan kasus dugaan penganiayaan ini Suroto mendapatkan dukungan dari sejumlah advokat yang ada di Riau. Dukungan ini ditegaskan dengan pembentukan 1000 Advokat Untuk Kemanusian dimana ada sekitar 40 advokat bergabung mengawal perkara ini.

Dengan gerakan 1000 Advokat Untuk Kemanusian ini, pihaknya sudah dua kali mendatangi Polda Riau. Terakhir yakni Senin (25/02/19) kemarin. Selain gelar perkara, 40 advokat yang kini menjadi kuasa hukum korban (Keluaga Rajiman) menuntut Polda Riau dalam tempo 14 hari mampu menangkap AB yang sekarang masih aktif sebagai anggota dewan di salah satu daerah di Sumut. Jika tidak, maka mereka akan melakukan aksi dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat dan mahasiswa.

Sementara, menurut informasi Polda Riau hari ini telah menetapkan AB sebagai tersangka dalam perkara dugaan penganiayaan yang dilaporkan oleh Suherman selaku korban. Namun, hingga saat ini pihak polda Riau masih belum memberikan keterangan.***(rul)

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang