Riauterkini-
PEKANBARU - Gubernur Riau periode 1998–2003 Brigjen TNI (Purn) H Saleh Djasit SH hari ini, Rabu (15/4) meluncurkan buku autobiografinya yang berjudul Jalan Hidup Anak Pujud di Balairung Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Jalan Diponegoro, Pekanbaru.
Peluncuran buku ini sarat dengan tradisi Melayu, dimulai dengan arak-arakan dan dilanjutkan dengan prosesi tepuk tepung tawar buku yang diiringi suara gendang panjang serta nafiri. Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Datuk Seri Taufik Ikram Jamil bersama Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAMR Datuk Seri HR Marjohan Yusuf menyambut baik sekaligus mengapresiasi peluncuran karya tersebut.
Selain seremoni peluncuran, acara juga diisi dengan diskusi buku yang menghadirkan empat orang pembicara yaitu Prof Dr HM Nazir Karim MA, Prof Dr Junaidi SS MHum, Dr Saidul Amin MA, dan Prof Dr Irwan Efendi MSc. Diskusi tersebut dipandu oleh moderator Prof Dr Firdaus MH.
Brigjen TNI (Purn) H Saleh Djasit SH merupakan putra daerah Riau yang lahir dan tumbuh besar di tanah Melayu. Perjalanannya bermula dari sebuah kampung kecil di Pujud lalu meniti karier di dunia militer hingga menjabat sebagai Bupati Kampar selama dua periode, Gubernur Riau, serta anggota DPR/MPR RI dua periode.
Kiprahnya tidak hanya terbatas di ranah eksekutif dan legislatif. Sebelum menjabat sebagai Bupati Kampar, Saleh Djasit pernah bertugas sebagai Wakil Kepala Oditurat Militer (Waka Otmil) di Makassar. Pengalaman tersebut menjadi momen pertamanya bertugas sebagai oditur atau jaksa tentara, sekaligus menjadi bagian dari rekam jejaknya di bidang yudikatif.
"Tidak banyak anak Melayu yang memiliki pengalaman seperti yang saya alami—pengalaman manis sekaligus pahitnya kehidupan. Oleh karena itu banyak teman dan keluarga yang mendesak agar saya menuliskan pengalaman ini. Saya pun mencoba mulai menulis sejak tahun 2008 secara berangsur-angsur hingga akhirnya terbitlah buku setebal 477 halaman ini," ujar Saleh Djasit.
Bagi tim editor, buku ini bukan sekadar catatan riwayat hidup atau autobiografi yang autentik, melainkan cermin yang memantulkan dinamika masyarakat, politik, serta adat dan budaya Riau selama lebih dari setengah abad. Di dalamnya, pembaca dapat menemukan nilai-nilai luhur seperti kejujuran, kegigihan, ketabahan, dan rasa syukur.
"Tahun 2012 Pak Saleh mengundang kami ke kediaman beliau di Bangkinang dan menyerahkan naskah awal bukunya. Tahapan berikutnya dilanjutkan dengan wawancara untuk melengkapi bagian yang dirasa belum utuh. Setelah itu prosesnya sempat terhenti, dan baru 13 tahun kemudian dilanjutkan kembali," ungkap Zulkarnaini, salah seorang editor.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada segenap narasumber yang telah membantu memperkaya serta memvalidasi data. Hal ini membuat buku autobiografi tersebut menjadi lengkap, ditambah dengan berbagai testimoni dari tokoh-tokoh yang dekat dengan Saleh Djasit, termasuk kata pengantar yang ditulis langsung oleh almarhum Dr drh H Chaidir MM semasa hidupnya.***(dok)