.jpg)
Riauterkini-JAKARTA – Seorang perempuan di Indonesia meninggal setiap jam akibat komplikasi selama kehamilan, persalinan, dan pascapersalinan. Angka Kematian Ibu (AKI) relatif tinggi di Indonesia, dengan 189 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup (Sensus Penduduk, 2020), sementara 91% kelahiran hidup ditolong oleh tenaga kesehatan terampil (Survei Kesehatan Indonesia, 2023). Kematian ibu masih menjadi isu pembangunan yang signifikan, meskipun terdapat peningkatan dalam jumlah bidan terdaftar, yang mencapai lebih dari 344.000 pada tahun 2023.
Diluncurkan di Jakarta, proyek IMPACT, sebuah kemitraan antara Pemerintah Indonesia dan Kanada serta UNFPA, berupaya mengatasi kematian ibu dengan intervensi komprehensif berbasis hasil untuk memperkuat layanan kebidanan di seluruh Indonesia. Hassan Mohtashami, Kepala Perwakilan UNFPA di Indonesia, menggarisbawahi pentingnya situasi ini. "Tidak seorang pun perempuan seharusnya meninggal saat melahirkan. Satu kematian ibu saja sudah terlalu banyak. Kita membutuhkan layanan persalinan berkualitas tinggi, perawatan obstetrik darurat, dan layanan keluarga berencana, untuk mengurangi angka kematian ibu," ujarnya. "Dengan memperkuat keterampilan dan profesionalisme bidan, kita berinvestasi langsung dalam kesehatan dan masa depan keluarga Indonesia."
Inisiatif tiga tahun ini dirancang untuk menjawab kebutuhan mendesak akan layanan kebidanan yang lebih baik, dengan menyadari bahwa bidan berperan sebagai pilar dasar layanan kesehatan ibu di Indonesia, terutama di masyarakat pedesaan dan terpencil yang layanannya masih terbatas. Program ini bertujuan untuk memberdayakan para penyedia layanan kesehatan garda terdepan ini melalui investasi strategis dalam kapasitas dan profesionalisme mereka, yang pada akhirnya berkontribusi pada penurunan angka kematian ibu yang substansial.
Dengan mengadopsi metodologi pengajaran yang inovatif dan mengintegrasikan teknologi ke dalam program pendidikan kebidanan, program IMPACT akan memfasilitasi pertukaran pengetahuan antara para ahli kebidanan Kanada dan Indonesia. Dengan memanfaatkan pengalaman Kanada dalam membangun kebidanan sebagai profesi yang otonom dan berdaya, proyek ini akan menjadi tolok ukur bagi model-model perawatan yang berpusat pada perempuan untuk potensi adaptasi dan implementasi di Indonesia. Pendekatan kolaboratif ini dirancang untuk mendorong pembelajaran yang berharga dan berkontribusi pada pengembangan tenaga kebidanan yang lebih tangguh dan responsif di Indonesia.
"Kanada bangga bermitra dengan UNFPA dan Pemerintah Indonesia dalam program penting ini. Dengan memanfaatkan keahlian Kanada, termasuk dari Universitas McMaster, kami berkomitmen pada pertukaran pengetahuan yang akan membantu membangun profesi kebidanan yang tangguh, mandiri, dan berpusat pada perempuan, serta memastikan perawatan berkualitas tinggi bagi semua," ujar Juan-Pablo Valdes, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Kanada untuk Indonesia dan Timor Leste, mengomentari kemitraan ini.
Visi utama proyek ini adalah masa depan di mana setiap ibu di Indonesia menerima perawatan kebidanan yang terampil dan penuh kasih sayang, yang akan menghasilkan ibu yang lebih sehat, bayi yang lebih sehat, dan masa depan yang lebih cerah bagi semua.
Dr. Yuli Farianti, Direktur Jenderal Tenaga Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, menyatakan: “Proyek IMPACT sangat selaras dengan agenda Transformasi Kesehatan nasional kita, yang memprioritaskan penguatan layanan kesehatan primer dan sumber daya manusia. Bidan merupakan fondasi layanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir, terutama di daerah-daerah terpencil. Kemitraan dengan UNFPA dan Kanada ini akan membekali para bidan kita dengan pendidikan berstandar internasional dan dukungan regulasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan mereka yang menyelamatkan jiwa. Visi utama kami adalah masa depan di mana setiap ibu di Indonesia menerima perawatan kebidanan yang terampil dan penuh kasih sayang, yang akan menghasilkan masyarakat yang lebih sehat dan bangsa yang lebih kuat.”***(rls)