Selasa, 23 Mei 2006 16:24

Bush dan Blair Bicarakan Percepatan Penarikan Pasukan dari Irak

Presiden AS George W.Bush dan Perdana Menteri (PM) Inggris Tony Blair akan membicarakan rencana bagi pemercepatan penarikan pasukan dari Irak.

Riauterkini-WASHINGTON.DC- Presiden AS George W.Bush dan Perdana Menteri (PM) Inggris Tony Blair akan membicarakan rencana bagi pemercepatan penarikan pasukan dari Irak, dimulai Juli, dalam satu pertemuan di Washington, kata sebuah suratkabar di London, Selasa (23/5).

Kedua negara itu, yang menurut rencana akan melakukan pertemuan akhir pekan ini, juga mengimbau para pemimpin dunia membantu rencana penarikan pasukan mereka, kata sebuah harian lainnya.

Berita-berita itu muncul setelah Blair melakukan kunjungan mendadak ke Baghdad, Senin untuk menemui PM baru Irak Nuri al Maliki.

Maliki mengatakan pasukan Irak dapat mengambil alih tanggungjawab atas keamanan disebagian besar negara itu dari militer yang dipimpin AS akhir tahun ini.

Suratkabar Guardian memberitakan cencana Blair dan Bush bagi penarikan pasukan itu akan jauh lebih cepat dan lebih berambisi ketimbang yang diduga.

Inggris, yang menggelar 8.000 tentara sebagian besar di Irak selatan, akan mulai proses itu dengan menyerahkan kendali keamanan kepada pasukan Irak di propinsi Muthanna, Juli, kata suratkabar tersebut tanpa menyebut sumber-sumber.

AS, yang memiliki 130.000 tentara, akan mengikuti jejak itu di Najaf, sebuah kota suci Syiah selatan Baghdad.

"Penarikan lain akan segera menyusul pada sisa tahun ini," kata Guardian.

Surstkabar itu memberitakan "para pejabat" mengharapkan pasukan Inggris bisa dikurangi menjadi 5.000 personil dan kontingen AS menjadi 100.000 personil pada akhir tahun 2006.

Maliki dalsm jumpa wartswan bersama Blair, Senin, mengatakan pasukan yang dipimpin AS pada awalnya menyerahkan tanggungjswab keamanan di dua propinsi mulai Juni. Akan, tapi, kata Guardian para pejabat Inggris kemudian mengoreksi tanggal ini, dan menyatakan rencana itu sebenarnya dimulai Juli.

Seorang pejabat senior Inggris juga memperkirakan penyerahan penuh tanggungjawab keamanan bisa dilaksanakan dalam empat tahun.

Suratkabar The Sun melaporkan bahwa Bush dan Blair akan menggunakan pertemuan mereka di ibukota AS itu untuk mendesak pemerintah-pemerintah lainnya membantu mengakhiri pertumpahan darah yang setiap hari terjadi di Irak dengan menunjukkan dukungan lebih besar pada pemerintah baru Irak.

Seorang diplomat senior Inggris mengemukakan kepada tabloid itu: "Semua orang ingin pulang, tapi kita tidak dapat pergi sebelum aksi kekerasan berakhir.

Blair dan Bush ingin mendapat dukungan dari negara-negara seperti Perancis dan Jerman--dua negara pengecam keras invasi AS Maret 2003-- serta PBB, kata The Sun.

Inggris memiliki kontingen militer asing terbesar kedua di Irak setelah AS dan adalah sekutu utama Washington di negara yang porak poranda akibat perang itu.***(Kapanlagi)


BERITA TERKAIT :

 

Loading...

 

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang