Selasa, 8 Oktober 2019 11:44

Gajah Mati di Balairaja, BBKSDA Lakukan Nekropsi

Untuk mengetahui penyebab kematian gajah di Balairaja, BBKSDA Riau lakukan nekropsi bangkai gajah.

Riauterkini-PEKANBARU- Balai Besar KSDA Riau mendapatkan laporan dari masyarakat tentang penemuan bangkai Gajah Sumatera di Kelurahan Balai Raja, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Untuk mengetahui kepastian penyebab kematian Gajah Dita, Balai Besar KSDA Riau menurunkan timnya untuk melakukan Neukropsi terhadap bangkai Gajah tersebut.

Demikian dikatakan Kepala BBKSDA Riau, Suharyono, Selasa (8/10/19). Menurutnya, nekropsi atau bedah bangkai merupakan teknik yang sangat penting dalam penegakan diagnosa penyakit. Sifat pemeriksaan hasil nekropsi, tambahnya, adalah berdasarkan perubahan patologi anatomi.

"Nekropsi adalah tehnik lanjutan dari diagnosa klinik untuk mengukuhkan diagnosa klinik. Hal ini dilakukan agar dapat diketahui penyakit yang diderita gajah dan menjadi sebab kematian gajah," terangnya.

Heru Sutmantoro, Kepala Bidang KS BKSDA Riau mengatakan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan bangkai Gajah Sumatera diketahui berjenis kelamin betina. Diperkirakan berumur 25 tahun dengan ciri-ciri fisik ada cacat kaki kiri depan dengan tidak adanya telapak kaki, tidak mempunyai caling/gading, Kondisi membusuk dengan isi perut sudah keluar dan tidak ditemukan adanya luka bekas benda tajam atau kekerasan fisik di tubuh Gajah tersebut.

"Kematian diperkirakan 5 (lima) hari yang lalu, Melihat dari cir-ciri fisiknya, Gajah betina tersebut merupakan anggota kelompok Gajah di Suaka Margasatwa {SM} Balai Raja yang dikenal dengan nama Dita," terang Heru.

Kata Heru, rekam medis gajah Dita adalah upaya yang pernah dilakukan Balai Besar KSDA Riau bersama dengan Vesswic dan HIPAM adalah melakukan kegiatan medis pada gajah tersebut. Pada tahun 2014 tim Balai Besar KSDA Riau menemukan telapak kaki depan sudah putus dan segera dilakukan pengobatan.

Kemudian pada tahun 2016 tim medis Balai Besar KSDA Riau dan Vesswic kembali melakukan pengobatan luka pada kaki Gajah tersebut. Lalu pada tahun 2017 tim medis Balai Besar KSDA Riau dan Vesswic kembali melakukan pengobatan karena kondisi Gajah yang lemah (berjalan sangat lambat).

Pada tahun 2018, tambah Heru, tim medis Balai Besar KSDA Riau kembali melakukan pengobatan sebanyak 2 (dua) kali.*(H-we)


 

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang