Rabu, 18 September 2019 07:29

Nestapa Wanita dengan Tumor Ganas di Kuansing, Lutut Sebesar Kelapa dan Ditinggal Suami

Kisah pilu dari seorang ibu di Kuansing. Lututnya sebesar kelapa karena tumor. Deritanya kian berat setelah suaminya minggat.

Riauterkini - TELUKKUANTAN - Arsih Janda beranak satu asal Desa Sungai Buluh Kecamatan Singingi penderita tumor ganas membutuhkan uluran tangan dermawan untuk berobat.

Bantuan ini sangat diharapkan Arsih, karena kondisi ekonominya yang tidak berkecukupan untuk biaya pengobatan penyakit yang dideritanya.

Sebab, jangankan untuk biaya berobat memenuhi kebutuhan sehari-hari saja ia masih kesulitan, karena pendapatannya yang tidak seberapa dari hasil berjualan pop ice dan sosis goreng.

Pendapatannya kadang tidak menentu, jika lagi ramai penghasilannya hanya ia peroleh sekitar 50 ribu rupiah kalau sunyi ia hanya mendapatkan uang sekitar 10 ribu rupiah.

Ia sendiri berjualan di rumah hibah pemberian dari masyarakat, sekaligus menjadi tempat tinggal bersama anaknya. Rumah ini hanya memiliki satu kamar tanpa sumur.

Semenjak ditinggal suami, ia berjuang seorang diri mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup serta biaya sekolah untuk putra semata wayangnya yang masih berusia 12 tahun saat ini sudah kelas 5 SD.

Karena himpitan ekonomi ini, sehingga ia tak mempedulikan penyakitnya, bahkan ia rela menanggung rasa sakit, asalkan ia bisa memberi makan untuk anaknya guna menyambung hidup.

Saat ini, ia hanya bisa pasrah sambil menanggung rasa sakit yang dideritanya, yang ia nanti hanya uluran tangan orang dermawan untuk mengurangi bebannya, baik penyakit dan himpitan ekonomi.

Arsih, diketahui sudah menderita penyakit ini semenjak 26 Agustus tahun 2016 lalu, saat itu dokter memvonis sakit yang diidapnya ini adalah tumor ganas dan dokter menyarankan agar diamputasi.

Namun, karena keterbatasan biaya Buk Arsih ini tidak ada melakukan konsultasi lebih lanjut, ketika merasakan sakit ia hanya berobat ke klinik dengan biaya BPJS serta bantuan tetangga dekat rumahnya.

Sebelumnya, ia juga pernah berupaya dengan pengobatan kemoterapi tapi berefek ke tubuhnya dan merasakan kondisi badan tidak stabil. Tidak hanya berefek pada tubuhnya, bahkan dari kemoterapi yang pernah ia lakukan dirinya sempat mengalami muntah darah.

"Ya begini lah kondisi saya, kalau sakitnya datang saya hanya bisa menahan dan berobat seadanya ke Puskesmas terdekat, tidak ada tindak lanjut ke Rumah Sakit labih bagus, karena saya tak punya biaya. Saya hanya bisa pasra sambil berjuang untuk anak saya," ungkapnya dengan nada lirih.***(jok)


 

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang