Jum’at, 23 Agustus 2019 20:05

Bacakan Pledoi, Terdakwa Narkotika 37 Kilogram Kupas Tuntas Kelemahan Pembuktian Penuntut Umum

Pledoi terdakwa 37 kokigram sabu di kabupaten Bwngkalis di bacakan. Terdakwa kupas terkaitlemahnya pembuktian penuntut umum.

Riauterkini - PEKANBARU - Setalah aebelumnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah membacakan tuntutan beberapa waktu lalu, hari ini nota pembelaan dari terdakwa dibacakan dalam persidangan yang dilangsungkan di Kejaksaan Negeri Bengkalis. Pledoi ini dibacakan langsung oleh salah satu terdakwa Suci Ramadianto.

Dalam pembacaan pembelaan itu, Suci beberapa kali sampai bersumpah kepada Allah SWT bahwa dirinya tidak bersalah dan tidak melakukan jual beli barang haram tersebut. Malahan ia juga sempat bersumpah bahwa jika dia memang benar benar bersalah maka dia siap menerima azab tujuh turunan, namun jika ternyata kesaksiannya benar bahwa dia tidak bersalah maka penuntut umum, penyidik dan semuanya yang terlibat disumpah kena azab tujuh turunannya.

Terdakwa juga menceritakan bagaimana proses awal sampai proses pengadilan dimana terdakwa sangat merasa di dzolimi. Begitupun dengan terdakwa lainnya telah membacakan pembelaan pribadinya masing-masing dengan khusyuk dan serius dengan khidmat.

Kuasa Hukum Terdakwa, Achmad Taufan bersama Ratho Priyasa menyampaikan bahwa Ia turut terharu dan sedih dengan penyampaian pembelaan terdakwa.

"Pledoi ini kami bacakan hampir tiga jam tidak setengah - setengah mengingat perkara ini sangat serius demi mencari kebenaran materil. Dalam pledoi kami kupas tuntas tentang betapa lemahnya pembuktian penuntut umum dalam perkara yang akan menghilangkan tiga nyawa manusia tersebut," terangnya.

Isi pledoi tersebut diantaranya yakni secara tegas dan menyakinkan diatas sumpah seluruh terdakwa mencabut berita acara pemeriksaan (BAP) kepolisian di muka persidangan dan tidak terbantahkan oleh Penuntut Umum. Sudah sangat jelas dan terang bahwa Terdakwa Suci Ramadianto tidak ada kaitannya dengan penemuan narkotika 37 Kg di dalam pompong tersebut.

Dalam pledoinya, dijelaskan bahwa sebelum ditemukan narkotika tersebut terlebih dahulu petugas Polairud melakukan penggeledahan yang disaksikan seluruh terdakwa dan terbukti tidak ditemukan barang mencurigakan berupa narkotika jenis sabu seberat 37 kilogram dan terbukti juga saat para terdakwa diizinkan oleh petugas Polairud tersebut untuk membeli minyak. Kemudian tidak adanya alat bukti yang membuktikan hubungan hukum, seperti komunikasi antara terdakwa Suci dengan terdakwa lainnya.

Selanjutnya, dalam pebelaan pihaknya juga menilai bahwa tidak bisa dibuktikan bahwa ada transaksi cash atau transfer dari terdakwa Suci Ramadianto kepada seluruh terdakwa ataupun kepada oknum yang masih DPO, yang kemudian penuntut umum terjebak pada tuntutannya dengan membuat alur cerita bahwa terdakwa Suci dapat pesanan narkotika dari Iwan yang saat ini di Lapas Rajabasa Lampung.

"Kita juga sempat minta secara tegas kepada penuntut umum untuk menghadirkan Iwan dalam persidangan. Namun penuntut umum mengatakan "sesungguhnya penuntut umum tidak tahu apakah Iwan ini ada orangnya ataukah Iwan ini hantu". Ini sebuah ironi dan semestinya menjadi catatan hukum yang penting bagi kita semua ketika penuntut umum dengan percaya diri meminta agar terdakwa dihukum mati atas sesuatu tindak pidana antara terdakwa dan seseorang bernama Iwan sementara penuntut umum ragu apakah sosok Iwan ini manusia atau hantu. Bahkan tidak tertuang dalam BAP, tidak juga berstatus (DPO) dari kepolisian," Bebernya.

Ia menyimpulkan, bahwa tuntutan hukuman mati kepada tiga terdakwa dan dua puluh tahun kepada dua terdakwa lainnya merupakan tuntutan yang luar biasa fantastis namun dengan pembuktian yang sangat biasa dan lemah. "Tuntutan yang bukan main namun dalam pembuktian kesalahan terdakwa penuntut umum main-main. Misalnya dari tidak adanya petunjuk yang membuktikan bahwa para terdakwa bersalah dan masih banyak lagi kelemahan - kelemahan pembuktian penuntut umum yang kami ungkapkan dalam Pledoi yang dijabarkan secara terperinci sesuai fakta pemeriksaan dalam persidangan di atas sumpah dan terbuka dihadapan yang mulia Majlis Hakim, penuntut umum, penasehat hukum dan para pengunjung sidang dari pemeriksaan saksi-saksi, saksi ahli, terdakwa, verbal lisan," paparnya.

"Kemudian tidak adanya pemeriksaan alat bukti dalam persidangan oleh penuntut umum, serta yang tidak kalah fatalnya bahwa saksi kunci Sorfia dan Suhairi yang menemukan Narkotika tersebut tidak dihadirkan oleh penuntut umum. Lanjut, tidak dibacakan di bawah sumpah dalam persidangan, serta saksi Verbal Lisan hanya satu yang dihadirkan yaitu yang memeriksa terdakwa Suci Ramadianto, sedangkan pemeriksa untuk terdakwa lainnya tidak dapat dihadirkan, padahal sangat penting untuk dihadirkan mengingat seluruh terdakwa lainnya turut mencabut BAP dalam persidangan," Tambahnya lagi.

Taufan berkayakinan, dari semua pembuktian fakta persidangan yang direkam dengan jelas para terdakwa tidak terbukti bersalah dalam penemuan narkotika sebanyak 37 kilogram tersebut.

"kami berkeyakinan bahwa Majelis Hakim yang mulia akan mempertimbangkan semua nota pembelaan kami dengan tuntutan penuntut umum sesuai fakta pemeriksaan di persidangan. Sehingga dapat menemukan kebenaran materil dalam perkara ini yang kami yakini bahwa para terdakwa tidak bersalah dan layak diputuskan dengan putusan bebas," harapnya.

Sidang ini informasinya akan dilanjutkan dengan pembacaan bantahan JPU atas pledoi pada Senin mendatang. Sementara setelahnya kuasa hukum juga akan langsung diminta membacakan duplik atas replik penuntut umum. Sementara putusan diperkirakan akan dilaksanakan pada Kamis minggu depan.***(rul)


 

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang