Senin, 19 Agustus 2019 11:41

Pintu Masuk Diblokir, PT Adei Plantation di Pelalawan Didemo Sekelompok Warga

Sejumlah warga Pelalawan memblokir pintu masuk areal PT Adei Plantation. Perusahaan dituding tanam sawit di lahan warga.

Riauterkini-PANGKALANKERINCI- Sekelompok massa dari desa Batang Nilo, kecamatan Pelalawan menggelar unjuk rasa didepan akses pintu masuk PT Adei Plantation  Senin (19/8/19).

  Aksi unjuk rasa ini, digelar didepan akses utama PT Adei tepatnya didesa Kemang, kecamatan Pangkalan Kuras dengan cara membentang sepanduk dan menutup akses pintu masuk perusahaan asal negara asing ini. Pemicu unjuk rasa ini ditengarai pihak perusahaan menanam kebun kelapa sawit di pokok kepung Sialang milik masyarakat setempat.

Dari spanduk berwarnaputih, lebar satu penter dan panjang kurang lebih delapan meter, nyaris menutupi semua akses pintu masuk PT Adei Plantation. Pada badan spanduknya, bertuliskan warna merah dengan tulisan huruf besar, 'PT Adei P 8 I, menanam sawit diatas lahan kepong Sialang 8 hektar, Kembalikan hak kami!!," tulis isi pesan dispanduk dipajang massa.

Akibat unjuk rasa ini, aktivitas mobil pengangkut CPO perusahaan mendadak berhenti. Massa memberikan toleransi dan mempersilah mobil-mobil pengangkut Tandan Buah Segar (TBS) dari luar menuju Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik perusahaan.

Erzefen selaku koordinator aksi, mengatakan unjuk rasa ini, dimotori oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Peduli Riau. Kata dia, aksi ini berawal dengan tindakan semena-mena yang dilakukan PT Adei Plantation terhadap lahan milik masyarakat.

Termasuk penanaman kebun kelapa sawit dilahan seluas delapan hektar yang didalamnya, kata Erzefen merupakan pokok Kepung Sialang. Aksi penanaman sawit di Kepung Sialang sebutnya, adalah sebuah kejahatan lingkungan.

Secara rinci, Erzefen menjelaskan bahwa PT Adei ini menanam sawit dilahan Kepung Sialang, di desa Batang Nilo kecamatan Pelalawan seluas 9,5 hektar dan sekarang hanya tersisa 1,5 hektar.

Lahan ini tegas dia sesungguhnya, atas ahli waris Ibrahim alias Nantan. Ironisnya, lagi, lahan kepung Sialang seluas 8 hektar sudah ditanami kelapa sawit semenjak tahun 2000. Ia mendesak, agar lahan yang sudah digarap agar dikembali lagi, seperti sedia kalah dan meminta agar pihak perusahaan membayar kompensasi.

Bahkan sebelum digelar aksi ini, sebut Erzefen sudah dilakukan pendekatan kepada pihak perusahaan dengan cara memediasi melibatkan kepala desa Batang Nilo, akan tetapi pihak perusahaan menganggap atas nama Nantan itu, tidak memiliki kekuatan hukum dengan alasan surat ahli waris bukan alas hak.

"Mereka ini kan tidak tahu, tatanan adat kita ini, dia (perusahaan red) bukan lahir disini, ketuban pecah disini. Jadi jika ketuban pecah disini pasti mereka tahu," tegas Erzefen.

Ditempat terpisah Humas PT Adei Plantation, Budi Simanjutak memberikan penjelasan singkat tentang aksi unjuk rasa yang dilakukan sekelompok massa ini. Menurutnya, sudah ada surat yang diterbitkan pada tahun 1986 yang berisikan tentang keterangan masalah Kepong Sialang.

"Kepong Sialang itu berada di dalam wilayah desa Telayap (milik persukuan) semua permasalahan baik lahan, kuburan dan Sialang, sudah pernah diselesaikan tahun 1991 dan tahun 1999," tulis Budi Simanjutak melalui pesan singkat WhattsAppnya.

Terkait ada surat LSM yang masuk kepada pihak perusahaan, sebut Budi Simanjutak, sudah dibalas akan tetapi mereka tetap menggelar aksi damai. "Surat LSM juga sudah kita balas, yang menggelar aksi damai tersebut, tapi dari LSM tetap mau aksi," tandasnya.***(feb)


 

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang