Rabu, 14 Agustus 2019 13:12

Komisi IV DPRD Bengkalis Undang Kepala Sekolah 3 Kecamatan Bahas Isu Pungli

Para kepala sekolah di tiga kecamatan diundang Komisi IV DPRD Bengkalis. Diajak membahas isu pungutan liar.

Riauterkini - DURI - Maraknya modus baru dugaan pungutan liar (Pugli) yang dilakukan oleh oknum-oknum sekolah ramai dibahas di tengah masyarakat dan tentunya sangat meresahkan orang tua murid Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bengkalis bergerak cepat dengan menggelar hearing bersama, Selasa (13/8/19).

Dalam hearing itu, Komisi IV mengundang sejumlah Kepala sekolah (Kepsek) dari berbagai jenjang, SD dan SMP se Kecamatan Mandau, Bathin Solapan dan Pinggir serta Dinas Pendidikan terkait sumbangan sumbangan yang dilakukan pihak sekolah.

Dipimpin Ketua Komisi IV, Sofyan meminta agar sekolah tidak lagi melakukan pungutan dengan modus apapun, kecuali sumbangan suka rela dari wali murid."Kita mencari solusi terbaik, supaya jangan ada persoalan hukum di kemudian hari, kita satukan persepsi supaya nanti tidak tersandung persoalan hukum, sehinga kita perlu meminta pandangan dari kepala sekolah, Dinas Pendidikan, Polres, dan Inspektorat," terangnya.

Terpisah, perwakilan Dinas Pendidikan, Agusilfridimasil mengaku jika pihaknya telah melakukan sosialisasi larangan pungutan tersebut dengan membuat edaran ke seluruh sekolah yang tertuang pada pelaksanaan PPDB lalu sesuai dengan Permendikbud Nomor 51 tahun 2018 tentang PPDB dan telah di ubah dengan Permendikbud 20 tahun 2019 juga mencakup masalah larangan.

"Intinya kami dari Dinas Pendidikan sudah berupaya untuk mengantisipasi agar jangan ada lagi kutipan kutipan dalam sumbangan ini dan kemarin saya sudah ke lapangan sesuai hasil rapat, ada beberapa sekolah yang saya temui dan saya telah berdiskusi dengan beberapa kepala sekolah, insyaallah kami  berupaya semaksimal mungkin supaya jangan ada lagi hal seperti ini,"tegasnya.

Senada, Polres Bengkalis diwakili Kasatreskrim, AKP Andrie Setiawan menegaskan jika terbukti adanya pungli tersebut akan dilakukan penindakan sesuai aturan, seperti kejadian yang telah terjadi sebelumnya, pembuatan seragam sekolah, perpindahan siswa yang hingga saat ini masih terjadi.

"Ya, kami juga mendapat info terkait penjualan LKS ini, makanya perlu diskusi. Mungkin kita perlu membuat kajian atau standarisasi. Setelah dibuat lalu dilanggar, maka akan ada sangsi tegas. Kami akan tegakkan hukum jika terjadi pelanggaran sesuai Permendikbud nomor 44 tahun 2012 kemudian Permendikbud nomor 75 tahun 2016 yang berkaitan dengan komite sekolah. Tolong dipedomani,"pintanya.

Diakhir hearing, Wakil Ketua Komisi IV, Nanang Harianto menegaskan kembali kepada pihak sekolah agar tidak lagi memaksa kepada siswa untuk menggunakan LKS menggunakan dana pribadi.

"Jangan lagi paksa siswa untuk membeli LKS dengan dana pribadi dan jika guru masih ingin menggunakan LKS dengan tujuan meningkatkan mutu pendidikan, mestinya guru bidang studi yang membuatnya dan menggandakannya melalui dana BOS serta mengenai sumbangan, tidak ditentukan nominalnya dan tidak ada batasan waktu,"pintanya mengakhiri.*(hen)


 

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang