Selasa, 13 Agustus 2019 10:26

Praktisi Hukum Kiritisi Proyek Gedung Perpustakaan Kuansing

Pembangunan Gedung Perpustaka Kuansing dikritisi praktisi hukum. Dianggap memboroskan anggaran yang mestinya digunakan sejahterakan rakyat.

Riauterkini - TELUKKUANTAN - Praktisi hukum Kuansing Zubirman, SH menilai pembangunan Gedung Pustaka Daerah Kuansing belum urgen. Terlebih menghabiskan miliaran rupiah.

"Kita menilai ada beberapa kejanggalan yang kita cium dalam pembangunan Gedung tersebut. Terkesan dipaksakan," ujar Zubirman Selasa (13/8/2019) di Telukkuantan kepada riauterkini.com.

Dikatakan Zubirman, pembangunan Gedung ini terkesan seperti pesanan, karena masih banyak Gedung milik pemerintah yang bisa dimanfaatkan untuk penempatan pustaka. Namun, tetap juga ingin membangun Gedung baru, menurutnya termasuk janggal.

"Gedung lama masih ada, seperti Pustaka lama sebaiknya di renovasi dan lengkapi dengan fasilitas memadai tentu tidak akan mengeluarkan biaya banyak. Sementara Pembangunan Gedung baru nilainya mencapai miliaran rupiah, kan cukup mubazir. Ada apa dibalik semua itu," kata Zubirman.

Tidak hanya itu, dalam pemenangan tender proyek ini kata Zubirman juga terkesan seperti pesanan, karena apa, karena pelaksana proyek ini di tahun 2018 perna mengerjakan bangunan SDN 018 Koto Taluk, dalam perjalanannya diduga perna mengalami gagal beton meskipun diperbaiki ulang.

"Seharusnya perusahaan ini menjadi catatan bagi pemerintah. Tapi sebaliknya malahan mereka kembali memenangkan proyek dengan perusahaan yang sama, tentu ini menimbulkan kecurigaan," ungkap Zubirman.


Lebih lanjut Zubirman mengatakan, berdasarkan UU No 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi di ubah dengan UU No 21 tahun 2000 ada beberapa jenis tindak pidana korupsi.

"Antaranya menerima hadiah/ gratifikasi. Perbuatan curang dan suap menyuap. Jika proyek tersebut terindikasi seperti yang disebutkan UU ini, tentu memenuhi unsur korupsi dan penegak hukum wajib menindak lanjutinya," jelas Zubirman.

Terkait pemenangan tender proyek ini, Kabag Pembangunan Kuansing Andre Yama, selaku penangggungjawab ULP sebelumnya memastikan tidak ada permainan dalam pemenangan proyek ini.

Karena menurutnya, evaluasi berdasarkan dokumen penawaran yang disampaikan rekanan sehingga perusahaan yang memenuhi syarat lah yang ditetapkan sebagai pemenang.

Sementara pelaksana proyek Jondri Sahwana, dikonfirmasi Senin (12/8/2019) kemarin via WhatsApp terkait perusahaan yang sama memenangkan Pustaka dan SDN 018 Koto Taluk Kecamatan Kuantan Tengah, hingga kini belum memberikan jawaban. * (Jok)


 

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang