Kamis, 11 Juli 2019 12:53

Penjelasan Disnakbu Rohul Soal Anjloknya Harga Sawit

Para petani kelapa sawit menjerit karena harga tandan buah segar anjlok. Disnakbun memberi penjelasan.

Riauterkini-PASIRPANGARAIAN- Petani kelapa sawit di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) mengeluhkan‎ anjloknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit beberapa bulan terakhir.

Anjloknya harga TBS kelapa sawit yang membuat petani kebun pribadi mengeluh tersebut, Dinas Perternakan dan Perkebunan (Disnakbun) Kabupaten Rokan Hulu angkat bicara.

Plt Kepala Disnakbun Kabupaten Rokan Hulu Ir. H. Sri Hardono MM, mengungkapkan berdasarkan penetapan harga sawit ditetapkan Tim Penetapan Harga TBS kelapa sawit Provinsi Riau, untuk periode 10 Juli-16 Juli 2019, penurunan harga TBS kelapa sawit tidak terlalu signifikan, sekira Rp 32,41/ kilogram (kg) untuk sawit umur 10-20 tahun.

Menurut Hardono, harga ditetapkan tim provinsi seharusnya menjadi standar harga pembelian TBS kelapa sawit di seluruh Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang ada di Provinsi Riau.

Meski sesuai penetapan tim provinsi harga TBS sawit tidak anjlok signifikan, namun fakta di lapangan petani sawit kebun pribadi di Kabupaten Rokan Hulu mengungkapkan, harga jual TBS sawit‎ ke toke atau pengepul berkisar Rp500 sampai Rp720 per kg.‎

Hardono mengaku harga TBS sawit berkisar Rp500 sampai Rp720 per kg pada umumnya dialami petani status kebun pribadi, bukan petani yang telah bekerjasama atau bermitra dengan perusahaan.

Hardono mengungkapkan ada tiga faktor yang mempengaruhi anjloknya harga TBS sawit kebun pribadi, salah satunya adalah masih rendahnya rendemin TBS sawit, karena perawatan yang belum sesuai standar.

‎Selanjutnya, petani juga harus mengeluarkan biaya lansir. Karena lokasi kebun yang jauh, sehingga petani menjual TBS sawit ke pengepul, dan tentunya harga di bawah harga PKS.

"Karena panjangnya alur distribusi ini yang menyebabkan biaya yang dikeluarkan petani untuk menjual ke pabrik semakin besar, sehingga berdampak terhadap harga jual TBS sawit mereka," jelas Hardono, Kamis (11//7/2019).

Hardono menyarankan petani sawit kebun pribadi segera mengurus Surat Tanda Daftar perkebunan (STDP) mereka, sehingga TBS sawit bisa dijual ke PKS langsung, dan PKS tidak bisa menekan harga.

Selain itu, Hardono mengaku secara global harga TBS sawit memang mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena anjloknya harga crude palm oil (CPO), khusunya CPO dari Indonesia.

Ada beberapa penyebab anjloknya harga CPO dari Indonesia, salah satunya banyaknya perusahaan, khususnya di Kabupaten Rokan Hulu yang belum memiliki Sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO), sebagai standarisasi tata kelola sawit berkelanjutan.‎

ISPO ini, sambung Hardono, telah diatur tata kelola usaha perkebunan sawit yang menjamin produksi dan tetap mengedepankan aspek-aspek lingkungan, seperti tidak berada di kawasan hutan, pembukaan lahan yang ramah lingkungan serta tidak dilakukan dengan cara membakar, dan lain sebagainya.

Menurutnya lagi, konsumen di luar negeri bisa dikatakan kritis. Mereka kerap menanyakan legalitas CPO, dan bila tidak legal mereka enggan membelinya.

"Nah ISPO ini semacam bukti, tapi faktanya di Rokan Hulu saja baru beberapa perusahaan yang punya ISPO. Dan yang tak punya ISPO, mereka menjual CPO ke perushaaan yang telah punya ISPO dengan harga murah. Ujung-ujungnya perusahaan yang tak punya ISPO ini tekan harga TBS," pungkas Kadisnakbun Rokan Hulu, Sri hardono.***(zal)


 

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang