Senin, 18 Maret 2019 12:01

Frustasi Dilarang Ikut Ujian Pemicu Siswa Pukul Kepsek di Inhu

Seorang siswa dilaporkan ke polisi karena memukul kepala sekolahnya. Ia frustasi dilarang ikut ujian karena nunggak iuran.

Riauterkini-RENGAT-Peristiwa pemukulan terhadap kepala sekolah (Kepsek) yang dilakukan siswa nya sendiri di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), ternyata berawal dari dilarang nya sang siswa untuk mengikuti Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), akibat belum melunasi tunggakan uang sekolah dan iuran OSIS sampai bulan Juni 2019.

Terungkapnya pelarangan terhadap hak siswa untuk mengikuti ujian hingga berujung pemukulan terhadap Kepsek SMAN 2 Rakit Kulim Bambang Fajrianto, diungkapkan sang siswa Adrinata (19) murid kelas III SMAN 2 Rakit Kulim kepada awak media, Ahad (17/3/19) di rumah nya di Desa Petonggan Kecamatan Rakit Kulim, Inhu.

"Saat itu saya disuruh keluar oleh guru bernama Yana, silahkan keluar kamu gak boleh ikut ujian sebelum tunggakan uang sekolah dan iuran osis lunas sampai bulan Juni, kata guru tersebut," ujarnya.

Diusir seperti itu, Adrinata yang sangat ingin ikut ujian untuk menyelesaikan sekolah nya demi meraih cita-cita nya merasa kesal hingga telontar ucapan dari mulutnya bahwa sekolah ini benar-benar tidak punya toleransi. Ternyata lontaran ucapanya tersebut menyulut emosi dan membuat Kepsek Bambang Fajrianto yang berada tidak jauh dari diri nya.

"Gaya Pak Bambang marah kayak preman, makanya saya ajak duel satu lawan satu. Saya disuruh memukul, tapi saya cuma mencekik lehernya saja. Itupun karena kesal," tegasnya.

Peristiwa tersebut membuat Adrinata menyesal dan mengaku khilaf karena telah memukul Kepseknya sendiri, namun dirinya merasa dihina oleh guru dan Kepsek nya hingga pemukulan tersebut terjadi.

Sementara itu ibu Adrinata, Farida mengungkapkan bahwa pada Rabu (13/3/19) pagi dirinya telah datang ke SMAN 2 Rakit Kulim untuk melunasi tunggakan uang sekolah anaknya sebesar Rp740 ribu. Namun, karena dirinya hanya punya uang Rp500 ribu, maka dia kembali ke rumah untuk mencari pinjaman dari tetangga.

"Waktu saya pulang itulah peristiwa ini terjadi. Saya pulang karena mencari pinjaman Rp 240 ribu untuk melunasi uang sekolah, saat kembali lagi ke sekolah saya lihat anak saya sudah berkelahi dengan kepala sekolahnya. Saat itu saya langsung minta maaf sama kepala sekolah, tetapi kepala sekolah tetap mau melaporkan anak saya ke polisi," ungkapnya.

Farida mengakui anak bungsunya ini sedikit sensitif bila ada orang yang menghujat ayahnya yang telah meninggal dunia pada 2017, lalu. Dirinya mudah tersinggung kalau ada yang menghujat mendiang ayahnya, karena Adrinata sangat sayang sama ayahnya. Dan berharap kepala SMAN 2 Rakit Kulim Bambang Fajrianto dapat memafkan anaknya dan tidak melanjutkan kasusnya ke ranah hukum.

"Kami sudah berupaya meminta maaf pada pak Bambang, tapi beliau tidak mau memaafkan. Jika kasus ini berlanjut biarlah saya yang dipenjara, jangan anak saya. Dia masih punya masa depan untuk melanjutkan hidupnya," jelasnya

Sementara itu menyikapi peristiwa yang terjadi di SMAN 2 Rakit Kulim, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Propinsi Riau, Rudianto dengan didampingi Kabid Aidil hari ini langsung meluncur ke SMAN 2 Rakit Kulim, untuk mengetahui persoalan yang menjadi penyebab peristiwa tersebut terjadi.

"Ini lagi di jalan bersama Pak Kadis meluncur ke Rakit Kulim, Inhu untuk mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya terjadi. Apa yang menjadi penyebab nya nanti kami caru tau dengan memanggil kedua pihak untuk didengar keterangan nya masing-masing," ucap Kabid Aidil saat dikonfirmasi riauterkinicom melalui selulernya. *** (guh)


 

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang