Rabu, 13 Maret 2019 18:27

UAS Datang Penuhi Panggilan, Terdakwa Ganti Mangkir Bersidang

Sidang kasus penghinaan terhadap Ustaz Abdul Somad kembali batal. Pasalnya terdakwa berhalangan hadir karena sakit.

Riauterkini-PEKANBARU-Sempat tiga kali tidak hadir sebagai saksi dipersidangan perkara Penghinaan di media sosial (Medsos). Rabu (13/3/19) siang Ustaz Abdul Somad atau lebih akrab disapa UAS. Datang ke Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru, memenuhi panggilan jaksa.

Namun, kedatangan UAS sekitar pukul 13.30 WIB kepengadilan hanya sebentar dan kembali pulang. Sebab, persidangan kasus penghinaan terhadap dirinya, batal dilaksanakan. Karena terdakwa Joni Boyok, yang berhalangan datang dikarenakan sakit.

" Hari ini saksi korban UAS datang untuk memberikan keterangan. Namun, terdakwanya Joni Boyok yang tidak datang, dikarenakan sakit," ujar Syafril SH, selaku jaksa penuntut perkara ini kepada riauterkini.com diluar ruang sidang.

Selanjutnya setelah berkoordinasi dengan majelis hakim, akhirnya sidang ditunda pekan depan. Dan saksi UAS kebetulan ada kegiatan di Belilas, Indragiri Hulu, langsung berangkat.

Untuk diketahui, Joni Boyok, pelaku penghinaan terhadap UAS tidak dilakukan penahanan kurungan badan. Dia diadili atas penghinaan terhadap UAS di media sosial akun Facebook (FB).

Perbuatan Joni Boyok itu terjadi pada tanggal 02 September 2018 lalu. Dimana pada cuitannya di FB pada pukul 12:00 Wib. Terdakwa memposting kata kata penghinaan.

" Somad biadab, keturunan dajal. Kelakuan kejahatanmu melebihi setan," demikian cuitan JB di akun sosial media milik Joni Boyok.

Cuitan Joni Boyok itu langsung membuat membuat masyarakat Riau resah, dan Front Pembela Islam (FPI) Pekanbaru bergerak cepat langsung mencari keberadaan akun FB yang penghinaan terhadap UAS

Atas perbuatan terdakwa membuat kata cuitan penghinaan itu. Terdakwa dijerat dengan Pasal 27 ayat (3) Jo Pasal 45 ayat (3) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE.

Yang mana disebutkan, setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik. Ancaman hukuman empat tahun dan atau denda Rp750 juta.***(har)


 

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang