Ahad, 10 Pebruari 2019 09:56

Kuansing Punya Potensi Wisata Komplit, Semua Pihak Harus Komit Mengembangkannya

Destinasi wisata di Kuansing tak sekedar panorama alam, tapi juga peninggalan sejarah dan tradisi. Karena itu perlu komitmen mengembangkannya.

Riauterkini - TELUKKUANTAN - Berbicara masalah wisata, Kabupaten Kuantan Singingi, tidak hanya memiliki wisata alam dan tradisi. Namun, ternyata lebih dari itu dan lebih menarik lagi, bahkan memiliki nilai historis yang tinggi, yakninya wisata sejarah.

Jika dirunut ke belakang objek wisata sejarah yang dimaksud ini adalah rel kereta api di Lubuk Ambacang, Kecamatan Hulu Kuantan, menuju Pekanbaru, yang dibangun masa pendudukan Jepang di Indonesia.

Rel kereta api ini, ketika dibangun, tentara Jepang mempekerjakan pasukan Belanda, sebagai romusa yang merupakan tawanan mereka kala itu. Kini, rel kereta api tersebut, hanya tinggal menjadi saksi kekejaman tentara Jepang, dimasa lampau.

Kedepannya pihak Pemkab Kuansing dan pihak Pemprov Riau, berencana akan mengemas tempat bersejarah ini, untuk dijadikan sebagai objek wisata sejarah melalui Dinas Pariwisata.

Rencana ini, sudah dibicarakan Pemkab bersama Pemprov dan asosiasi bidang kepariwisataan di Riau, Jum'at (8/2/2019) lalu, di Pekanbaru, dengan menggelar Audensi dalam bentuk diskusi.

Dalam diskusi tersebut, dibahas bagaimana tentang cara mengembangkan dan mengelola destinasi wisata secara konferehensip yang ada di Kuansing, baik itu yang ada di alam, tradisi budaya, serta wisata sejarah untuk bisa dijadikan bernilai jual tinggi.

Sehingga nantinya, bisa menarik minat wisatawan datang ke Kuansing. Setidaknya untuk wisata alam berupa air terjun ada 23 titik dimiliki Kuansing. Kemudian ekowisata, seperti hutan bukit Rimbang Baling, memucuak atau menangkap ikan setahun sekali, pemandian air panas, hutan Kota dan rumah godang yang tersebar di beberapa Koto di Kecamatan, Kuansing.

Sedangkan tradisi budaya seperti pacu jalur yang bisa dikemas untuk go Internasional, karena dapat menghadirkan ribuan pengunjung. Dan lebih medalam lagi secara kebatinan silat Pangean, tradisi ini pernah dikembangkan Edy Jufri, sampai ke Amerika, serta perahu beganduang, terakhir yang tak kalah menariknya wisata sejarah peninggalan penjajahan dimasa Jepang.

Untuk wisata sejarah ini, sebelumnya, Ketua Gompi Riau, beberapa kali telah membawa wisatawan asal Belanda, untuk melihat rel kereta api ini. Bahkan kata dia, wisatawan Belanda ini, langsung ingin melihatnya ke lokasi untuk memastikan kondisinya ketika itu, sebab, menurut Gompi, mereka merasa bagian dari sejarah dimasa kelam tersebut.

Agar wisata di Kuansing ini, bisa berkembang dan dapat terkelolah dengan baik pihak Dinas Pariwisata dan Asosiasi Riau, menyarankan agar manggandeng pihak swasta, kemudian membuat kalendar pariwisata 1 Tahun sebelum pelaksanaan, seperti pacu jalur. Selanjutnya untuk lokasi Tepian Narosa, mereka meyarankan agar ditata dengan rapi dengan menghilangkan terpal hijau supaya diganti atap sagu agar terlihat lebih natural.

Hadir dalam acara ini, Bupati Drs H Mursini, Wakil Ketua I DPRD Sardiyono, A, M.d, M, Si, Sekda DR. Dianto Mampanini SE, MT, Kadis Pariwisata dan Kebudayaan DR. Indrasuandi, ST. MT, dan Kepala OPD terkait. Dari Dinas Provinsi Riau langsung dihadiri Kadis Pariwisata Provinsi Riau Fahmizal Usman. Sedangkan dari Asosiasi Kepariwisataan tampak hadir Indonedia Chef Asosiation, Bangun Suryoto, Ketua Asosiasi Peramu Wisata Indonesia Osvian Saputra, Ketua Lembaga Sertifikasi Nasional.** (Jok)


BERITA TERKAIT :

 

Loading...

 

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang