Selasa, 5 Pebruari 2019 19:22

Bergabung di Sekolah Lapang BRG, Badri Tuai Hasil Lebih Maksimal

Sekolah Lapang program Badan Restorasi Gambut atau BRG cukup memberikan manfaat bagi masyarakat. Seperti Badri yang berdomisili di desa Buatan Lestari, Kecamatan Bunga Raya, Siak.

Riauterkini - PEKANBARU - Badri adalah salah satu petani yang sebelumnya berkesempatan mendapatkan pelatihan khusus di Sekolah Lapang yang di programkan BRG. Dimana saat ini Dadri dapat mengembangkan berbagai teori pelatihan yang didapatkannya beberapa waktu lalu di program Demplot BRG.

"Alhamdulillah, saya bersama petani lain sudah dapat memaksimalkan lahan gambut untuk bercocok tanam tanaman holtikultura. Seperti yang saya tanam saat ini yakni cabai," katanya.

Dikatakan Badri, sebelumnya lahan seluas hampir 1 hektare yang jini ditanami cabai ini merupakan lahan gambut, yang kurang potensial untuk ditanami tanaman holtikultura seperti yang dia tanam. Namun, dengan pengolahan yang benar, kesuburan tanah meningkat dan membuahkan hasil yang cukup bagus.

"Banyak ilmu yang kita dapat dari Sekolah Lapang. Salah satunya yakni membuat tanah gambut lebih subur. Diantaranya menggunakan magnesium oksida atau menggunakan bahan organik seperti batang pisang, enceng gondok, jagung atau bahkan pelepah sawit untuk mengurangi zat asam pada lahan gambut," terangnya.

Hal ini telah diterapkannya di lahan yang kini ditumbuhi cabai dan siap panen. Dia menggunakan cacahan batang pisang yang ditebar di lahan sebelum dilakukan penenaman bibit cabai. Bahkan untuk melihat kesiapan lahan, Ia sebelumnya menanam sawi di lahan tersebut. Gunanya untuk melihat kadar zat asam di lahan gambut tersebut.

"Kalau sawinya gak tumbuh atau tumbuh tapi gak bagus berarti zat asamnya masih tinggi," terangnya.

Menurutnya, tidak ada kesulitan yang sangat berarti bagi Badri dan 14 rekannya sesama petani yang tergabung di kelompok tani Sumber Rezeki. Hanya memang membutuhkan alat untuk mencacah batang pisang. "Saat ini kira masih menggunakan cara manual. Tapi kalau lahannya semakin luas tentu semakin sulit tanpa peralatan," tuturnya.

Fasilitator Desa Peduli Gambut (DPG) Buatan Lestari, Sofia Ningsih menjelaskan keberhasilan kelompok tani Sumber Rezeki cukup menjadi contoh dan wadah belajar bagi petani lain. Tak sedikit, Ia bersama petani berdiskusi dalam pengelolaan lahan gambut untuk pertanian.

"Adanya Demplot ini sendiri sangat bermanfaat bagi petani yang ada disini. Kita bisa berbagi pengalaman, berbagai ilmu khususnya dibidang pertanian tanaman holtikultura," katanya.

Lanjutnya, 15 orang petani dalam kelompok tani ini juga menanam tanaman yang berbeda. Seperti jagung, pare, kacang panjang, cabai, timun dan sebagainya. Dimana hasil pertanian ini dijual.

Sementara, Anderi Satya selaku Kepala Sub Kelompok Kerja Informasi BRG yang turut menyaksikan langsung hasil Demplot milik Badri, Senin (04/02/19) mengatakan sangat apresiasi kepada kelompok tani Sumber Rezeki ini. Menurutnya ini dapat menjadi contoh bagi petani yang berdiam di lahan gambut.

"Pak Badri ini adalah salah satu kader yang berhasil. Dimana sebelumnya memang Ia mengikuti bimbingan di Sekolah Lapang selama 1 minggu," katanya.

Dijelaskan, di Sekolah Lapang sendiri, BRG menghadirkan 9 bimbingan materi utama. Seperti pengelolaan assesmen, petani organik, pengolahan pupuk organik, pengolahan tanpa bahan kimia dan yang paling penting yakni pengolahan atau pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) di lahan gambut.

"Ini adalah upaya kita untuk membantu petani dalam memaksimalkan pemanfaatan lahan gambut. Tentu juga dalam meningkatkan perekonomian mereka. Bukan hanya disini, program ini juga terlaksana di daerah lain," singkatnya.***(rul)


 

Loading...

 

BERITA TERKAIT :

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang