Jum’at, 14 September 2018 13:54

Pengembangan Benteng Tujuh Lapis Tuanku Tambusai di Rohul Membutuhkan Waktu

Benteng Tujuh Lapis di Rokan Hulu, tengah diteliti Balai Pelestarian Cagar Buaya Sumatera Barat untuk dikembangkan. Butuh waktu lama untuk mengembangkan benteng itu hingga menarik untuk dikunjungi.

Riauterkini-PASIRPANGARAIAN- Benteng Tujuh Lapis‎ berlokasi di Kelurahan Tambusai, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) merupakan salah satu bukti perjuangan Tuanku Tambusai, salah seorang Pahlawan nasional.

Benteng Tujuh Lapis atau biasa disebut masyarakat Benteng Aur Berduri atau Bambu Berduri mempunyai nilai sejarah dan perjuangan, sehingga perlu diabadikan dan diwariskan kepada generasi penerus bangsa.

Benteng yang berada dekat jalan lintas provinsi Riau-Sumatera Utara memang kelihatan sederhana, hanya berupa gundukan tanah yang tinggi.‎

Untuk kondisi terkini, Benteng Tujuh Lapis bukanlah suatu bangunan istimewa, namun jika kondisi di tahun 1784-1882 atau 1,5 abad silam, dalam kondisi dan suasana dijajah waktu itu, semua tentunya akan sepakat jika cagar budaya nasional ini merupakan suatu hal yang luar biasa dan monumental.

Meski sudah ditetapkan cagar budaya nasional,‎ namun lokasi bersejarah ini belum dikembangkan sesuai ketinggian nilainya. Hal inilah yang menjadi pertanyaan besar banyak orang.‎

Berbagai usaha dan terobosan telah dilakukan Pemerintah Provinsi Riau dan Pemerintah Kabupaten Rohul selama ini, namun masih menemukan kendala dan hambatan, khususnya menyangkut aturan dan peraturan perundangan tempat yang berkaitan dengan cagar budaya.

Penantian panjang yang telah berlangsung dua dekade sangat diharapkan segera menemukan cahaya terang dan harapan agar Benteng Tujuh Lapis dapat dikembangkan.‎

Apalagi berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya memberikan solusi tiga langkah yang harus dilaksanakan untuk memberikan perlakuan kepada benda cagar budaya, pertama Studi Kelayakan Revitalisasi, kedua Rencana Induk Pelestarian, dan ketiga Pelaksanaan Pengembangan atau Pembangunan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Rohul Drs. Yusmar M.Si, mengatakan saat ini Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat yang dulunya bernama BPCB Batu Sangkar tengah melaksanakan tahap pertama yaitu studi kelayakan untuk pengembangan Benteng Tujuh Lapis.

Studi kelayakan dipimpin Yusfahendra Bahar, S.S, Koordinator Pengembangan dan Pemanfaatan BPCB Sumatera Barat, dan anggota Defrian Saputra. ST, diharapkan Yusmar nantinya menghasilkan rekomendasi tentang tindakan pelestarian objek sebagai cagar budaya.

Studi kelayakan ini, sambung Yusmar, nantinya akan memberikan rekomendasi antara lain perlunya Rencana Induk Pelestarian atau masterplan khusus, kajian zonasi dan deliniasi (kawasan inti, penyangga, pengembang dan penunjang), revitalisasi objek dan kajian sosial budaya.

Hasil ini juga akan merekomendasikan apakah objek perlu dikaji secara arkeologi, melibatkan Balai Arkeologi di Medan atau sisi pelestarian nilai budaya dilakukan BPNB atau Balai Pelestarian untuk wilayah Riau Kepri berada di Tanjung Pinang.

Ketua Tim Survei Hendra mengatakan kendala Benteng Tujuh Lapis belum dikembangkan maksimal karena kemampuan keuangan. Diakuinya, untuk pengembangan cagar budaya ini sebenarnya menjadi tanggungjawab pemerintah pusat, provinsi dan daerah.

Khusus untuk cagar budaya yang ada di Kabupaten Rohul, jelas Hendra, sebenarnya telah dimulai dari tahun 2006 silam, dan dilanjutkan dengan pendataan dan pemetaan di tahun 2009, namun setelah itu kegiatan terputus, dan baru sekarang dilakukan studi kelayakan di benteng kebanggaan milik masyarakat Rohul ini.

Menurut Hendra, pengembangan cagar budaya sendiri juga tergantung kepada sejauh mana daerah punya perhatian dan kepedulian tentang hal ini.‎

Apalagi, tambah Hendra, menyangkut cagar budaya jika ditinjau secara ekonomis hasilnya memerlukan waktu lama, apalagi cagar budaya dapat digunakan sebagai salah satu pewaris dan penanaman karakter anak bangsa.

Setelah tahap kedua dilaksanakan, baik oleh pemerintah pusat, provinsi atau kabupaten, jelas Hendra, maka Benteng Tujuh Lapias baru dapat dilaksanakan pengembangan atau pembangunan fisik dan non fisik melalui perencanaan teknis.‎ Pengembangan sendiri masih memerlukan waktu.

Hendra sangat berharap Benteng Tujuh Lapis yang dilengkapi aur berduri ini dijadikan tidak saja sebagai sebuah kebanggaan, melainkan sebagai suatu bukti perjuangan, serta tingginya peradaban Rohul, sehingga perlu dijaga dan dipelihara bersama agar tetap lestari.***(zal)


BERITA TERKAIT :

 

Loading...

 

 
riauterkini.com © 2003-2017 "Memantau Riau Detik Perdetik"
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang